Peristiwa Rene Conrad-Mahasisw ITB Tahun 1970

Peristiwa Rene Conrad-Mahasisw ITB Tahun 1970

Add Comment
Hanya di Indonesia -mahasiswa itb78
jenazah rene conrad:

pengatar jenazah rene conrad:

ibu rene conrad menunjuk Irjen awaludin jamin


http://skullers.tf.itb.ac.id/forum/v...hp?f=89&t=1299


Bagaimana peristiwa Rene Conrad terjadi? Latar belakang peristiwa sebenarnya kompleks, dan dibayang-bayangi perpecahan aliansi mahasiswa-ABRI, yang sudah dibangun sejak gerakan penjatuhan Soekarno pertengahan tahun 1966. Jadi begini ceritanya...

Sejak Soeharto menjadi Presiden di tahun 1968, aliansi Mahasiswa-ABRI sudah mulai retak, karena ketidaktegasan Soeharto dalam kasus G-30-S, dimana Soekarno dianggap terlibat. Kekecewaan mahasiswa mulai terlihat dalam soal status hukum Soekarno, ditambah dengan mulai adanya korupsi di Pertamina (dipimpin Mayjen Ibnu Sutowo) dan Bulog (dipimpin Mayjen Ahmad Tirtosudiro).

Kekecewaan soal dugaan korupsi ini tidak ditanggapi dengan serius oleh Soeharto, bahkan ditanggapi dengan kecaman terhadap orang2 yang menentang kebijakan tak tegasnya. Segera konflik ini berkembang menjadi konflik Mahasiswa pasca '66 dan Mahasiswa aktivis'66, ditandai dengan Soe Hok Gie dan kawan-kawan mengirimkan peralatan wanita kepada anggota DPR-GR wakil mahasiswa, pertanda bahwa mereka lebih baik berdandan cantik daripada menyampaikan aspirasi mahasiswa saja tidak becus. Ini terjadi sebulan sebelum Gie meninggal, 16 Desember 1969.

KAMI sebagai organ gerakan 66, dianggap tidak lagi aspiratif. Dipelopori DM ITB, UNPAD dan UNPAR, ramai-ramai organisasi mahasiswa meninggalkan KAMI, dan akhirnya KAMI bubar di awal tahun 1970. Kebijakan DM ITB yang disebut back to campus ini ditandai dengan penguatan gerakan yang berasal dari kampus, seperti mulai didirikannya Student Center, dll. Tapi konflik yang sebenarnya antara Mahasiswa-ABRI mulai terjadi. Awalnya sederhana sekali.

Beberapa Walikota dan Gubernur yang berasal dari ABRI menjalankan kebijakan 'ANTI RAMBUT GONDRONG', kebijakan yang sungguh lucu dan tidak masuk akal ini dijalankan dengan semena-mena. Semacam ada razia di jalanan kepada anak muda, pelajar dan mahasiswa. Bahkan di Bandung hal ini juga menimpa mahasiswa ITB yang berambut gondrong.

DM ITB segera bereaksi frontal dengan menginisiasi gerakan 'ANTI ORANG GENDUT', menyindir pemerintah yang kebanyakan perutnya gendut. Reaksi frontal ini berlanjut dengan bentroka-bentrokan kecil, terutama antara mahasiswa ITB, dengan taruna Akademi Kepolisian angkatan 1970 (akan lulus tahun 1970), yang diberi tugas untuk mencukur rambut gondrong. Kodam Siliwangi waktu itu baik2 saja dan cenderung tidak peduli aturan itu, karena memang tidak penting juga.

Karena konflik ini berkembang menjadi tidak penting, Ketua Umum DM ITB Syarif Tando, Rektor ITB Prof. Doddy Tisnaamidjaja, Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Gubernur Akpol Irjen Awaludin Djamin, dan Kepala Kepolisian Kota Bandung Kombes Tjutju Sumirat (adik Prof Doddy Tisna A), berinisiatif mengadakan pertandingan persahabatan, antara mahasiswa dan taruna Akpol, demi mengakhiri perseteruan ga penting ini.

Pertandingan diadakan tanggal 6 Oktober 1970, sehari setelah Hari ABRI dimana Presiden Soeharto meminta kepada ABRI agar tidak melukai hati rakyat. Karena dilatarbelakangi peristiwa 'ANTI RAMBUT GONDRONG', maka supporter mahasiswa ITB memberikan dukungan dengan yel-yel yang (sepertinya) cukup menyakitkan hati taruna Akpol 1970 ini. FYI, Taruna Akpol 1970 adalah angkatan pertama hasil integrasi AMN, AAL, AAU dan Akpol, menjadi AKABRI, jadi taruna akpol ini diberi pendidikan dasar militer selama setahun.

Panasnya isi yel-yel ini ditanggapi dengan sabetan-sabetan kopel rim oleh Taruna Akpol, dan akhirnya pertandingan yang dimenangkan mahasiswa ITB, 2-0 ini berakhir dengan tawuran antara mahasiswa dan taruna akpol. Tawuran diakhiri oleh kepolisian bandung, dan akhirnya taruna itu diangkut ke gerbang depan untuk istirahat sebentar, menurunkan emosi mereka.

Lewatlah sebuah motor Harley, dikendarai oleh dua mahasiswa angkatan 1970, yang satu namanya Rene Louis Conrad, anak Elektro, satu lagi namanya Ganti Brahmana, entah jurusan apa. Saat dia lewat truk taruna akpol, Rene yang tidak tahu-menahu soal tawuran ini diludahi dari atas truk oleh salah satu taruna. Karuan saja dia panas dan bertanya siapa yang meludahi dia, kalau berani ayo turun. Eh, yang turun semua taruna, dan semuanya mengeroyok Rene. Ganti Brahmana yang lari tidak dikejar, karena sepertinya Rene yang menjadi sasaran pengeroyokan.

Menurut Ganti Brahmana dalam sidang kasus ini, Rene diperlakukan seperti bola, dilempar kesana kemari oleh para taruna. Yang benar-benar terlibat saat itu adalah beberapa taruna seperti Nugroho Djajusman (Kapolda Metro Jaya saat kerusuhan Mei 1998), S. Bimantoro, Rusdihardjo (keduanya pernah menjadi Kapolri), Hamami Nata (kapolda Metro Jaya saat kerusuhan 27 Juli 1996), dan Bahar Muluk (dikeluarkan dari Polri karena menewaskan seorang tahanan bernama Martawibawa saat interogasi). Rene dikeroyok sampai terperosok di got depan asrama Gedung F, sekarang menjadi Plasa Telkom di depan Gerbang Depan ITB. Saat terperosok itulah, Rene ditembak dari atas, peluru menembus bahu dan bersarang didadanya.

Para taruna itu karuan langsung panik dan segera membawa Rene pergi entah kemana. Siang itu menjadi hari yang kacau di ITB. Ganti Brahmana bersama teman-teman ITB mencari Rene ke RS Borromeus, rumah sakit lainnya, sampai ke kantor-kantor polisi, dimana hari itu balik mahasiswa menginterogasi polisi.

Kombes Tjutju Sumirat dan Prof. Doddy juga ikut mencarikan, sampai akhirnya mereka semua menemukan Rene yang sudah meninggal di sebuah kamar di Poltabes Bandung di jalan Merdeka. Jasad Rene berada dalam kondisi menyedihkan, dan hampir saja kantor itu dirusak oleh mahasiswa ITB. Seluruh rangkain peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Oktober 1970.

Pada tanggal 7 Oktober 1970, mahasiswa dan pelajar Bandung mengadakan aksi besar-besaran mengecam pembunuhan Rene Conrad, sekaligus menunjukkan solidaritas mereka kepada mahasiswa ITB. Aksi demontrasi ini diikuti sampai 50.000 massa aksi. Hari itu juga seluruh aparat polisi dan militer dikenakan konsinyering berat (tidak boleh keluar barak).

Pada tanggal 9 Oktober 1970, diadakan apel suci di kampus ITB, untuk melepas jasad Rene Conrad kepada keluarganya untuk dimakamkan di Jakarta. Ibu Rene sangat marah kepada Gubernur Akpol Irjen Awaludin Djamin, bisa dilihat foto kemarahan sang Ibu di www.gerakanmahasiswa78.blogspot.com, ya namanya juga kehilangan anak, akibat dikeroyok. Tapi pernyataan pejabat tinggi negara seperti Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro dan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso cenderung membela para taruna. Kata-kata seperti, kalau mahasiswa tidak emosional tentu peristiwa ini tidak perlu terjadi, keluar dalam pernyataan Jenderal Soemitro.

Pada tanggal 10 Oktober 1970, Ketua Umum DM ITB Syarif Tando mengadakan long march Bandung-Sukabumi untuk mengadakan demonstrasi di depan Akademi Kepolisian di Sukabumi. Long march ini diikuti mahasiswa dan pelajar Bandung. Saat itu keluar pelesetan AKABRI, Akademi Kepolisian Alat Bunuh Rakyat Indonesia. Peristiwa Rene Conrad berkembang menjadi ketidakpuasan kaum muda atas tindak-tanduk militer seperti karcis kereta dan angkutan yang sering tidak dibayar, truk militer sering dipakai untuk mengangkut sayur dan buah-buahan dari Lembang, dan tindak-tanduk semena-mena militer yang menyakiti rakyat di berbagai daerah juga diangkat.

Penyidikan yang dilakukan oleh polisi, malah mengarahkan tuduhan pada seorang bintara Brimob, bernama Sersan Mayor Djani Maman Surjaman, yang berdiri di pertigaan Taman Sari-Ganesha, depan Kebon Binatang. Sersan Djani yang tidak tahu-menahu soal peristiwa ini diadili. DM ITB yang mengetahui peristiwa ini melalui Adnan Buyung Nasution, pengacara Sersan Djani, menunjukkan solidaritas mereka dengan mengadakan aksi 'DOMPET UNTUK SERSAN DJANI'. Bantuan ini berlanjut kepada DM ITB kepengurusan Tri Herwanto (1971-1972), sampai kepengurusan Sjahrul (1972-1973). Bagaimanakah nasib para taruna yang sebenarnya melakukan pengeroyokan itu, tidak jelas sampai sekarang, apalagi Nugroho Djajusman adalah anak seorang jenderal polisi.

Peristiwa Rene Conrad meninggalkan luka mendalam di kalangan mahasiswa ITB khususnya, dan mahasisa Indonesia pada umumnya. DM ITB menamakan Gerbang Depan ITB itu sebagai Gerbang Rene Louis Conrad, dan setiap tanggal 6 Oktober diadakan peringatan Peristiwa Rene Conrad, sebagai peringatan konflik ini. Peringatan ini terus diperingati sebagai pemanasan menuju gerakan mahasiswa 1974 yang berakhir dengan Malapetaka 15 Januari (Malari), Gerakan Anti Kebodohan 1977, dan Gerakan Mahasiswa 1978 (Buku Putih Perjuangan Mahasiswa) yang berakhir dengan diserbunya kampus ITB, dua kali, dan kampus disterillkan dari mahasiswa.

Konflik antara negara dan rakyat, yang ditandai dengan konflik mahasiswa-militer ini, menjadi awal sentimen antara mahasiswa dengan alat-alat negara lainnya. Menjadikan kita semua lupa, bahwa mahasiswa dan militer pernah bekerja sama melawan Belanda, merebut Irian Barat, dan mengusung Orde Baru. Dan saya kira, luka-luka akibat peristiwa Rene Conrad, Malari, 1978, 1989, 1998, Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II, belum pulih sampai sekarang.

Apakah generasi muda hari ini tidak mau belajar dari sejarah?

Merdeka!!!

Sumber:
- Francois Raillon. 1984. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1966-1974, Jakarta: LP3ES
- Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter. Jakarta: KPG
- Rum Aly. 2006. Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Jakarta: Kata Hasta
(diambil dari notes Hanief Adrian (PL '03)

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3679187 
Inilah 7 Pantai Terindah di Pulau Dewata Bali

Inilah 7 Pantai Terindah di Pulau Dewata Bali

Add Comment
Hanya di Indonesia -
Bali merupakan pariwisata yang diakui oleh Seluruh Dunia akan keindahan alam dan kekayaan budayanya yang sangat kental, pantai di Balipun merupakan salah satu dari 10 pantai terbaik di Dunia, dimana dan apa sajakah pantai terindah dibali ini?

1.Padang Bai

Pantai Padang Bai terletak di pelabuhan penyebrangan Bali � Lombok yaitu Padang Bai, pantainya cukup terjaga kebersihan dan keindahannya. Bagi pemancing dan para penyelam (diver) sangat suka dipantai ini. Karena biarpun bersebelahan dengan pelabuhan tetapi biota lautnya masih sangat terjaga dengan baik. Namun hati hati kalau mau menyelam disini, terkadang arusnya sangat kencang.

2.Pantai Legian dan Seminyak

Memang pantai yang terletak di utara pantai kuta mempunyai suasana yang sama dengan pantai Kuta, tetapi pantai di Legian dan Seminyak yang membedakan dengan pantai Kuta adalah kebersihan dan suasana yang tidak begitu ramai. Pantai legian dan seminyak ini merupakan tempat favorite memotret sunset saya, karena suasana sunset setiap harinya tidak pernah sama dan sangat unik.

3.Pantai Dreamland.

Pantai ini sangat disukai turis turis mancanegara, pasir putihnya membentang sangat luas. Dan karang karang besar memperindah pantai ini, salah satu pantai pasir putih di bali yang sangat indah dan eksotik. Hanya sayang akses ke tempat ini agak susah karena harus memasuki komplek perumahan mewah dan jalan yang sangat curam kebawah, agar berhati hati dikala musim hujan.

4.Pantai Sanur

Daerah sanur dan sekitarnya salah satu daerah wisata yang pertama berkembang di Bali, kita dapat merasakan suasana desa dengan kedamaian dibandingkan di daerah pantai yang lain. Semenjak direnovasi besar besaran Pantai sanur saat ini berubah menjadi pantai yang sangat cantik dan bersahabat. Banyaknya aktivitas dan resort2 yang berada didaerah sanur tersebut membuat Pantai Sanur salah satu pantai alternative yang layak dikunjungi.

5.Pantai Amed dan Tulamben

Pantai Amed dan Tulamben adalah pantai yang bersebelahan, hampir mirip karakter kedua pantai ini. Tetapi pantai amed masih sangat perawan dan tidak banyak turis domestic yang dating kesini. Pantai Tulamben sangat disenangi oleh para Diver yang ingin menyelam disini. Karena disini terdapat kapal perang US yang karam dan tidak terlalu dalam. Sehingga pantai ini adalah salah satu pantai yang eksotik dibali.

6.Pantai Lovina

Pantai yang terkenal yang terletak di utara pulau Bali, karakter pasir disini sedikit berbeda dipantai pantai bali lainnnya karena pasir hitamnya. Selain itu yang sangat terkenal di Pantai Lovina ini adalah setiap pagi kita bisa menyaksikan segerombolan Ikan Lumba � lumba yang bermain di pantai ini, untuk melihat lumba lumba ini kita bisa menyewa perahu nelayan yang bisa dipesan dihotel atau langsung ke nelayannya. Jangan lupa membawa lensa tele dan wide, karena bisa saja tiba tiba lumba lumba tersebut muncul disamping anda.

7.Pantai Candi Dasa

Disebelah timur Pulau Bali dan 2 perjalanan dari Denpasar anda akan menemui daerah wisata yang cukup dikenal yaitu candi Dasa, dan keindahan pantainya yang sangat memukau. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di pantai ini, salah satunya adalah snorkeling dan diving bisa anda lakukan disini.

sumber: kaskus.us
Daftar Nama Suku-suku di Indonesia

Daftar Nama Suku-suku di Indonesia

Add Comment

Suku Aceh di NAD : Banda Aceh, Aceh Besar
Suku Alas di NAD : Aceh Tenggara
Suku Alordi NTT : Kabupaten Alor
Suku Ambon di Maluku : Kota Ambon
Suku Ampana, Sulawesi Tengah
Suku Anak Dalam (Anak Rimbo) di Jambi
Suku Aneuk Jamee di NAD : Aceh Selatan, Aceh Barat Daya
Suku Arab-Indonesia
Suku Aru di Maluku : Kepulauan Aru
Suku Asmat di Papua

Suku Bali di Bali terdiri :
Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
Suku Balantak di di Sulawesi Tengah
Suku Banggai di Sulawesi Tengah : Kabupaten Banggai Kepulauan
Suku Baduy di Banten
Suku Bajau di Kalimantan Timur
Suku Bangka di Bangka Belitung
Suku Banjar di Kalimantan Selatan
Suku Batak di Sumatera Utara terdiri :
Suku Karo Kabupaten Karo
Suku Mandailing di Mandailing Natal
Suku Angkola di Tapanuli Selatan
Suku Toba di Toba Samosir
Suku Pakpak di Pakpak Bharat
Suku Simalungun di Kabupaten Simalungun
Suku Batin di Jambi
Suku Bawean di Jawa Timur : Gresik
Suku Belitung di Bangka Belitung
Suku Bentong, Sulawesi Selatan
Suku Berau di Kalimantan Timur : Kabupaten Berau
Suku Betawi di Jakarta
Suku Bima NTB : Kota Bima
Suku Boti, Timor Tengah Selatan
Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow
Suku Bugis di Sulawesi Selatan
Orang Bugis Pagatan, di Kusan Hilir, Tanah Bumbu, Kalsel
Suku Bungku di Sulawesi Tengah : Kabupaten Morowali
Suku Buru di Maluku : Kabupaten Buru
Suku Buol di Sulawesi Tengah : Kabupaten Buol
Suku Buton di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
Suku Bonai di Riau : Kabupaten Rokan Hilir


Suku Damal di Mimika
Suku Dampeles, Sulawesi Tengah
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Dayak terdiri :
Suku Punan, Kalimantan Tengah
Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
Suku Ibandi Kalimantan Barat
Suku Mualang di Kalimantan Barat : Sekadau, Sintang
Suku Bidayuh di Kalimantan Barat : Sanggau
Suku Mali di Kalimantan Barat
Suku Seberuang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekujam di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekubang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Ketungau di Kalimantan Barat
Suku Desa di Kalimantan Barat
Suku Kantuk di Kalimantan Barat
Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
Suku Limbai di Kalimantan Barat
Suku Kebahan di Kalimantan Barat
Suku Pawan di Kalimantan Barat
Suku Tebidah di Kalimantan Barat
Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Suku Bukit di Kalimantan Selatan
Orang Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan : Tabalong
Suku Ngaju di Kalimantan Tengah : Kabupaten Kapuas
Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah : Murung Raya
Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bukat, Kutai Barat
Suku Busang, Kutai Barat
Suku Ohong, Kutai Barat
Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
Suku Ahe, Kabupaten Berau
Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
Suku Lundayeh, Malinau
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir
Suku Dusun di Kalimantan Tengah
Suku Maanyan di Kalimantan Tengah : Barito Timur
Orang Maanyan Paju Sapuluh
Orang Maanyan Paju Epat
Orang Maanyan Dayu
Orang Maanyan Paku
Orang Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
Orang Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
Suku Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Dompu NTB : Kabupaten Dompu
Suku Donggo, Bima
Suku Duri di Sulawesi Selatan

E
Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)

F
Suku Flores di NTT : Flores Timur

G
Suku Gayo di NAD : Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
Suku Gorontalo di Gorontalo : Kota Gorontalo
Suku Gumai di Sumatera Selatan : Lahat
Suku Komering di Sumatera Selatan : Baturaja
Suku Semendo di Sumatera Selatan : Muara Enim
Suku Lintang di Sumatera Selatan : Lahat

I
Suku India-Indonesia

J
Suku Banten di Banten
Suku Cirebon di Jawa Barat : Kota Cirebon
Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur
Suku Tengger di Jawa Timur
Suku Osing di Jawa Timur : Banyuwangi
Orang Samin di Jawa Tengah : Purwodadi
Suku Melayu Jambi di Jambi : Kota Jambi

K
Suku Kaili di Sulawesi Tengah : Kota Palu
Suku Kaur di Bengkulu : Kabupaten Kaur
Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
Suku Kerinci di Jambi : Kabupaten Kerinci
Suku Komering di Sumatera Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
Suku Kutai di Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara
Suku Kluet di NAD : Aceh Selatan
Suku Krui di Lampung

L
Suku Laut, Kepulauan Riau
Suku Lampung di Lampung
Suku Lematang di Sumatera Selatan
Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
Suku Lintang, Sumatera Selatan
Suku Lom, Bangka Belitung
Suku Lore, Sulawesi Tengah
Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
Suku Karo Sumatera Utara

M
Suku Madura di Jawa Timur
Suku Makassar di Sulawesi Selatan : Kota Makassar
Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat : Kabupaten Mamasa
Suku Mandar Sulawesi Barat : Polewali Mandar
Suku Melayu
Suku Melayu Riau di Riau
Suku Melayu Tamiang di NAD : Aceh Tamiang
Suku Mentawai di Sumatera Barat : Kabupaten Kepulauan Mentawai
Suku Minahasa di Sulawesi Utara : Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
Suku Babontehu
Suku Bantik
Suku Pasan Ratahan
Suku Ponosakan
Suku Tonsea
Suku Tontemboan
Suku Toulour
Suku Tonsawang
Suku Tombulu
Suku Minangkabau, Sumatera Barat
Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
Suku Muko-Muko di Bengkulu : Kabupaten Mukomuko
Suku Muna di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Muna

N
Suku Nias di Sumatera Utara : Kabupaten Nias, Nias Selatan

O
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
Suku Ogan di Sumatera Selatan

P
Suku Papua/Irian
Suku Asmat di Kabupaten Asmat
Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
Suku Amungme di Mimika
Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
Suku Arfak di Manokwari
Suku Kamoro di Mimika
Suku Palembang di Sumatera Selatan : Kota Palembang
Suku Pamona di Sulawesi Tengah : Kabupaten Poso
Suku Pasemah di Sumatera Selatan
Suku Pesisi di Sumatera Utara : Tapanuli Tengah
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir

R
Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
Suku Rejang di Bengkulu : Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
Suku Rote di NTT : Kabupaten Rote Ndao

S
Suku Saluan di Sulawesi Tengah
Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat : Kabupaten Sambas
Suku Sangir di Sulawesi Utara : Kepulauan Sangihe
Suku Sasak di NTB, Lombok
Suku Sekak Bangka
Suku Sekayu di Sumatera Selatan
Suku Semendo di Bengkulu
Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
Suku Simeulue di NAD : Kabupaten Simeulue
Suku Sigulai di NAD : Kabupaten Simeulue bagian utara
Suku Sumbawa Di NTB : Kabupaten Sumbawa
Suku Sumba di NTT : Sumba Barat, Sumba Timur
Suku Sunda di Jawa Barat

T
Suku Talaud di Sulawesi Utara : Kepulauan Talaud
Suku Talang Mamak di Riau : Indragiri Hulu
Suku Tamiang di Aceh : Kabupaten Aceh Tamiang
Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
Suku Ternate di Maluku Utara : Kota Ternate
Suku Tidore di Maluku Utara : Kota Tidore
Suku Timor di NTT, Kota Kupang
Suku Tionghoa-Indonesia
Orang Cina Parit di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
Suku Tojo di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una
Suku Toraja di Sulawesi Selatan : Tana Toraja
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara : Kendari
Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah : Kabupaten Toli-Toli
Suku Tomini di Sulawesi Tengah : Kabupaten Parigi Moutong

U
Suku Una-una di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una

W
Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton

sumber: http://dunia-panas.blogspot.com/2010/03/inilah-macam-macam-suku-di-indonesia.html

2 Janda Pahlawan Dipidana, karena Mengajukan Kepemilikan Rumah Dinas

Add Comment
Hanya di Indonesia - Nasib apes dialami dua janda pahlawan, Soetarti dan Roesmini. Kedua wanita tua ini dijerat kasus persengketaan tanah rumah dinas. Mau mengajukan kepemilikan rumah dinas malah dipidanakan.



"Harapannya kami minta keadilan seadil-adilnya, kenapa yang lain bisa saya nggak bisa. Kami mengajukan permohonan tapi di pidana," ujar Soetarti (78) saat ditemui detikcom dikediamannya Jl Cipinang Jaya II B/38 RT 07/ RW 07, Jakarta Timur, Selasa(16/3/2010).

Menurut Soetarti, ada seseorang yang juga pensiunan Depkeu telah memiliki hak milik rumahnya dengan cara membeli rumah dinasnya. Dari situ, Soetarti pun berharap dapat membeli rumah dinas milik Departemen Keuangan yang telah ditempatinya selama 26 tahun itu.

"Tega-teganya. Negara saja menghargai jasa suami saya sehingga beliau diberi tempat di makam kalibata. Ironisnya juga negara memperlakukan saya seperti ini," katanya.

Suami-suami dari kedua janda ini merupakan bekas TNI Brigade 17 Tentara Pelajar. Mereka dijerat kasus tindak pidana penghunian rumah. Suami mereka juga pensiunan dari PNS Perusahaan Jawatan Penggadaian Departemen Keuangan.

Senada dengan Soetarti, Roesmini (78) juga menginginkan hal yang sama untuk dapat membeli rumah dinas yang telah ditempatinya selama 29 tahun itu.

"Saya juga kepingin rumah ini jadi milik sendiri," ucap Roesmini terbata-bata.

Soetarti dan Roesmini dituntut negara karena menempati rumah yang bukan miliknya. Meski keduanya akan menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 17 Maret besok, mereka belum ada rencana untuk pindah rumah.

"Mungkin akan pindah ke rumah anak saya. Tapi nanti kalau masalah ini sudah selesai dan ada hasil akhirnya," papar Roesmini yang tinggal di Jl Cilangkap Jaya II, C 12 RT06/RW07. (detik.com)
Cerita Seputar Depok : Sisa-sisa Belanda Depok

Cerita Seputar Depok : Sisa-sisa Belanda Depok

Add Comment
Hanya di Indonesia - Lebih dari setengah abad Belanda sudah meninggalkan Indonesia sebagai negeri jajahan. Banyak cerita dan peninggalan yang diwariskan negara itu pasca penjajahan di Jawa yang telah berusia 250 tahun. Salah satunya, keberadaan keturunan 12 marga bekas budak yang dibebaskan saudagar tanah Belanda, Cornelis Chastelein. Mereka bermukim di kawasan Depok Lama, Bogor, Jawa Barat, dan kerap disebut Belanda Depok.
Suasana peringatan kemerdekaan Indonesia masih mewarnai Depok, Jawa Barat, hingga akhir Agustus lalu. Kibaran bendera merah-putih masih menghiasi rumah-rumah di sepanjang Jalan Pemuda, Depok Lama. Daerah ini dikenal sebagai tempat bermukim komunitas Belanda Depok. Kawasan ini berada di tengah-tengah kota Depok, di perbatasan antara kawasan Perumnas Depok I dan II. Jejeran rumah tua dengan konstruksi bangunan bergaya Belanda masih banyak ditemui di sekitar Jalan Pemuda.



Bendera merah-putih tak hanya berkibar di pemukiman warga, tetapi juga di gedung Sekolah Dasar Pancoran Mas dan SD Depok 2. Gedung sekolah ini dulunya adalah sekolah penginjilan dan sekolah anak-anak Belanda, sebelum dibubarkan pada tahun 1942.
Dijuluki si Belanda Keling atau Bule Depok

Laela Leander adalah salah satu keturunan Belanda yang tinggal di Depok. Namanya memang bermarga Belanda, tapi wajah Laela lebih tampak keturunan Ambon, kulit hitam dan rambut keriting. Laela adalah generasi ke tujuh marga Leander yang tinggal di Depok. Meski mengaku jarang berbaur dengan warga di luar komunitasnya, Laela mengaku jiwanya tetap merah-putih. “Sangat penting buat saya. Arti kemerdekaan buat kita juga. Istilahnya orang Depok yang sudah berbaur tambah bersatu lagi. Tak ada perbedaan dan harus terus dijaga,” tambahnya.
Semangat merayakan kemerdekaan terasa sampai pelosok gang. Berbagai lomba menjadi kegiatan rutin komunitas Belanda Depok tiap perayaan 17-an. Antonio Loen, yang sudah tinggal di sini sejak 60 tahun lalu, adalah salah seorang sesepuh Belanda Depok. “Macam-macam kegiatan olah raga. Catur, badminton, tarik tambang sampai panjat pinang. Kita selalu ikut,” ujarnya.


Meski sudah bertahun-tahun tinggal di Depok, sebutan Belanda Depok ternyata meresahkan Sisca Bacas. Ia merasa sebutan itu membuatnya diperlakukan berbeda dengan warga Indonesia lain. Padahal, lahir batin, ia mengaku orang Indonesia. “Sama saja. Kami ikut merayakan seperti warga negara Indonesia lainnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, tak ada lagi perlakuan istimewa. Saya pun termasuk angkatan sesudah proklamasi dan tidak merasa generasi khusus,” ungkapnya.
Demi memelihara nasionalisme, Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang beranggotakan keturunan Belanda Depok, mewajibkan setiap sekolah di kawasan komunitas ini untuk menggelar upacara bendera tiap 17 Agustus, sama seperti sekolah lainnya. Ketua LCC, Valentino Jonathans, menegaskan, tak ada alasan untuk tidak ikut merayakan kemerdekaan bangsa ini. Ia menggarisbawahi komunitas Belanda Depok tetap orang Indonesia, meski ada kata Belanda di sana. “Kami bukan antek Belanda,” sergahnya.
Saya kira sama saja, kita bangsa Indonesia bukan bangsa di luar Nusantara. Jadi tetap merayakan 17 Agutus tidak berbeda dengan yang lain. Sampai saat ini, sekolah-sekolah di bawah yayasan juga mengadakan perlombaan-perlombaan. Bahkan, 17 Agustus upacara di sini. Dibilang Belanda Depok kita juga keberatan, karena kita asli orang-orang Indonesia yang diambil Cornelis Chastelein dari daerah timur yang dididik dan dibesarkan di sini,” imbuh Valentino Jonathans.


 
Kini, sebetulnya sudah tak ada lagi yang murni bisa disebut Belanda Depok. J.J. Rizal, sejarawan Universitas Indonesia, berkisah, sebagian besar mereka telah kawin campur dengan warga sekitar. “Sekarang sudah tak ada lagi. Dulu, memang anak emasnya pemerintah kolonial. Bahkan sempat punya presiden Depok dan turunannya masih ada sekarang. Tahun 60-an berubah sama sekali. Banyak perkawinan campur dan tak ada lagi orang Belanda asli di Indonesia, terutama di Bali dan Indonesia bagian timur. Yang menarik adalah cara mereka berasimilasi dan bermasyarakat melalui bintang sepak bolanya. Seperti Soedira itu bintang sepak bola Depok,” terangnya.
Misionaris Protestan terkucil

Sebenarnya, bagaimana asal muasal Belanda Depok ini? Belanda Depok tak lepas dari sejarah penjajahan Belanda. Ketika VOC masih berkuasa di sekitar tahun 1696, Cornelis Chastelein membeli tanah seribuan hektar mencakup Depok yang kita kenal kini. Sebagai tuan tanah, Chastelein mempunyai 100-an pekerja. Mereka didatangkan dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina. Ia juga menyebarluaskan agama Kristen kepada para budaknya, lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen¹ (Organisasi Kristen Protestan Pertama) atau disingkat Depok. Dari sini rupanya nama kota ini berasal.
Menjelang tutup usia di tahun 1714, Cornelis Chastelein menulis surat wasiat: “...Maka hoetang jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe... dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,...
Selain wasiat itu, Cornelis Chastelein juga mewariskan tanahnya kepada seluruh budak yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status budak menjadi orang merdeka. Ada 12 marga² yang sempat menjadi pekerja Cornelis Chastelein, yaitu marga Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Soedira dan Sadokh. Kini, sudah tidak ada lagi marga Sadokh karena sudah punah. Keturunan marga-marga inilah yang kerap disebut 'Belanda Depok'.
Ketua LCC, Valentino Jonathans mengatakan, setidaknya ada tujuh ribu warga komunitas Belanda Depok yang terdaftar di LCC. Mereka tersebar di berbagai daerah dan negara. “Pada awalnya memang ada 150 seperti yang saya ceritakan. Sekarang peninggalannya sekitar 7000-an kepala yang masih terdaftar di yayasan di Depok. Saya kira masih banyak juga yang belum terdaftar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain. Juga banyak saudara-saudara kita yang tinggal di luar negeri,” ungkap Jonathans.
Di antara mereka, sepertiganya adalah keturunan asli Belanda yang menikah dengan orang Indonesia atau keluarga Belanda yang lebih senang tinggal di Indonesia. Sebutan Belanda Depok sebetulnya hanya label belaka bagi orang pribumi yang mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Belanda kala itu. Mereka menyandang 12 marga pekerja Cornelis Chastelein.
Perlakuan khusus sulut kesenjangan sosial

Tapi, menurut sesepuh Belanda Depok, Antonio Loen, keistimewaan itu justru memicu kecemburuan warga lain. Mereka pun kerap dituding sebagai ‘antek’ sewaktu Belanda masih menduduki Indonesia. Bahkan, kebudayaan Belanda dan perayaan hari kelahiran Cornelis Chastelein ikut dilarang.


Sebenarnya, orang memberikan julukan Belanda Depok kepada kami sebagai penduduk asli Depok. Perilaku mereka seperti orang Belanda karena didikan Belanda. Sebelum pribumi mengenal bangku pendidikan, kami sudah sekolah. Tak heran, sewaktu revolusi 1945 warga Depok banyak yang tewas dibunuh pejuang karena dianggap antek Belanda. Mereka berpuluh-puluh tahun hidup mendapat keistimewaan Belanda,” papar Antonio Loen.

Marga Belanda pemberian Chastelein rupanya bukan satu-satunya pemicu kecemburuan sosial. Jamruh, sesepuh masyarakat Betawi di Depok, menambahkan, ini juga karena mereka kurang berbaur dengan warga sekitar. “Mereka dan anak cucunya yang 12 itu sampai sekarang sehari-hari menggunakan Bahasa Belanda. Di sekolah yang dulunya diharuskan berbahasa Indonesia mereka tidak mau dan tetap memakai Bahasa Belanda. Adat istiadat mereka pun seperti orang Belanda. Menolak dipanggil bapak, maunya oom atau meneer, yang perempuan tante,” jelasnya.
Kecemburuan ini memuncak di tahun 1950-an. Ratusan rumah orang Belanda Depok, yang kini menjadi Stasiun Depok Lama, habis dibakar warga sekitar. Penyebabnya, menurut Jamruh, karena mereka tak mengakui bendera merah-putih sebagai lambang negara. “Disuruh pasang bendera merah putih tidak mau. Menjawab salam merdeka juga menolak. Kemungkinan, ada dendam lama orang-orang yang berada di sekitar mereka. Mungkin, merasa tertekan oleh tuan tanah. Banyak masalahnya,” tambahnya.
Kini, komunitas Belanda Depok dan warga sekitar hidup damai. Jamruh bahkan kagum dengan kebiasaan dan komitmen komunitas ini dalam menjaga lingkungan. “Kalau yang namanya hukum, mereka tidak akan tawar-tawar lagi karena ada undang-undangnya. Tapi, kalau diajak musyawarah agak susah, karena mereka dasarnya hukum saja. Contohnya, diajak ronda tak bakal mau karena ada polisi. Begitu pula kebersihan, itu bukan tugas warga melainkan Dinas Pekerjaan Umum. Tapi kalau bayar Pajak Bumi dan Bangunan mereka duluan,” pungkasnya.
Catatan kaki:
  1. Versi lain menyebut Depok berasal dari singkatan De Eerste Protestantse Overzeese Kristengemeente (Kelompok Kristen Protestan Pertama di Luar Negeri). Selain itu, ada wacana lain yang menjabarkan Depok adalah akronim De Eerste Protestantse Onderdaanse Kristenen (Kelompok Rakyat Kristen Prostestan Pertama).
     
  2. Sesuai dengan jumlah 12 rasul.


>>Sumber: Radio Nederland Wereldomroep dan Tim KBR68H Jakarta “Merayakan 17 Agustus bersama Belanda Depok” (23-08-2007), Ilustrasi: situs depok.nl<< (Sumber : Isa Alïmusa – Amsterdam - http://kolomkita.detik.com)
Suparwono : Manusia Tertinggi di Indonesia

Suparwono : Manusia Tertinggi di Indonesia

Add Comment
Hanya di Indonesia - Harapan Suparwono, 24, supaya namanya bisa dicatat sebagai manusia tertinggi di dunia dalam Guinness Book of World Records tidak akan pernah kesampaian. Sebab, buruh tani warga SP 8, Desa Tri Tunggal Jaya, Gunung Agung, Tulang Bawang, Lampung, itu ternyata lima sentimeter lebih pendek bika dibandingkan dengan pemegang rekor manusia tertinggi di dunia saat ini, yakni Sultan Kosen.


Warga Turki itu memiliki tinggi tubuh 2,47 meter. Kosen masuk Guinness Book of World Records sejak September lalu setelah ’’mengalahkan’’ Bao Xishun, warga Tiongkok, yang setinggi 236,1 cm.
Sebelumnya, Suparwono diklaim setinggi 270 cm atau lebih tinggi ketimbang Kosen. Ada pula yang menyebutkan, tinggi mantan pemain salah satu klub basket di Surabaya itu 271 cm.

Hasil pengukuran resmi yang dilakukan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kemarin (2/12) sama sekali berbeda. Muri mengukur tinggi Suparwono ’’hanya’’ 2,42 meter. Acara pengukuran di Jakarta itu juga dihadiri pendiri Muri yang juga bos Pabrik Jamu Jago Jaya Suprana.

Jadi, Suparwono tidak memenuhi kualifikasi untuk masuk Guinness Book of World Records. Tetapi, pengukuran tersebut sudah cukup menjadikan dia sebagai manusia tertinggi di Indonesia.

’’Tim kami dari Muri telah mengukur Suparwono dalam posisi berbaring maupun berdiri. Hasilnya, dia memiliki tinggi tubuh 2,42 meter,’’ terang Direktur Muri Ngadri, seperti dikutip AFP. ’’Kami menerima banyak laporan pagi ini, termasuk hasil pengukuran dari rumah sakit, yang menyebutkan bahwa dia setinggi 2,71 meter. Tetapi, kami tetap berpegang pada pengukuran kami,’’ tegasnya.

Nama Suparwono menjadi sangat populer pekan ini setelah salah seorang kerabatnya di Lampung mengundang para tetangga untuk berfoto bersama dengannya. Beberapa hari terakhir, dia muncul di acara talk show televisi di Jakarta sebagai ’’Raksasa asal Lampung’’. Tetapi, Suparwono justru lebih suka disebut sebagai ’’manusia gajah’’.

Sebelum ke Jakarta kemarin, Suparwono sempat diundang ke Kantor Gubernur Lampung dan dijamu. Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dan staf terlihat antusias menyaksikan pria kelahiran Banyumas, Pringsewu, 4 November 1983, tersebut makan.

Suparwono mengatakan terkadang merasa ’’bangga’’ dengan tinggi tubuhnya. ’’Tetapi, (ukuran tubuh yang tinggi) itu juga menimbulkan masalah karena saya tak bisa hidup seperti orang yang normal,’’ katanya.

Dia mencontohkan kesulitannya masuk bus umum atau mencari ukuran pakaian dan sepatu yang sesuai. Saat pamit ke gubernur Lampung, dia tanpa alas kaki karena tidak menemukan sepatu atau sandal berukuran 64.

Di sela acara wawancara televisi, Suparwono juga bercerita pengalamannya menjadi manusia tertinggi. ’’Saya baru menyadari tinggi tubuh saya yang luar biasa ketika berusia 10 tahun. Saat itu saya sudah menjadi siswa tertinggi di sekolah dan desa saya,’’ katanya.

Saat ini Suparwono tinggal bersama orang tuanya dan menjadi buruh tani. Dia kadang bekerja secara serabutan untuk mendapatkan penghasilan. ’’Dalam sehari, saya menghabiskan tiga kilogram beras dan sedikitnya 15 butir telur,’’ tuturnya. (AFP/dwi)
Slamet Rahardjo :  film, sinetron, dan kelakuan anggota Pansus Century

Slamet Rahardjo : film, sinetron, dan kelakuan anggota Pansus Century

Add Comment
Hanya di Indonesia - Di penghujung Desember lalu, aktor Slamet Rahardjo mendapat penghargaan dari Federasi Teater Indonesia (FTI). Sebagai pegiat teater, dia dianggap memberikan kontribusi bagi eksistensi teater di Tanah Air. Menurut Slamet selama ini pemerintah kurang perhatian dalam bidang budaya. Dia malah berharap, lebih banyak lagi kebudayaan Indonesia yang diakui negara lain.”Biar mereka (pemerintah tergerak),’’ ujarnya. Di Sanggar Teater Populer Jalan Kebon Pala Tanah Abang, Jakarta, kakak kandung Eros Djarot ini, kepada Adiyanto dan Ezra Sihite dari Koran Jakarta, bercerita tentang perkembangan teater, fi lm, dan sinetron di Tanah Air, yang menurutnya sedikit banyak berpengaruh terhadap kegiatan berbangsa dan bernegara. Berikut petikannya:

Apa kriteria yang membuat Anda terpilih mendapatkan penghargaan itu?

Katanya saya memiliki konsistensi dalam pencapaian–pencapaian prestasi baik itu melalui kerja keras yang terus menerus di bidang fi lm ataupun teater. Saya memang dianggap tidak pernah berhenti dalam menggiatkan itu, baik dalam bidang kreatif maupun pendidikan. Itu alasannya. Saya memang mulai menekuni dunia ini (teater dan fi lm) sejak 1968. Jadi bisa hitung sendiri lah.

Mengapa teater tidak sepopular film?

Sebenarnya teater itu sama dengan fi lm ya. Teater itu ada yang diperuntukkan bagi orang yang paham dalam bidang kesenian. Kita ada komunitas sendiri yang memang menuntut adanya pertunjukan yang pendekatannya artistik. Tapi jangan lupa ada juga penonton yang menuntut adanya sebuah hiburan. Nah inilah yang tidak dilayani. Tapi, teater yang ada saat ini hanya menyuguhkan sesuatu yang mungkin masih berjarak dengan penonton. Jadi masih untuk kepentingan senimannya sendiri. Saya kebetulan mempunyai sejarah bagaimana saya berkembang di Teater Populer bersama teman-teman yang lain di bawah bimbingan Teguh Karya.

Bagaimana cara agar mereka (insan teater) mau membuka diri?

Ya sadarkan orang teater itu dia kan bagian dari masyarakat. Nah masyarakat hari ini itu masyarakat yang bagaimana misalnya. Apakah mereka yang setiap hari nonton TV, yang setiap hari melihat warta berita sudah begitu terbuka, masyarakat yang kalau mau pergi tidak usah jauh-jauh harus disamperin bisa pakai SMS. Semua itu harus digauli.

Lantas kenapa sebagian pelaku teater merasa bangga ditonton hanya oleh selected people?

Itu pertanyaan sangat tendensius ya. Saya tidak berani menjawabnya. Tapi yang saya rasakan setiap orang punya kebutuhan masing-masing.

Tidak butuh pengakuan maksudnya?

Seniman itu tidak harus identik dengan segala sesuatu yang tidak terurus. Tapi kan juga tidak betul. Seniman itu intelektual kok, tapi intelektual itu belum tentu seniman. Begitu yang saya tahu.

Dana kerap kali dijadikan keluhan jika ingin menggelar pentas teater. Menurut Anda?
Dana itu dapat dari mana? sponsor kan? Sponsor itu menaruh produknya berdasarkan apa? Penonton lagi kan? Jadi biar bagaimana pun kapan kita bikin buat kepentingan kita. Kapan kita berkelindan dengan kehidupan masyarakat.

Kalau Teater Populer sendiri, dana tidak jadi masalah?
Teater Populer tidak pernah ada masalah dengan dana. Karena masyarakat sudah tahu kalau kami bikin sesuatu bukan hal yang tidak dimengerti penonton. Awalnya saya bisa asyik sendiri dengan panggung saya mungkin yang menonton cuma enam tujuh orang sampai 40 orang tapi itu memang saya sadari. Ini belum tentu semua orang bisa mengerti. Tapi makin lama kok makin banyak, makin banyak. Rupanya mereka sudah mulai menuntut yang lebih tinggi, yang lebih tinggi. Tapi kalau kita lihat bagaimana orang di luar negeri itu hidup, memang ada subsidi tapi subsidi yang lama makin lama makin mengecil.

Memang ada subsidi dari pemerintah untuk pekerja seni?
Ada, tapi kita tidak bisa mengandalkan dari subsidi saja. Subsidi harus karena bagaimana pun kalau kita jatuh kepada kepentingan profi t yang terus menerus, kan kita tahu bahasa duit. Bahasa duit apa yang bisa dijual, di jual dong. Kan buku porno lebih laku dari buku yang serius. Jadi kalau masalah pasar yang menang ya buku porno. Nah untuk mempertahankan yang bukan buku porno ini kan harus disubsidi sedikit. Tapi diharapkan subsidi itu makin lama ya makin kecil dong, jangan tetep aja kaya kita tidak ada usaha.

Boleh tahu berapa jumlah subsidi yang diberikan?
Tidak tahu saya. Kalau soal itu tanyakan ke DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Bagaimana Anda melihat pelaku teater muda zaman sekarang?
Saya kira saya pernah juga muda, pernah menggebu-gebu. Susah ketika batin kelebihan dari kemampuan yang ada. Saya pernah berpikir seandainya seluruh wanita itu adalah istri saya (hebat saya) tapi itu khayal yang luar biasa, bagaimana kita harus karena memang sedang tumbuh.

Anda mengamati karya mereka?
Saya kira kalau anak muda zaman sekarang ini cenderung atau jatuh pada hal yang makin ngga mengerti makin oke, makin ngga ngerti mutunya makin tinggi, menurut mereka. Ya tidaklah menurut saya. Kalau mereka makin ngga ngerti, ya makin ngga ngerti makin bingung. Karya seni yang baik itu tidak membingungkan kok. Kalaupun yang sangat adiluhung juga sangat tidak membingungkan.

Jadi sekarang terjadi semacam kemunduran budaya?
Oh iya. Itu sih semua kita sudah mengeluhkan. Di negeri ini ngomong di forum saja kaya begitu (merujuk sidang Pansus Century). Lihat saja setiap hari yang rapat di TV itu. Itu kan benar-benar mengerikan bahasa yang dipilih. Dia tidak mengerti ini bahasa jalanan, bahasa di sidang, bahasa yang terhormat atau bukan, tidak mengerti lagi mereka. Itu kan ciri orang yang tidak pernah memahami nilai indah dalam kesenian. Makanya saya berdoa, mudah mudahan Malaysia nyolong lebih banyak lagi sehingga kita aware terus. Kalau tidak ya tidak aware lagi ha..ha..ha..(tertawa).

Dulu pernah ada acara belajar drama di TVRI, kenapa itu tidak dihidupkan lagi?
Saya sekarang sudah mulai menjadi staf ahli di TVRI. Kita sudah memikirkan itu. Sekarang itu kalau dilihat dalam delapan bulan belakangan ini perubahan sudah kelihatan. Pelan-pelan.

Dulu banyak aktor fi lm berangkat dari teater, tapi sekarang kok cuma modal tampang?
Enak aja mereka bukan aktor. Mereka adalah selebritis. Enak aja.
Lantas kenapa mereka bisa main fi lm? Makanya kalau orang takluk pada pasar ya begitu. Penghargaan yang saya terima dari FTI itu juga antara lain karena saya tidak terhanyut pada tawaran yang menyesatkan. Saya tidak hanyut ke situ.

Kenapa teater kita banyak diakui di luar negeri, ketimbang di negara sendiri?
Itu tidak jaminan. Saya malah curiga sama orang luar kalau ngasih piala kepada saya. Jangan-jangan mereka kasihan kepada saya orang kampung ini (tertawa). Bisa saja kan?

Apa sih yang diinginkan dari seorang Slamet Rahardjo dalam kehidupan?
Saya bukan ingin jadi penghibur, itu kan pilihan saya. Saya ingin jadi seniman dalam fi lm. Sehingga saya tidak main fi lm yang lari-lari ada kulit pisang terpeleset jatuh dan kemudian mengintip rok cewek. Saya tidak mau begitu. Saya bukan penghibur, saya ini seniman. I am not entertainer, saya bukan penghibur saya ini seniman, artis dan saya tidak mau menjual diri saya untuk menyenangkan orang. Tapi itu pilihan yah kan? Dibanding mereka, bank account saya yah lempeng- lempeng aja (tertawa).

Bagaimana cara Anda menjaga kreativitas dan selalu ada inspirasi?
Aku juga enggak tahu tuh, aku tanya ke Tuhan gimana caranya keluarin Matahari dari Timur tiap hari? Yah sebagaimana manusia jenuh sih pasti tapi belajar dari sang khalik, terus dia kasih, mau hujan, mau cerah tetap ada, kenapa aku enggak? Aku juga kenapa enggak meniru sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia yah, sudah kehidupan kita lanjutkan saja setiap hari. Bereaksi terus kepada kehidupan dan memperhatikan terus gejala-gejala kehidupan. Yah seperti itu.

Apakah benar fi lm Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Menurut siapa? Oke berapa yang laku, bandingkan dengan film Barat, yah banyakan mereka. Orang Indonesia itu juga salah kalau bilang fi lm Indonesia mati suri selama sepuluh tahun. Yang bilang mati suri itu siapa? Ketika itu ya.. buat apa bikin fi lm, itu aja, aku enggak mau bikin fi lm, aku kok pelakunya. Bukan aku enggak bisa.

Kenapa?
Ya buat apa? Kita enggak tahu apa yang dikerjakan. Kita bikin, keluar fi lm Pretty Woman. Hancur kita. Negeri ini memang negeri pembeli andaikata kita pembuat, maka digeber dong anak-anaknya, dikasih subsidi, disekolahin kek. Coba anak-anak itu dipintarin bikin fi lm, ya bisa. Kalau tentara dan sarjana disekolahkan kan? Orang fi lm juga disekolahin dong supaya kita juga menjadi pemenang audiovisual di negeri sendiri, ya kan? Tuan rumah karena banyaknya saja. Jadi apa artinya tuan rumah itu? Saya tidak anti fi lm impor, tidak. Kalau kita anti namanya kita bangsa dungu. Entar nanti kita jadi enggak punya bandingan. Tetapi, perbandingannya dipikirin dong.

Kenapa kira-kira fi lm Hollywood itu diminati?
Hollywood itu menurut saya luar biasa. Tidak boleh dikesampingkan bahwa mereka itu juga berusaha. Bagaimana usia fi lm di Hollywood? Bagaimana kebijakan pemerintah, coba Anda bisa ganggu fi lm Hollywood kalau enggak dipenalti sama pemerintah, karena apa? Itu politik kebudayaan. Bukan hanya sekadar politik ekonomi, bagaimana menguasai dunia? Ubah saja otaknya semua. Sekarang apa sih arti Indonesia? Nyiur melambai? Padi mengu ning? Bukan, tapi way of thinking. Bagaimana sebuah masyarakat itu menyelesaikan masalahnya. Karena tiap hari diberikan cara menyelesaikan masalah dari fi lm lain, maka ikutikut dong dengan itu. Hamil di luar nikah misalnya, kalau dulu sambar gledek deh.

Anda merasa sudah mencapai mimpi seorang seniman?
Belum, belum juga tidur. Impian saya itu sangat sederhana. Aku ingin bangga jadi orang Indonesia tapi sampai hari ini belum. Masih malu tuh lihat peristiwa Century. Lihat teman-teman legislatif yang di sana. Katanya bergilir tempat duduknya supaya kelihatan di depan kamera itu. Katanya sih begitu. Kan itu memprihatinkan.

Anda masih mengasuh acara bincang di TVRI?
Nah itu forum belajar saya. Bayangin saya menghadapi jenderal, Prof, Doktor dan saya sendiri manusia tanpa diploma, tapi karena saya tadi bilang saya tuan rumah saya enggak boleh malu. Nah itu artinya tuan rumah itu enggak boleh malu.

Dari kalangan seniman yang bergabung di TVRI itu, siapa saja?
Ada Arswendo, Mas Putu (Putu Wijaya), Romo Muji, Marseli Sumarno, mungkin akan ada Ikra Negara, tapi saya belum tahu.

Rencana ada konsep acara baru lagi?
Ada yang bagus, itu Suku-Suku. Ratingnya mulai bagus. Itu tentang suku di Indonesia terus juga Gebyar Keroncong juga. Bahwa Indonesia kan bukan Jakarta tapi seluruh pulau. Jadi ada empat atau lima yang naik ra tingnya itu, mas Arswendo yang paling tahu.
Seniman yang Anda kagumi?

Saya pengidola mulai dari seniman yang hebat hingga seniman yang buruk. Karena kenapa ada seniman yang hebat? Karena ada seniman yang buruk. Tapi kalau saya enggak baca yang buruk dan hebat, maka saya enggak menerti mana yang bagus dan buruk jadi kalau kita terbuka maka kita akan mengetahuinya.

Anda pernah bilang tidak mau main fi lm yang ditonton sembarangan, harus seserius apa sih menonton Anda itu?
Saya ambil contoh, kalau bikin anak misalnya. Padahal awalnya main-main aja, kamu tiba-tiba hamil dan punya anak. Kalau ada yang berani ganggu anakmu, marah tidak? Pasti marah kan? Padahal kamu bikinnya tidak serius. Nah, tidak serius aja marah, apalagi kalau bikinnya serius? Iya kan? Begitu juga fi lm, gue udah buat bagus-bagus, ditontonnya sambil setrika. Makanya aku gak mau maen sinetron, masa ditonton sambil lalu.Bukan berarti FTV/sinetron jelek. Itu kayak makanan tertentu, tapi saya enggak doyan, nah jadi begitu. _

BIODATA
Nama:
Slamet Rahardjo
Tempat/Tanggal Lahir:
Serang, Banten, 21 Januari 1949
Filmografi :
◗ Wadjah Seorang Laki-Laki (1971)
◗ Ranjang Pengantin (1974)
◗ Badai Pasti Berlalu (1977)
◗ November 1828 (1978)
◗ Rembulan dan Matahari (1980)
◗ Badai Pasti Berlalu (2007)
◗ Namaku Dick (2008)
◗ Laskar Pelangi (2008)
◗ Cinta Setaman (2008)
◗ Lastri (2008)
◗ Ketika Cinta Bertasbih (2009)
Penghargaan:
◗ Piala Citra dalam kategori Aktor Utama
pada fi lm Ranjang Pengantin (1974)
◗ Piala Citra dalam kategori Aktor Utama
pada fi lm Badai Pasti Berlalu (1977)
◗ Piala Citra pada Festival Film Indonesia
1980 di Semarang, Jawa Tengah, sebagai
fi lm terbaik dalam judul Rembulan dan
Matahari (1980)
◗ Penghargaan Anugrah Federasi Teater
Indonesia ( FTI ) 2009
Iwan Fals : Facebook, Dajal, dan keinginannya menjelajah Nusantara

Iwan Fals : Facebook, Dajal, dan keinginannya menjelajah Nusantara

Add Comment
Hanya di Indonesia - Bulan ini, Iwan Fals baru saja meluncurkan album baru berjudul Ke seimbang an. Album ini lahir dari kontemplasinya terhadap alam, terutama kehidupan petani. Tak heran, album ini didominasi tema lingkungan. “Mas Willy (almarhum Rendra) bilang jangan sakiti pohon,” ujar Iwan, yang kini juga menggiatkan gerakan menanam pohon. Di Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, tempat kediamannya seluas dua hektare, penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listyanto ini, Kamis pekan lalu menuturkan berbagai hal kepada Adiyanto, Agus Triyono dan Rusdi Mathari dari Koran Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya Anda mau tampil di acara Kick Andy?
Sudah dua tahun lebih mereka minta terus itu. Akhirnya aku enggak enak juga. Dia datang ke sini waktu aku konser. Penonton waktu itu tahu dia datang. Mereka bilang, wah tim Kick Andy datang. Terus tanya sama penonton, gimana nih, aku mau diwawancara Kick Andy? Mereka bilang, setujuuu...(tertawa). Jadi mereka minta sudah lama, tapi aku tidak pernah mau. Soalnya belum pernah talk show seperti itu.

Kenapa tidak suka diwawancara?
Aku kurang bisa menjelaskan sesuatu. Kurang bisa detail dan berurutan. Kadang pikiran saya mendahului tapi ini (menunjuk ke mulut) tidak. Tidak nyambung. Takut malah jadi salah persepsi. Intinya itu, bukan dunia saya. Walaupun teman-temanku suka bikin diskusi di sini setiap minggu, namanya Reboan, diadakan tiap Rabu malam). Apa saja didiskusikan. Tentang kesehatan, politik, revolusi.

Siapa saja yang datang?
Banyak. Sri Bintang Pamungkas, Hermawan Sulistyo, ada juga menteri, teman-teman OI (Orang Indonesia, kelompok fans Iwan), sopo ae. Ada yang pernah korban malapraktik. Awalnya ingin jadi ada kelas. Kuliah kan mahal. Jadi lumayan dapat langsung dari yang asli dan ahlinya. Tapi dari diskusi itu hampir semua lini, isinya kabar buruk terus (tertawa). Aku sebagai kepala rumah ditanyain orang terus.

Kabar buruknya, apa saja?
Macam-macam. Upah buruh, soal kesehatan, politik. Tapi sudah saya stop sementara. Setahun atau dua tahun lalu. Itu seminggu sekali. Tema satu belum selesai, sudah pindah ke tema lain. Biasanya kami menyediakan kopi, makanan kecil, terus kalau ada rezeki, ada uang saku buat pembicara. Kita juga kasih plakat penghargaan.

Anda juga pernah jadi pembicara?
Pernah, waktu itu temanya cinta.

Apa yang Anda ceritakan waktu itu?
Cinta itu gaib (tertawa), gitu aja. Defi nisi cinta kan banyak? Kalau buka internet cari tentang cinta, werrrrr… isinya beragam. Intinya waktu itu kita mendiskusikan tentang cinta, kemudian ada yang menyanggah, ada yang ngomong tidak percaya sama cinta. Seneng banyak temen.

Anda kayaknya juga suka dengan hal-hal gaib?
Oh tidak. Aku justru rasional. Tapi apa ya? Sulit menjelaskan sesuatu yang memang sulit untuk dijelaskan. Buatku hal yang gaib masuk akal. Seperti saya ketemu Anda, sudah itu gaib. Hari ini ketemu, ngobrol, walaupun ada manajemen, ada segala macam tapi bahwa ada waktu, bisa ketemu dan saya tiba-tiba masih bisa berbicara dan sampean sehat. Gitu kan? Coba kalau di jalan ternyata ada hal yang tidak terduga, kita juga tidak akan pernah tahu. Tiba-tiba sakit atau…. Itu kan gaib? Saya menghargai itu semua. Setiap saat kita selalu bisa melihat hal yang gaib. Hal yang tidak bisa dijelaskan tapi kok ya nyata ada. Kalau soal kebal segala macam, itu bullshit. Aku melihat teknologi sekarang saja sudah takjub. Gila. Tadi baru omong-omong dengan teman-teman, “Apa sekarang zamannya Dajal ya?” Sekarang yang menguasai kita itu kan bermata satu? Lihat hand phone, laptop, televisi. Fenomena yang terjadi di mana-mana, semua orang begini semua (Iwan mempraktikkan gaya orang menatap layar ponsel). Di halte, rumah sakit, pasar, semua begitu semua (tertawa). Sudah dikuasai sama Dajal.

Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan, semua itu Dajal?
Enggak, aku bercanda. Aku pikir, tapi iya juga ya, mungkin itu yang dimaksud Dajal. Sekarang di Australia saja 40 persen etos kerja masyarakatnya turun gara-gara Facebook dan Twitter. Aku pikir di Indonesia begitu juga. Dan ternyata, benda itu memang bisa nyedot karena semua bisa curhat di situ. Anak zaman sekarang kalau pergi ke gereja, atau masjid tidak perlu lagi bawa Injil atau Al Quran. Bawa HP saja. Semua ada di situ (tertawa). Padahal mereka harus sadar, benda itu juga dibawa ke kamar mandi.

Facebook dan Twitter kan bisa merangsang orang untuk menulis?
Ada sisi positifnya memang. Kadang bisa tiba-tiba banyak penyair, penulis. Makanya tadi, pengertian Dajal itu tanda kutip. Itu alat untuk mempermudah, asalkan kita tidak dikuasai oleh teknologi. Aku punya teman pemusik. Aku tanya, kamu tidak bikin album? Dia bilang, “Tidak Bang, habis aku dipelintir terus sih. Aku males. Sekarang aku sudah dapat panggung di Twitter, ngapain sibuk ngurusin album.” Nah, dia dapat kebahagiaan di situ (Twitter) lantas ngapain harus capek-capek.

Anda juga suka Facebook?
Iya. Bangun tidur, tik..tik..tik..tik (jarinya menirukan orang mengetik), tahu-tahu sudah Zuhur, Asar, Magrib. Baru, akhirnya berasa, kok sendisendiku sakit semua ya? (tertawa)

Apa yang Anda lakukan di Facebook?
Menarik dan pengin tahu saja. Ingin tahu orang omong apa sih. Padahal cuma begitu-begitu saja. Cuma mengabarkan makan ini, tetek bengek. Tapi itu penting bahwa “Aku memang ada.” Aku hanya ingin tahu pikiranpikiran orang. Itu menarik. Kalau pikiran penulis yang serius, itu sudah biasa. Tapi kalau awam kayak aku, seperti melihat tulisan anak-anak atau lukisan orang primitif di dalam gua, garis-garisnya. Itu di luar dugaan. Itu karya murni loh. Buat aku orang yang suka main-main sama kata, itu bagus. Humornya, kasarnya, makimakinya. Ajaib.

Hanya karena ingin tahu?
O iya. Itu yang ingin saya tangkap dari Facebook, Twitter, bahwa “Aku ini ada.” Selama ini, hal itu kan tidak pernah diakui oleh suasana, sama situasi? Apakah di zaman Orla, Orba atau… Begitu tembus, berr… Orang habis macul langsung buka Facebook. Aku lihat di TV ada tukang becak di Yogya Facebook-an dengan pelanggannya yang bule. Cerdas kan? Tiba-tiba tahu dunia.

Anda masih butuh pengakuan?
Loh buat aku tetap penting, buat promosi. Sekarang, aku kan gunakan Indie Label, modal sendiri. Selain itu, lewat Facebook atau Twitter, aku punya hak jawab kalau ada orang omong atau menulis enggak benar tentang aku. Aku bisa bilang, itu salah. Jadi adil. Tapi ini, mungkin hanya sebentar. Nanti juga bosan.

Dari Facebook ada ide menulis lagu?
Banyak. Aku pernah melemparkan diskusi “Bagaimana pendapat Anda tentang pemerintahan sekarang?” Banyak tulisan yang masuk. Jawabannya rata-rata bilang “Tidak bagus.” Aku bingung, kok tidak bagus semua? Apa pertanyaannya salah? Terus aku balik pertanyaannya, “Apa sisi baik pemerintah kita?” Tahu tidak jawabannya apa? “Tidak ada juga Bang.” Waduh bagaimana sih, masa tidak ada baiknya? Ada satu dua jawaban, yang bilang ah males Bang mending saya main PS (Play Station - red).

Kalau menurut Anda sendiri?
Aku tidak bisa jawab itu. Tapi bahwa aku melihat orang demo, orang berkeluh kesah, rakyat juga diajari untuk konsekuen dengan pilihannya. Sebab, pemerintah dapat dukungan 60 persen. Iki loh pilihanmu. Walaupun ada yang omong juga, “Duh salah pilih gua,” tapi ada juga yang seneng, “Untung gua gak milih.” Kenyataannya 60 persen rakyat berbondong-bondong mencoblos, ma sa harus menjilat ludah sendiri? Ka lau ini sampai terjadi, pendidikan apa yang didapat? Kenapa kok masya rakat sampai seperti itu? Ini PR besar buat semuanya.

Tapi orang boleh kecewa kan?
Saya tidak berani omong karena terlalu banyak informasi. Contohnya Century. DPR hanya membuat rekomendasi politik, tapi yang bisa membuktikan itu semua adalah pengadilan. Kalau kata pengadilan memang tidak benar, ya harus diakui pemerintahan (sekarang) ini memang tidak benar. Rakyat juga harus berani menerima, pengadilan sudah menentukan tidak bersalah. Loh sekarang mau percaya sama siapa kalau tidak sama hukum? Yang ngatur kita kan hukum? Yang saya tahu, saya diajari untuk bisa taat hukum. Soal main suap segala macam, itu tugas lembaga yang berwenang meneliti hakim. Bagaimana kita bisa mendapat hakim atau jaksa bermutu di tengah orang yang tidak lagi percaya sama hukum karena budaya sogokan.

Jadi Anda masih percaya dengan hukum?
Iya dong. Itu konsekuensi kita bernegara. Masalah orang-orangnya, ya monggo yang jago-jago itu untuk mendapatkan hakim seperti Judge Bao.

Anda kayaknya sudah cocok jadi presiden?
Tapi aku tidak mau (tertawa). Bukan maqam-ku.

Presiden itu bukan wali, jadi tidak ada maqam?
Bukan begitu. Ngapain aku harus jadi presiden, wong dari musik saja aku sudah jadi presiden? Presiden kaus (tertawa). Itu lebih bisa bebas. Aku tidak tertarik, untuk jadi presiden. Itu harus menjatuhkan. Menang- kalah, berstrategi, merekayasa, dan kalau perlu harus membunuh. Duniaku bukan di situ. Aku tidak tertarik. Tak punya keinginan sedikit pun. Aku malah ingin jadi tukang sayur (tertawa).

Kenapa tukang sayur?
Lah ya enak saja. Menanam, memasak. Tumbuh kehidupan. Dodolan (jualan). Cita-cita waktu zaman sekolah, aku mau jualan sayur. Sambil main gitar bikin lagu, pakai bak terbuka, terus ngeliat kehidupan, ngeliat pasar. Belum

sempat dicoba?
Belum, tapi kalau dunia pasar pernah dicoba. Dulu, zaman ngamen. Kadang pernah satu saat aku narik omprengan. Buat menambah uang dapur sambil sekolah. Tapi itu tidak lama karena tertolong sama hits itu, Oemar Bakrie, dan lain-lain.

Ingin mempraktikkan jadi tukang sayur?
Sekarang aku mempraktikkan di sini (menunjuk ke halaman rumahnya). Ada jagung, ada cabai dan sebagainya.

Anda menanam sendiri?
Tidak. Ada yang bantu. Saya main gitar saja. Tapi ada petani. Tapi saya makan dari tanah sendiri, kecuali beras, pasti beli. Tapi saya lagi coba di daerah Jonggol.

Idenya terinspirasi dari almarhum WS Rendra?
Iya, pasti saling memengaruhi. Dari Mas Willy aku diajarkan soal mood. Mas Willy bilang “Kalau jadi petani kamu mood-mood-an, mati saja kamu. Bisa-bisa enggak makan.” Sejak itu aku rajin main musik, bikin lagu jadi bergairah. Saya pikir, oh itu yang didapat dari bertani. Tidak boleh malas. Bayangkan kalau petani malas. Itu cerita soal petani dari Mas Willy dan juga kerinduan masa kanakkanak. Cuma masalahnya, kemudian lahan pertanian kotor oleh pestisida segala macam, bahkan jadi industri.

Anda sepertinya berupaya hidup sehat, bahkan berhenti merokok, kenapa?
Zaman aku merokok, kalau tidur gelisah. Ketika sudah tidak merokok jadi segar. Memang enggak gampang. Untung aku pernah sakit. Dadaku sesak, puyeng, panas. Saat itu pas harus tur konser, ya sudah berhenti saja. Jadi sempat kesal, karena sakit enggak bisa nyanyi. Konser terganggu.

Lalu kenapa Anda senang bepergian?
Dasarnya saya memang pejalan. Saya senang dengan jalan ke Jawa Timur, Trans Sumatra, ke mana saja. Kalau di sini (menunjuk pekarangan rumahnya) Cuma dua hektare. Di jalan rumahmu dari Sabang sampai Merauke. Saya pernah ke Danau Toba, bermalam pakai tenda. Kena angin, waduh indah bener. Mau mandi tinggal nyemplung. Teh, kopi, gitar, nyanyi teriak-teriak. Ketemu orangorang belajar tentang budaya. Ketika saya pergi ke Sukabumi, keli ling Jawa Barat pernah diusir orang. Ceritanya macam-macam. Susah untuk dijelaskan. Dari sana, tiba-tiba syair, bunyi- bunyian itu datang dengan sendirinya. Kita bisa melihat anak nelayan telanjang main bola pagi-pagi ha bis Subuh, ada ibu menjemur. Saya per nah menggelandang di emperan ru mah.

Tapi Anda juga mulai dikritik, karena sekarang cuma tinggal di “kamar?”

Memang, itu betul. Ada satu masa saya dulu bergerak terus sampai stres dan depresi karena terlalu banyak bergerak sampai orang tidak tahu rumah saya, tapi saya tahu rumah orang (tertawa). Ada teman yang menasihati. “Elu diam saja, tidak usah bergerak lagi.” Ya sudah, akhirnya saya diam 10 tahun lama nya saya diam. Jadi OI, jadi ini atau itu dari diam. Keasyikan mendengarkan lagu-lagu, dari Arab. Mongol, China, India, Bulgaria, macam-macam. Ternyata diam itu juga bergerak. Sekarang sudah mentok. Sepuluh tahun sudah cukup. Aku bergerak ke Nias ketemu sama orang-orang. Ada druri alat musik yang dimainkan para petani.
Saya jadi malu. Bertahuntahun orang ini duduk jongkok memainkan druri dan bahagia. Nyirih, sehabis itu lapar, dia macul, hidup lagi bersama istrinya, main lagi. Andai aku hanya tinggal di rumah dan cuma mendengarkan kaset, aku tidak bisa sentuh dan bersalaman sama dia. Tidak bisa ngobrol, dan kecipratan sirihnya (tertawa). Itu baru satu orang. Padahal banyak benar orang Indonesia. Ada 200 juta orang punya potensi seperti itu. Kemarin baru melihat acara Patung Mentawai. Gila (tertawa). Aku mendengar musiknya sebelum acara diskusi. Malu aku. Tiga puluh tahun main musik, ternyata masih terus gelisah. Padahal aku kurang apa, coba? Dapat penghargaan, dapat tulisan dari wartawan, dapat uang. Kenapa saya tidak belajar dari orang-orang itu, tentang kebahagiaan bermusik? _


BIODATA
Nama:
Virgiawan Listanto
Tempat/ tanggal lahir:
Jakarta, 3 September 1961
Istri:
Rosanna
Anak:
◗ Galang Rambu Anarki (Almarhum)
◗ Annisa Cikal Rambu Basae
◗ Rayya Rambu Robbani
Pendidikan:
◗ SMPN 5 Bandung
◗ SMAK BPK Bandung
◗ STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang
IISIP)
◗ Institut Kesenian Jakarta (http://koran-jakarta.com/)
Susno Duadji : soal skandal Century dan seputar pencopotan dirinya.

Susno Duadji : soal skandal Century dan seputar pencopotan dirinya.

Add Comment
Hanya di Indonesia - Hari-hari mantan Kabareskrim, Susno Duadji kini tak sesibuk dulu. Selain hanya aktif melayani permintaan untuk menjadi pembicara di berbagai diskusi, selebihnya dia hanya berdiam di rumah. “Aktivitas saya paling hanya main dengan cucu. Sudah masuk play group dia,” katanya santai. Kenyataan itu kontras ketika dia masih menjabat dan kemudian disibukkan dengan kasus perseteruan KPK-Polri. Saat itu, waktu Susno habis tersita oleh pemberitaan pers, melayani pernyataan DPR hingga akhirnya dia dicopot. Sejak itu, dia kemudian merasa memiliki waktu. Berat badannya malah naik, tensi darahnya turun. “Saya malah wajib makan kambing,” kata Susno. Kamis pekan lalu, pria kelahiran Pagaralam, Sumatra Selatan itu, menerima Adiyanto, Kristian Gin ting dan Rusdi Mathari dari Koran Jakarta untuk sebuah wawancara panjang. Dia bercerita soal kariernya di kepolisian, pencopotannya dan sikapnya menghadapi isu miring yang ditujukan kepadanya, berikut petikannya:

Sewaktu jadi Kapolda Jabar, Anda pernah mengumpulkan se luruh Kapolres dan berkata “Jangan setor saya lagi.” Apa maksudnya?
Tidak hanya Kapolres tapi juga kepala lalu lintas. Bukan “Jangan setor saya lagi.” “Lagi”-nya tidak ada (tertawa). Kalau “lagi” itu ada berarti sebelumnya sudah terima (tertawa). “Jangan setori saya.”

Berarti selama ini memang ada setoran dari Kapolsek ke Kapolres, Kapolres ke Kapolda dan seterusnya? Kalau itu tidak usah Anda tanya. Kalau misalnya Kapolres rapat ke Polda bawa oleh-oleh, mampir ke ruangan memberi amplop. Kalau Kapolda ke daerah misalnya kamar dibayari, bensin diberikan penuh. Dari mana itu duitnya? Apa enggak setoran itu? Tidak ada anggaran untuk itu. Anggaran Polres dari atas. Kalau Kapolda dinas luar daerah, sudah ada anggarannya. Tapi, kenapa uang dinasnya ke daerah itu tidak dipakai, meski pun diambil juga? Kalau saya Kapolda tidak boleh itu. Terus, kalau rapat ya rapat. Tidak perlu mampir-mampir ke ruangan A atau B untuk setoran duit itu. Samasama dapat gaji kok.

Sewaktu peluncuran buku Anda di TIM Rabu kemarin, Anda mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berani?
Bukan berani. Saya sering dibilang begini, “Pak Susno setelah dicopot ke napa begitu?” Tidak dicopot pun saya berani, tapi dalam kantor kepada sesama kolega. Mana ada rapat dengan saya, orang tidak me rah te linga nya. Tidak pernah saya mau memuji-muji. Kalau pengadaan barang dan sebagainya, saya coret semua, saya tolak. Jadi, bukan kali ini saja. Sudah dari dulu. Apakah saya berani? Justru saya penakut. Takut masuk penjara, takut dimarahi rakyat. Yang berani yang diam-diam itu. Diam-diam terima pungli, diam-diam back up preman, itu berani.

Anda juga mengungkap soal kasus dugaan korupsi pegawai pajak yang belum selesai ditangani Mabes Polri. Bagaimana ceritanya?
Ada laporan dari PPATK, ada pegawai pajak namanya Gayus Tambunan. Pegawai pajak rendahan, paling baru lima tahunan bekerja. Di rekening nya itu selalu masuk-keluar duit. Sampai lebih kurang 25 miliar rupiah. Saya sudah pensiun (turun) itu, kalau ini tidak diawasi dengan ketat, pasti hantu blau bermain. Satu bulan sebelum saya turun, saya panggil Direkturnya Pak Edmon, kemudian penyidik Budi, kemudian Kombes Eko Budi dan Kompol Arafat. Kasus ini tangani baik-baik. Ungkap bukan money laundry-nya saja, tapi ungkap juga korupsinya. Ini akan bisa mengarah ke orang pajak.

Hasilnya?
Ternyata dua bulan setelah saya turun, saya mendapat informasi, satu diajukan, satunya lagi sudah dicairkan. Korupsinya tidak diungkap. Kalau 25 miliar rupiah dicairkan berapa untuk cincai? Tapi, kita berpikir positif saja, tidak ada sogoknya. Tapi, itu tetap salah. Alangkah baiknya poli si ini. Korupsinya tidak diungkap, duit haram dikembalikan, kemudian po lisi tidak dapat duit serupiah pun. Baik tidak polisi itu? Kita serahkan ke pada masyarakat percaya atau tidak. Itulah markus (makelar kasus).

Soal kasus Century, kenapa aset Robert Tantular sukar ditarik?
Susah apanya? Sudah saya bekukan. Yang susah itu mencarinya. Sekarang sudah ketemu, setelah ketemu kan ada prosesnya melalui hukum internasional, namanya mutual legal assistance. Persoalannya yang menangani sekarang mengerti apa tidak? Itu saja. Dia tahu counterpart di luar apa tidak, bagaimana berunding? Itu pekerjaan saya. Setelah ketemu, ada bilateral dengan tempat duit itu ada. Beritikad baik pada kita membantu membekukan. Setelah itu kita cerita kasus, lalu inter-dept. Itu sudah tidak polisi lagi tapi G to G. Polisi menyerahkan ke Dephukham, bersama dengan Deplu.

Kapan baru bisa diambil?
Menunggu keputusan hukum pengadilan di Indonesia dengan kekuatan hukum tetap. Sekarang belum tetap. Di Indonesia panjang cerita pengadilan itu. Robert Tantular sudah dihukum di PN, banding di PT, lalu kasasi di MA. Harus ditunggu lagi. Kalau RT dinyatakan tidak bersalah, tidak bisa diambil duit itu. Tapi, kalau RT bersalah keputusan pengadilan Indonesia dikirim ke negara setempat. Persoalan itu juga harus ada diplomasi. Sekarang setelah saya tidak di situ apakah Bareskrim masih sering kontak dengan negara setempat? Apakah Menhukham masih sering kontak dan sebagainya? Jangan hanya duduk, diam saja. Kekurangan kita di luar negeri adalah diplomasi.

Waktu Robert Tantular ditangkap, apa kata dia waktu itu?
Dia mengaku enggak salah. Katanya akan merestorasi, kemudian baru bikin perjanjian dan menandatangani dokumen dengan BI. Jadi, kalau kata Gubernur BI, RT dicekal ke luar negeri. Tapi, nyatanya setelah di cekal dia ke luar negeri. Lalu balik lagi. Itu formalitas saja. Tidak tahu mana duluan, cekal dulu apa ke luar negerinya (tertawa). Hanya Allah saja yang tahu. Setelah itu, dia katakan RT tidak bersalah. Saya bilang dibawa ke kantor dulu untuk diperiksa. Kalau nanti tidak bersalah akan dikembalikan. Begitu diperiksa belum sampai satu hari sudah terbukti kesalahannya. Dan sampai di pengadilan juga dihukum kan?

Anda ikut langsung memeriksa?
Sempat. Itu kasus besar. Tapi, kalau mengetik ya tidak. Saya mendampingi pemeriksa sampai terbukti dia (RT), cocok dengan apa yang kita tuduhkan, baru saya pulang tengah malam.

Anda yakin RT itu orang tidak benar?
Bukan yakin, tapi tidak meleset kan? Dari mana cerita dia tidak bersalah, wong dia (RT) yang mengeluarkan kredit, memerintahkan kredit tidak ada jaminan. Tidak bersalah begitu? Cucu saya saja bisa bilang dia salah. Sama saja seperti merebut mainan. Cucu saya saja tahu kalau mainan direbut sama orang. Kalau Gubernur BI bilang dia tidak salah, berarti kalah pintar sama cucu saya.

Di Pansus Anda memberikan catatan itu?
Saya katakan, tertulisnya ada dan saya berikan ke Pansus. Saya ini memberi bola ke Pansus. Yang menggolkan adalah Pansus. Data dari saya kerugian bank 1,3 T sesuai dengan Perppu. Walau Perppu tidak disetujui. Taruhlah disetujui. Lebih dari 1,3 T ini haram. Tapi bukan urusan saya itu, karena saya tidak penyidik lagi.

Pada saat Anda dipanggil dan berbicara di Pansus, Anda tidak ditegur oleh Kapolri?
Tidak ada. Menegur itu kurang kerjaan, pekerjaan masih banyak kok. Apa salah saya harus ditegur? Kalau saya katakan misalnya Century itu kasusnya terjadi di Amerika, mungkin saya ditegur karena salah. Ini saya jelaskan yang sebenar-benarnya kok, masak saya ditegur. Dia (Kapolri) mungkin sudah pengalaman. Pengalaman kasus Antasari, saya tidak salah kok ditegur. Kalau ada salahnya baru ditegur. Ini enggak ada salahnya kok ditegur, harusnya dapat pujian. Sri Mulyani saja salah dapat pujian, masak saya tidak dapat pujian. Waktu orang KPK, yang sudah dihebohkan saja tidak terbukti bersalah kan Perppu-nya dicabut dan didudukkan lagi. Saya justru dari awal sampai ujung tidak ada salahnya, tidak dicabut-cabut. Mana ini Perppu saya agar rekomendasi Tim 8 dicabut. Dulu Tim 8 kan merekomendasikan saya untuk dicopot. Kemarin dua fraksi DPR secara tegas mengatakan agar ada rehabilitasi. Mana rehabilitasinya?

Anda menuntut rehabilitasi?
Oh, tidak. Saya ingin melihat, ini negara hukum, bung! Coba, aparat atau pejabat yang berwenang apa yang dilakukan kalau saya tidak bersalah? Apa saya harus mengemis? Mestinya tak perlu mengemis. Tinggal bilang saja “Oh, Susno memang tidak salah, harus direhabilitasi.” Saya ingin lihat seorang jenderal bintang tiga kalau diam saja, ada tindakan tidak? Kirakira saya yakin, Insya Allah tidak. Tapi, harusnya kan ada tindakan menyatakan saya tidak bersalah. Pimpinan KPK karena desakan masyarakat langsung direhabilitasi. Sekarang tidak ada masyarakat yang mendesak rehabilitasi untuk saya. Namun, di negara hukum mestinya aparat itu bekerja janganlah berdasarkan desakan. Bekerja menurut tu gasnya. Mau didudukkan semenit atau sedetik, dicopot lagi silakan. Tidak dicopot pun saya mundur, tapi bukan mundur karena desakan Tim 8. Susno direhabilitasi, dudukkan lagi sebagai Kabareskrim satu menit. Satu menit setelah didudukkan, saya akan mengumumkan dengan sukare la saya mundur. Orang kan sudah tahu saya tidak bersalah. Tapi, ini diam saja. Mudah-mudahan sampai saya pensiun nanti, diam saja ya? (tertawa).

Belum ada pembicaraan dari Kapolri soal itu?
Ngapain bicara-bicara, wong saya turun juga tidak dibicarakan kok? Dia (Kapolri) sudah tahu, kalau saya salah diproses. Tapi, kemarin saya senang sekali masuk sidang paripurna. Bukan gampang itu. Ada 250 juta mengadili saya, tidak bersalah supaya direhabilitasi. Mana? Mestinya, pagi rakyat omong begitu, lima menit kemudian sudah diumumkan. Ini kelihatannya belum, apa saya lupa ya? Sudah direhabilitasi, sudah belum ya? Tapi, tampaknya belum (tertawa).

Waktu di pansus Anda ngomong, “Itu bohong saya tidak mengajukan surat pengunduran diri.” Bohong benar. Kenapa Kapolri bisa berkata seperti itu ya?
Tanya saja sama Kapolri kalau itu.

Apa benar, Anda waktu itu mau berdiri?
Saya mau berdiri, tapi sama Pak Makbul (Wakapolri) tidak boleh. Siapa yang mundur dan mengajukan surat? Itu kan menipu rakyat saja. Mana? Cek saja suratnya, kalau ada berarti saya yang bohong.

Lalu karena kesalahan itu, Kapolri minta maaf secara pribadi?
Akan (tertawa). Akan. Bulan depan, tahun depan juga bisa kan? Setelah dia (Kapolri) pensiun bisa juga. Kalau pejabat publik suka bohong, susah. Makanya pejabat publik yang memberikan pelayanan-pelayanan itu seperti Kapolri, Jaksa Agung, MA, Hakim Agung, Ketua KPK, Gubernur BI itu dipilih oleh rakyat yang diwakili di DPR. Sekarang, sayang, DPR menyeleksi tidak bagus. Karena partisipasi rakyat tidak ikut. Kalau mau pemilihan pejabat itu, di mana peran rakyat? Mestinya buat saja seperti pooling, apakah melalui SMS atau yang lainnya seperti pemilihan presiden. Persentase yang terbesar dari sekian calon yang dipilih oleh rakyat itulah yang seharusnya yang diseleksi oleh DPR. Paling tidak cara ini bisa menggiring DPR atau presiden supaya tidak terlalu jauh dengan kemauan rakyat.

Kembali ke soal KPK, apakah kepolisian waktu itu memang menemukan bukti Chandra-Bibit bersalah?
Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak tahu. Saya tidak pernah membaca berkas itu. Kalau saya katakan iya terlibat, berarti saya tahu persis itu. Saya tidak pernah baca berkasnya, dan tidak harus baca dan memang tidak perlu baca. Dalam organisasi kepolisian jelas sekali aturan tugas itu. Kalau ada suatu satgas tertentu, maka bekerja menurut aturan satgas. Kalau saya mencampuri, maka saya melanggar kode etik profesi saya. Tidak boleh. Satgas tidak bertanggungjawab ke saya, kok saya minta tanggung jawabnya? Itu jenderal yang tidak tahu aturan. Jadi, saya tidak tahu. Sepengetahuan saya hanya menurut dari berita koran itu.

Di luar istilah Cicak-Buaya sebenarnya, apa penyebab hingga Anda menjadi bulan-bulanan media?
Pers kan tidak tahu. Wajar. Kenapa? Pers tidak senang kalau KPK dikriminalisasikan. Yang menyidik itu adalah polisi, Mabes Polri. Embahnya penyidik itu siapa? Kabareskrim kan? Sehingga jelas sekali alamat itu dituduhkan kepada saya, itu tepat. Kemudian, dari Bareskrim atau Mabes Polri tidak ada bantahan? Ya, sudah tepat sekali. Makanya saya bilang berterima kasih kepada pers. Anda telah bekerja sukses menurunkan saya, kompak dan berhasil, ya selamat. Walaupun nanti kemudian tahu bahwa sasarannya keliru.

Soal isu suap dari Boedi Sampoerna, apa benar Anda sudah hendak bertemu dengan pengacaranya di Hotel Ambara Jakarta Selatan?
Tidak benar itu. Saya tetap ke Hotel Ambara. Dan kalau mau menerima suap, di mana yang paling aman? Ya di kantor saya (tertawa). Kalau ada KPK masuk ke situ ya ndak bisa. Wong ada yang jaga di depan tengah dan di sini. Tapi tidak pernah terpikir di situ kan?

Lalu, apa yang membuat Anda marah?
Saya turun itu 24 November 2009, kalau tidak salah. Tiga bulan tidak saya persoalkan. Saya senangsenang saja di rumah seperti ini. Karena bagi saya jabatan, pangkat tidak ada masalah. Saya marah begitu saya bersaksi di sidang Antasari Azhar, saya diancam mau dipecat. Begitu saya selesai bersaksi, saya mau ke kantor, istri telepon. Istri saya bertanya posisi saya. Dia mengatakan, selama bersaksi tadi Mabes mempersoalkan, saya mau dipecat, atau mau apalah. Mabes tahu dari televisi, karena disiarkan secara langsung. Saya tidak jadi ke kantor. Saya kumpulkan keluarga saya di rumah. Saya bilang “Saya akan lawan. Nanti, saya akan pergi ke pers, ke stasiun televisi. Maksudnya melawan, tidak melalui senjata karena saya pasti kalah. Saya akan tunjukkan perlawanan secara hukum. Saya tidak bersalah, masak bersaksi saja tidak boleh, diancam pecat. Kenapa Hadiatmoko, Iwan Bule bisa bersaksi tapi tidak dipecat. Padahal, waktu itu saya kan masih jadi Kabareskrim.

Sewaktu diangkat jadi Kabareskrim, ada isu, karena Anda “dekat” dengan Hatta Radjasa?
Sumatra Selatan penduduknya 16 juta orang. Saya di Pagaralam dan Pak Hatta di Lahat. Jaraknya enam jam lebih. Saya kenal Pak Hatta karena dia menteri, Pak Hatta juga kenal saya karena sekarang nama saya sering masuk media. Tidak pernah sekampung, tidak pernah satu pekerjaan, satu provinsi. Apakah kalau satu provinsi saling kenal. Padahal jumlah penduduknya 16 juta. Apa bisa saling kenal?

Kalau soal istri Anda adala kolega dari Bu Ani Yudhoyono?
Istri saya orang Solo dan Bu Ani orang Purwokerto. Itulah, publik yang diberikan sajian itu seharusnya diralat. Pertanyaannya, mengapa terjadi seperti itu? Karena Susno itu diuraikan oleh pers dan LSM, sebagai makhluk sangat kuat. Sampai ada pertanyaan dari seorang wartawan di Depkominfo kepada Kapolri, “Pak Kapolri, apa susahnya menurunkan Susno Duadji, kuat sekali dia?” Tapi, Kapolri tidak mau memberikan jawaban yang jujur, malah belok sana dan sini. Saya itu makhluk yang lemah. Tak ada kartu truf. Tidak ada yang bela saya dari segi manusia yang punya posisi kuat. Yang bela hanya Tuhan saja, karena kejujuran.



BIODATA
Nama:
Susno Duadji
Tempat/Tanggal Lahir:
Pagaralam, 1 Juli 1954
Pendidikan:
◗ Akabri Kepolisian 1977
◗ Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian 1989
◗ Sesko AD 1995
◗ Sespati Polri 2003
◗ Lemhanas (KSA XIV/2006)
Karier:
◗ Kasat Serse Polres Wonogiri
◗ Kapolsekta Banjarsari, Solo
◗ Kapolres Maluku Utara
◗ Wakapolwil Kota Besar Surabaya
◗ Kabidrapkum Divbinkum Polri
◗ Wakil Kepala PPATK
◗ Kapolda Jawa Barat
◗ Kabareskrim
FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/WACHYU AP
Irwandi Jaswir : Raih Penghargaan Peneliti Terbaik

Irwandi Jaswir : Raih Penghargaan Peneliti Terbaik

Add Comment
Hanya di Indonesia - Tidak sedikit anak bangsa yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata internasional. Salah satunya ialah Irwandi Jaswir, alumni Institut Pertanian Bogor yang kini menjadi pengajar di International Islamic University, Malaysia. Pria berusia 40 tahun itu pada Rabu (10/3) baru saja dianugerahi penghargaan Outstanding Researcher Award 2010 oleh universitas tempatnya mengajar.


Penghargaan tahunan yang diraih Irwandi itu diperuntukkan bagi dosen yang dinilai menunjukkan prestasi di bidang penelitian. “Rasanya sangat puas dan gembira menerima penghargaan peneliti terbaik 2010 karena ini adalah penghargaan yang paling bergengsi dari belasan penghargaan yang diumumkan selama ajang tahunan ini," kata pria asal Medan, Sumatra Utara itu.

Irwandi patut berbangga tentunya. Betapa tidak, universitas tempatnya bekerja termasuk salah salah satu universitas internasional yang banyak peminatnya. Di sana terdapat 20 ribu mahasiswa yang berasal dari sekitar100 negara dan sekitar 2 ribu dosen yang berasal dari 80 negara.

Penghargaan yang diraih Irwandi didasari atas prestasi yang sudah dilakukannya sepanjang 2009. Di antaranya, dia sudah memublikasikan 11 artikel di jurnal internasional, 10 artikel di konferensi internasional, lima book chapters (bab buku), serta 4 anugerah internasional, termasuk Asia Pacific Young Scientist Award pada tahun lalu.

Dalam salah satu artikelnya berjudul Bersinergi Menuju Pentas Dunia sewaktu dirinya dicalonkan sebagai Rektor ITB 2010-2014, pria yang dibesarkan di Bukittinggi, Sumatra Barat, itu pernah mengungkapkan keinginannya untuk menuju “pentas dunia”. Demi mewujudkan tekadnya itu Irwandi pun lebih gigi melakukan riset serta pelbagai aktivitas terkait.

Kegigihan Irwandi pun didukung kemudahan yang diberikan pihak universitas untuk mendorong civitas akademi aktif melakukan riset serta produktif dalam menghasilkan berbagai publikasi di jurnal-jurnal ilmiah luar negeri. Selain itu, pihak universitas juga mengurangi sistem birokrasi terkait riset, lebih transparan dan akuntabel terhadap pemberian dana penelitian, membuat sistem berjenjang dan terstruktur kelompok-kelompok riset, mulai dari research group, research unit, research centre, hingga research institute.

Produktivitas para peneliti juga bisa semakin meningkat melalui penerapan sistem rewards and punishment yang seimbang, pengadaan dukungan fasilitas dan kemudahan, serta adanya inisiatif para peneliti untuk ikut serta di ajang-ajang riset dan inovasi dunia.

Perjalanan Irwandi yang telah menoreh prestasi di bidang penelitian itu tergolong panjang. Seusai memperoleh gelar sarjana dari IPB, dia melanjutkan pendidikan S-2 di Universiti Pertanian Malaysia (UPM) bidang kimia dan biokimia pangan. Setelah lulus, dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Malaysia dan Kanada untuk mengambil program doktoral di bidang yang sama di UPM dan University of British Columbia, Kanada. Sejak tahun 2001, ayah tiga orang anak itu memulai kariernya di Department of Biotechnology, International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, hingga sekarang.(Koran-jakarta.com)