Iwan Fals : Facebook, Dajal, dan keinginannya menjelajah Nusantara

Hanya di Indonesia - Bulan ini, Iwan Fals baru saja meluncurkan album baru berjudul Ke seimbang an. Album ini lahir dari kontemplasinya terhadap alam, terutama kehidupan petani. Tak heran, album ini didominasi tema lingkungan. “Mas Willy (almarhum Rendra) bilang jangan sakiti pohon,” ujar Iwan, yang kini juga menggiatkan gerakan menanam pohon. Di Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, tempat kediamannya seluas dua hektare, penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listyanto ini, Kamis pekan lalu menuturkan berbagai hal kepada Adiyanto, Agus Triyono dan Rusdi Mathari dari Koran Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya Anda mau tampil di acara Kick Andy?
Sudah dua tahun lebih mereka minta terus itu. Akhirnya aku enggak enak juga. Dia datang ke sini waktu aku konser. Penonton waktu itu tahu dia datang. Mereka bilang, wah tim Kick Andy datang. Terus tanya sama penonton, gimana nih, aku mau diwawancara Kick Andy? Mereka bilang, setujuuu...(tertawa). Jadi mereka minta sudah lama, tapi aku tidak pernah mau. Soalnya belum pernah talk show seperti itu.

Kenapa tidak suka diwawancara?
Aku kurang bisa menjelaskan sesuatu. Kurang bisa detail dan berurutan. Kadang pikiran saya mendahului tapi ini (menunjuk ke mulut) tidak. Tidak nyambung. Takut malah jadi salah persepsi. Intinya itu, bukan dunia saya. Walaupun teman-temanku suka bikin diskusi di sini setiap minggu, namanya Reboan, diadakan tiap Rabu malam). Apa saja didiskusikan. Tentang kesehatan, politik, revolusi.

Siapa saja yang datang?
Banyak. Sri Bintang Pamungkas, Hermawan Sulistyo, ada juga menteri, teman-teman OI (Orang Indonesia, kelompok fans Iwan), sopo ae. Ada yang pernah korban malapraktik. Awalnya ingin jadi ada kelas. Kuliah kan mahal. Jadi lumayan dapat langsung dari yang asli dan ahlinya. Tapi dari diskusi itu hampir semua lini, isinya kabar buruk terus (tertawa). Aku sebagai kepala rumah ditanyain orang terus.

Kabar buruknya, apa saja?
Macam-macam. Upah buruh, soal kesehatan, politik. Tapi sudah saya stop sementara. Setahun atau dua tahun lalu. Itu seminggu sekali. Tema satu belum selesai, sudah pindah ke tema lain. Biasanya kami menyediakan kopi, makanan kecil, terus kalau ada rezeki, ada uang saku buat pembicara. Kita juga kasih plakat penghargaan.

Anda juga pernah jadi pembicara?
Pernah, waktu itu temanya cinta.

Apa yang Anda ceritakan waktu itu?
Cinta itu gaib (tertawa), gitu aja. Defi nisi cinta kan banyak? Kalau buka internet cari tentang cinta, werrrrr… isinya beragam. Intinya waktu itu kita mendiskusikan tentang cinta, kemudian ada yang menyanggah, ada yang ngomong tidak percaya sama cinta. Seneng banyak temen.

Anda kayaknya juga suka dengan hal-hal gaib?
Oh tidak. Aku justru rasional. Tapi apa ya? Sulit menjelaskan sesuatu yang memang sulit untuk dijelaskan. Buatku hal yang gaib masuk akal. Seperti saya ketemu Anda, sudah itu gaib. Hari ini ketemu, ngobrol, walaupun ada manajemen, ada segala macam tapi bahwa ada waktu, bisa ketemu dan saya tiba-tiba masih bisa berbicara dan sampean sehat. Gitu kan? Coba kalau di jalan ternyata ada hal yang tidak terduga, kita juga tidak akan pernah tahu. Tiba-tiba sakit atau…. Itu kan gaib? Saya menghargai itu semua. Setiap saat kita selalu bisa melihat hal yang gaib. Hal yang tidak bisa dijelaskan tapi kok ya nyata ada. Kalau soal kebal segala macam, itu bullshit. Aku melihat teknologi sekarang saja sudah takjub. Gila. Tadi baru omong-omong dengan teman-teman, “Apa sekarang zamannya Dajal ya?” Sekarang yang menguasai kita itu kan bermata satu? Lihat hand phone, laptop, televisi. Fenomena yang terjadi di mana-mana, semua orang begini semua (Iwan mempraktikkan gaya orang menatap layar ponsel). Di halte, rumah sakit, pasar, semua begitu semua (tertawa). Sudah dikuasai sama Dajal.

Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan, semua itu Dajal?
Enggak, aku bercanda. Aku pikir, tapi iya juga ya, mungkin itu yang dimaksud Dajal. Sekarang di Australia saja 40 persen etos kerja masyarakatnya turun gara-gara Facebook dan Twitter. Aku pikir di Indonesia begitu juga. Dan ternyata, benda itu memang bisa nyedot karena semua bisa curhat di situ. Anak zaman sekarang kalau pergi ke gereja, atau masjid tidak perlu lagi bawa Injil atau Al Quran. Bawa HP saja. Semua ada di situ (tertawa). Padahal mereka harus sadar, benda itu juga dibawa ke kamar mandi.

Facebook dan Twitter kan bisa merangsang orang untuk menulis?
Ada sisi positifnya memang. Kadang bisa tiba-tiba banyak penyair, penulis. Makanya tadi, pengertian Dajal itu tanda kutip. Itu alat untuk mempermudah, asalkan kita tidak dikuasai oleh teknologi. Aku punya teman pemusik. Aku tanya, kamu tidak bikin album? Dia bilang, “Tidak Bang, habis aku dipelintir terus sih. Aku males. Sekarang aku sudah dapat panggung di Twitter, ngapain sibuk ngurusin album.” Nah, dia dapat kebahagiaan di situ (Twitter) lantas ngapain harus capek-capek.

Anda juga suka Facebook?
Iya. Bangun tidur, tik..tik..tik..tik (jarinya menirukan orang mengetik), tahu-tahu sudah Zuhur, Asar, Magrib. Baru, akhirnya berasa, kok sendisendiku sakit semua ya? (tertawa)

Apa yang Anda lakukan di Facebook?
Menarik dan pengin tahu saja. Ingin tahu orang omong apa sih. Padahal cuma begitu-begitu saja. Cuma mengabarkan makan ini, tetek bengek. Tapi itu penting bahwa “Aku memang ada.” Aku hanya ingin tahu pikiranpikiran orang. Itu menarik. Kalau pikiran penulis yang serius, itu sudah biasa. Tapi kalau awam kayak aku, seperti melihat tulisan anak-anak atau lukisan orang primitif di dalam gua, garis-garisnya. Itu di luar dugaan. Itu karya murni loh. Buat aku orang yang suka main-main sama kata, itu bagus. Humornya, kasarnya, makimakinya. Ajaib.

Hanya karena ingin tahu?
O iya. Itu yang ingin saya tangkap dari Facebook, Twitter, bahwa “Aku ini ada.” Selama ini, hal itu kan tidak pernah diakui oleh suasana, sama situasi? Apakah di zaman Orla, Orba atau… Begitu tembus, berr… Orang habis macul langsung buka Facebook. Aku lihat di TV ada tukang becak di Yogya Facebook-an dengan pelanggannya yang bule. Cerdas kan? Tiba-tiba tahu dunia.

Anda masih butuh pengakuan?
Loh buat aku tetap penting, buat promosi. Sekarang, aku kan gunakan Indie Label, modal sendiri. Selain itu, lewat Facebook atau Twitter, aku punya hak jawab kalau ada orang omong atau menulis enggak benar tentang aku. Aku bisa bilang, itu salah. Jadi adil. Tapi ini, mungkin hanya sebentar. Nanti juga bosan.

Dari Facebook ada ide menulis lagu?
Banyak. Aku pernah melemparkan diskusi “Bagaimana pendapat Anda tentang pemerintahan sekarang?” Banyak tulisan yang masuk. Jawabannya rata-rata bilang “Tidak bagus.” Aku bingung, kok tidak bagus semua? Apa pertanyaannya salah? Terus aku balik pertanyaannya, “Apa sisi baik pemerintah kita?” Tahu tidak jawabannya apa? “Tidak ada juga Bang.” Waduh bagaimana sih, masa tidak ada baiknya? Ada satu dua jawaban, yang bilang ah males Bang mending saya main PS (Play Station - red).

Kalau menurut Anda sendiri?
Aku tidak bisa jawab itu. Tapi bahwa aku melihat orang demo, orang berkeluh kesah, rakyat juga diajari untuk konsekuen dengan pilihannya. Sebab, pemerintah dapat dukungan 60 persen. Iki loh pilihanmu. Walaupun ada yang omong juga, “Duh salah pilih gua,” tapi ada juga yang seneng, “Untung gua gak milih.” Kenyataannya 60 persen rakyat berbondong-bondong mencoblos, ma sa harus menjilat ludah sendiri? Ka lau ini sampai terjadi, pendidikan apa yang didapat? Kenapa kok masya rakat sampai seperti itu? Ini PR besar buat semuanya.

Tapi orang boleh kecewa kan?
Saya tidak berani omong karena terlalu banyak informasi. Contohnya Century. DPR hanya membuat rekomendasi politik, tapi yang bisa membuktikan itu semua adalah pengadilan. Kalau kata pengadilan memang tidak benar, ya harus diakui pemerintahan (sekarang) ini memang tidak benar. Rakyat juga harus berani menerima, pengadilan sudah menentukan tidak bersalah. Loh sekarang mau percaya sama siapa kalau tidak sama hukum? Yang ngatur kita kan hukum? Yang saya tahu, saya diajari untuk bisa taat hukum. Soal main suap segala macam, itu tugas lembaga yang berwenang meneliti hakim. Bagaimana kita bisa mendapat hakim atau jaksa bermutu di tengah orang yang tidak lagi percaya sama hukum karena budaya sogokan.

Jadi Anda masih percaya dengan hukum?
Iya dong. Itu konsekuensi kita bernegara. Masalah orang-orangnya, ya monggo yang jago-jago itu untuk mendapatkan hakim seperti Judge Bao.

Anda kayaknya sudah cocok jadi presiden?
Tapi aku tidak mau (tertawa). Bukan maqam-ku.

Presiden itu bukan wali, jadi tidak ada maqam?
Bukan begitu. Ngapain aku harus jadi presiden, wong dari musik saja aku sudah jadi presiden? Presiden kaus (tertawa). Itu lebih bisa bebas. Aku tidak tertarik, untuk jadi presiden. Itu harus menjatuhkan. Menang- kalah, berstrategi, merekayasa, dan kalau perlu harus membunuh. Duniaku bukan di situ. Aku tidak tertarik. Tak punya keinginan sedikit pun. Aku malah ingin jadi tukang sayur (tertawa).

Kenapa tukang sayur?
Lah ya enak saja. Menanam, memasak. Tumbuh kehidupan. Dodolan (jualan). Cita-cita waktu zaman sekolah, aku mau jualan sayur. Sambil main gitar bikin lagu, pakai bak terbuka, terus ngeliat kehidupan, ngeliat pasar. Belum

sempat dicoba?
Belum, tapi kalau dunia pasar pernah dicoba. Dulu, zaman ngamen. Kadang pernah satu saat aku narik omprengan. Buat menambah uang dapur sambil sekolah. Tapi itu tidak lama karena tertolong sama hits itu, Oemar Bakrie, dan lain-lain.

Ingin mempraktikkan jadi tukang sayur?
Sekarang aku mempraktikkan di sini (menunjuk ke halaman rumahnya). Ada jagung, ada cabai dan sebagainya.

Anda menanam sendiri?
Tidak. Ada yang bantu. Saya main gitar saja. Tapi ada petani. Tapi saya makan dari tanah sendiri, kecuali beras, pasti beli. Tapi saya lagi coba di daerah Jonggol.

Idenya terinspirasi dari almarhum WS Rendra?
Iya, pasti saling memengaruhi. Dari Mas Willy aku diajarkan soal mood. Mas Willy bilang “Kalau jadi petani kamu mood-mood-an, mati saja kamu. Bisa-bisa enggak makan.” Sejak itu aku rajin main musik, bikin lagu jadi bergairah. Saya pikir, oh itu yang didapat dari bertani. Tidak boleh malas. Bayangkan kalau petani malas. Itu cerita soal petani dari Mas Willy dan juga kerinduan masa kanakkanak. Cuma masalahnya, kemudian lahan pertanian kotor oleh pestisida segala macam, bahkan jadi industri.

Anda sepertinya berupaya hidup sehat, bahkan berhenti merokok, kenapa?
Zaman aku merokok, kalau tidur gelisah. Ketika sudah tidak merokok jadi segar. Memang enggak gampang. Untung aku pernah sakit. Dadaku sesak, puyeng, panas. Saat itu pas harus tur konser, ya sudah berhenti saja. Jadi sempat kesal, karena sakit enggak bisa nyanyi. Konser terganggu.

Lalu kenapa Anda senang bepergian?
Dasarnya saya memang pejalan. Saya senang dengan jalan ke Jawa Timur, Trans Sumatra, ke mana saja. Kalau di sini (menunjuk pekarangan rumahnya) Cuma dua hektare. Di jalan rumahmu dari Sabang sampai Merauke. Saya pernah ke Danau Toba, bermalam pakai tenda. Kena angin, waduh indah bener. Mau mandi tinggal nyemplung. Teh, kopi, gitar, nyanyi teriak-teriak. Ketemu orangorang belajar tentang budaya. Ketika saya pergi ke Sukabumi, keli ling Jawa Barat pernah diusir orang. Ceritanya macam-macam. Susah untuk dijelaskan. Dari sana, tiba-tiba syair, bunyi- bunyian itu datang dengan sendirinya. Kita bisa melihat anak nelayan telanjang main bola pagi-pagi ha bis Subuh, ada ibu menjemur. Saya per nah menggelandang di emperan ru mah.

Tapi Anda juga mulai dikritik, karena sekarang cuma tinggal di “kamar?”

Memang, itu betul. Ada satu masa saya dulu bergerak terus sampai stres dan depresi karena terlalu banyak bergerak sampai orang tidak tahu rumah saya, tapi saya tahu rumah orang (tertawa). Ada teman yang menasihati. “Elu diam saja, tidak usah bergerak lagi.” Ya sudah, akhirnya saya diam 10 tahun lama nya saya diam. Jadi OI, jadi ini atau itu dari diam. Keasyikan mendengarkan lagu-lagu, dari Arab. Mongol, China, India, Bulgaria, macam-macam. Ternyata diam itu juga bergerak. Sekarang sudah mentok. Sepuluh tahun sudah cukup. Aku bergerak ke Nias ketemu sama orang-orang. Ada druri alat musik yang dimainkan para petani.
Saya jadi malu. Bertahuntahun orang ini duduk jongkok memainkan druri dan bahagia. Nyirih, sehabis itu lapar, dia macul, hidup lagi bersama istrinya, main lagi. Andai aku hanya tinggal di rumah dan cuma mendengarkan kaset, aku tidak bisa sentuh dan bersalaman sama dia. Tidak bisa ngobrol, dan kecipratan sirihnya (tertawa). Itu baru satu orang. Padahal banyak benar orang Indonesia. Ada 200 juta orang punya potensi seperti itu. Kemarin baru melihat acara Patung Mentawai. Gila (tertawa). Aku mendengar musiknya sebelum acara diskusi. Malu aku. Tiga puluh tahun main musik, ternyata masih terus gelisah. Padahal aku kurang apa, coba? Dapat penghargaan, dapat tulisan dari wartawan, dapat uang. Kenapa saya tidak belajar dari orang-orang itu, tentang kebahagiaan bermusik? _


BIODATA
Nama:
Virgiawan Listanto
Tempat/ tanggal lahir:
Jakarta, 3 September 1961
Istri:
Rosanna
Anak:
◗ Galang Rambu Anarki (Almarhum)
◗ Annisa Cikal Rambu Basae
◗ Rayya Rambu Robbani
Pendidikan:
◗ SMPN 5 Bandung
◗ SMAK BPK Bandung
◗ STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang
IISIP)
◗ Institut Kesenian Jakarta (http://koran-jakarta.com/)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »