Tolak Bala dengan Kethoprak

BANYAKNYA bencana di Bumi Pertiwi, membuat orang berlomba-lomba mencari formula tepat mengatasinya. Yang paling banyak digagas: kembali ke tradisi. Dekat dengan alam. Memperbanyak sedekah dan ritual bumi.

Konsep yang sebenarnya sudah ada sejak dulu, kembali dilirik. Dipandang logis dan mungkin bisa mengatasi masalah. Maka, di tengah munculnya bencana alam di berbagai tempat, dibentuklah grup ketoprak lesung tolak bala.

Bukan tanpa alasan atau sekadar cari sensasi. Komunitas ini memang benar-benar dibikin untuk mengantisipasi bencana alam. Menolak bala.

“Awalnya, kita hanya ngetoprak biasa. Tapi setelah kita ketemu Mas Lephen, diarahkan seperti sekarang,” kata Rubidi, personel grup Ketoprak Lesung Tolak bala Masyarakat Adat dan Tradisi Ritual Menoreh Kulonprogo.

Lephen Purwaraharja, Dosen Teater ISI Yogya, memang berada di balik layar. “Lewat ketoprak ini, orang yang mungkin anaknya sakit, bisa bernadzar agar sembuh.



Dalam pentas ini, juga ada doa. Doa itulah yang kita harapkan bisa menghindarkan bencana,” kata Lephen.

Kesenian memang tak lepas dari ritual bumi. Setiap digelar acara tradisi seperti itu, bersih desa misalnya, kadang disisipi pentas wayang kulit atau jatilan. Bahkan wayang kulit, dipercaya sebagian kalangan bisa menjadi sarana meminta hajat. Jika ketoprak akhirnya dilarikan ke situ, tak berlebihan.

Menurut Mbah Amat, rois Dusun Sendangrejo Purwoharjo Sami-galuh Kulonprogo —yang terlibat di ketoprak ini— agar permohonan dikabulkan, doa dilengkapi ubarampe. Seperti kambing, nasi tumpeng lengkap jajan pasarnya. “Pokoknya sama de-ngan kalau selamatan. Biar lebih cepat terkabul,” kata Mbah Amat yang kebagian peran sebagai pendoa tiap ketoprak ini tampil.

Benarkah benca-na bisa diantisipasi lewat cara ini? Entahlah. Yang pasti, doa merupakan sarana paling pas untuk memohon hajat kepada Sang Pencipta.

PS: Kethoprak dalam hal ini bukan makan, tapi seni pentas Jawa

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »