Slamet Rahardjo : film, sinetron, dan kelakuan anggota Pansus Century

Hanya di Indonesia - Di penghujung Desember lalu, aktor Slamet Rahardjo mendapat penghargaan dari Federasi Teater Indonesia (FTI). Sebagai pegiat teater, dia dianggap memberikan kontribusi bagi eksistensi teater di Tanah Air. Menurut Slamet selama ini pemerintah kurang perhatian dalam bidang budaya. Dia malah berharap, lebih banyak lagi kebudayaan Indonesia yang diakui negara lain.”Biar mereka (pemerintah tergerak),’’ ujarnya. Di Sanggar Teater Populer Jalan Kebon Pala Tanah Abang, Jakarta, kakak kandung Eros Djarot ini, kepada Adiyanto dan Ezra Sihite dari Koran Jakarta, bercerita tentang perkembangan teater, fi lm, dan sinetron di Tanah Air, yang menurutnya sedikit banyak berpengaruh terhadap kegiatan berbangsa dan bernegara. Berikut petikannya:

Apa kriteria yang membuat Anda terpilih mendapatkan penghargaan itu?

Katanya saya memiliki konsistensi dalam pencapaian–pencapaian prestasi baik itu melalui kerja keras yang terus menerus di bidang fi lm ataupun teater. Saya memang dianggap tidak pernah berhenti dalam menggiatkan itu, baik dalam bidang kreatif maupun pendidikan. Itu alasannya. Saya memang mulai menekuni dunia ini (teater dan fi lm) sejak 1968. Jadi bisa hitung sendiri lah.

Mengapa teater tidak sepopular film?

Sebenarnya teater itu sama dengan fi lm ya. Teater itu ada yang diperuntukkan bagi orang yang paham dalam bidang kesenian. Kita ada komunitas sendiri yang memang menuntut adanya pertunjukan yang pendekatannya artistik. Tapi jangan lupa ada juga penonton yang menuntut adanya sebuah hiburan. Nah inilah yang tidak dilayani. Tapi, teater yang ada saat ini hanya menyuguhkan sesuatu yang mungkin masih berjarak dengan penonton. Jadi masih untuk kepentingan senimannya sendiri. Saya kebetulan mempunyai sejarah bagaimana saya berkembang di Teater Populer bersama teman-teman yang lain di bawah bimbingan Teguh Karya.

Bagaimana cara agar mereka (insan teater) mau membuka diri?

Ya sadarkan orang teater itu dia kan bagian dari masyarakat. Nah masyarakat hari ini itu masyarakat yang bagaimana misalnya. Apakah mereka yang setiap hari nonton TV, yang setiap hari melihat warta berita sudah begitu terbuka, masyarakat yang kalau mau pergi tidak usah jauh-jauh harus disamperin bisa pakai SMS. Semua itu harus digauli.

Lantas kenapa sebagian pelaku teater merasa bangga ditonton hanya oleh selected people?

Itu pertanyaan sangat tendensius ya. Saya tidak berani menjawabnya. Tapi yang saya rasakan setiap orang punya kebutuhan masing-masing.

Tidak butuh pengakuan maksudnya?

Seniman itu tidak harus identik dengan segala sesuatu yang tidak terurus. Tapi kan juga tidak betul. Seniman itu intelektual kok, tapi intelektual itu belum tentu seniman. Begitu yang saya tahu.

Dana kerap kali dijadikan keluhan jika ingin menggelar pentas teater. Menurut Anda?
Dana itu dapat dari mana? sponsor kan? Sponsor itu menaruh produknya berdasarkan apa? Penonton lagi kan? Jadi biar bagaimana pun kapan kita bikin buat kepentingan kita. Kapan kita berkelindan dengan kehidupan masyarakat.

Kalau Teater Populer sendiri, dana tidak jadi masalah?
Teater Populer tidak pernah ada masalah dengan dana. Karena masyarakat sudah tahu kalau kami bikin sesuatu bukan hal yang tidak dimengerti penonton. Awalnya saya bisa asyik sendiri dengan panggung saya mungkin yang menonton cuma enam tujuh orang sampai 40 orang tapi itu memang saya sadari. Ini belum tentu semua orang bisa mengerti. Tapi makin lama kok makin banyak, makin banyak. Rupanya mereka sudah mulai menuntut yang lebih tinggi, yang lebih tinggi. Tapi kalau kita lihat bagaimana orang di luar negeri itu hidup, memang ada subsidi tapi subsidi yang lama makin lama makin mengecil.

Memang ada subsidi dari pemerintah untuk pekerja seni?
Ada, tapi kita tidak bisa mengandalkan dari subsidi saja. Subsidi harus karena bagaimana pun kalau kita jatuh kepada kepentingan profi t yang terus menerus, kan kita tahu bahasa duit. Bahasa duit apa yang bisa dijual, di jual dong. Kan buku porno lebih laku dari buku yang serius. Jadi kalau masalah pasar yang menang ya buku porno. Nah untuk mempertahankan yang bukan buku porno ini kan harus disubsidi sedikit. Tapi diharapkan subsidi itu makin lama ya makin kecil dong, jangan tetep aja kaya kita tidak ada usaha.

Boleh tahu berapa jumlah subsidi yang diberikan?
Tidak tahu saya. Kalau soal itu tanyakan ke DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Bagaimana Anda melihat pelaku teater muda zaman sekarang?
Saya kira saya pernah juga muda, pernah menggebu-gebu. Susah ketika batin kelebihan dari kemampuan yang ada. Saya pernah berpikir seandainya seluruh wanita itu adalah istri saya (hebat saya) tapi itu khayal yang luar biasa, bagaimana kita harus karena memang sedang tumbuh.

Anda mengamati karya mereka?
Saya kira kalau anak muda zaman sekarang ini cenderung atau jatuh pada hal yang makin ngga mengerti makin oke, makin ngga ngerti mutunya makin tinggi, menurut mereka. Ya tidaklah menurut saya. Kalau mereka makin ngga ngerti, ya makin ngga ngerti makin bingung. Karya seni yang baik itu tidak membingungkan kok. Kalaupun yang sangat adiluhung juga sangat tidak membingungkan.

Jadi sekarang terjadi semacam kemunduran budaya?
Oh iya. Itu sih semua kita sudah mengeluhkan. Di negeri ini ngomong di forum saja kaya begitu (merujuk sidang Pansus Century). Lihat saja setiap hari yang rapat di TV itu. Itu kan benar-benar mengerikan bahasa yang dipilih. Dia tidak mengerti ini bahasa jalanan, bahasa di sidang, bahasa yang terhormat atau bukan, tidak mengerti lagi mereka. Itu kan ciri orang yang tidak pernah memahami nilai indah dalam kesenian. Makanya saya berdoa, mudah mudahan Malaysia nyolong lebih banyak lagi sehingga kita aware terus. Kalau tidak ya tidak aware lagi ha..ha..ha..(tertawa).

Dulu pernah ada acara belajar drama di TVRI, kenapa itu tidak dihidupkan lagi?
Saya sekarang sudah mulai menjadi staf ahli di TVRI. Kita sudah memikirkan itu. Sekarang itu kalau dilihat dalam delapan bulan belakangan ini perubahan sudah kelihatan. Pelan-pelan.

Dulu banyak aktor fi lm berangkat dari teater, tapi sekarang kok cuma modal tampang?
Enak aja mereka bukan aktor. Mereka adalah selebritis. Enak aja.
Lantas kenapa mereka bisa main fi lm? Makanya kalau orang takluk pada pasar ya begitu. Penghargaan yang saya terima dari FTI itu juga antara lain karena saya tidak terhanyut pada tawaran yang menyesatkan. Saya tidak hanyut ke situ.

Kenapa teater kita banyak diakui di luar negeri, ketimbang di negara sendiri?
Itu tidak jaminan. Saya malah curiga sama orang luar kalau ngasih piala kepada saya. Jangan-jangan mereka kasihan kepada saya orang kampung ini (tertawa). Bisa saja kan?

Apa sih yang diinginkan dari seorang Slamet Rahardjo dalam kehidupan?
Saya bukan ingin jadi penghibur, itu kan pilihan saya. Saya ingin jadi seniman dalam fi lm. Sehingga saya tidak main fi lm yang lari-lari ada kulit pisang terpeleset jatuh dan kemudian mengintip rok cewek. Saya tidak mau begitu. Saya bukan penghibur, saya ini seniman. I am not entertainer, saya bukan penghibur saya ini seniman, artis dan saya tidak mau menjual diri saya untuk menyenangkan orang. Tapi itu pilihan yah kan? Dibanding mereka, bank account saya yah lempeng- lempeng aja (tertawa).

Bagaimana cara Anda menjaga kreativitas dan selalu ada inspirasi?
Aku juga enggak tahu tuh, aku tanya ke Tuhan gimana caranya keluarin Matahari dari Timur tiap hari? Yah sebagaimana manusia jenuh sih pasti tapi belajar dari sang khalik, terus dia kasih, mau hujan, mau cerah tetap ada, kenapa aku enggak? Aku juga kenapa enggak meniru sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia yah, sudah kehidupan kita lanjutkan saja setiap hari. Bereaksi terus kepada kehidupan dan memperhatikan terus gejala-gejala kehidupan. Yah seperti itu.

Apakah benar fi lm Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Menurut siapa? Oke berapa yang laku, bandingkan dengan film Barat, yah banyakan mereka. Orang Indonesia itu juga salah kalau bilang fi lm Indonesia mati suri selama sepuluh tahun. Yang bilang mati suri itu siapa? Ketika itu ya.. buat apa bikin fi lm, itu aja, aku enggak mau bikin fi lm, aku kok pelakunya. Bukan aku enggak bisa.

Kenapa?
Ya buat apa? Kita enggak tahu apa yang dikerjakan. Kita bikin, keluar fi lm Pretty Woman. Hancur kita. Negeri ini memang negeri pembeli andaikata kita pembuat, maka digeber dong anak-anaknya, dikasih subsidi, disekolahin kek. Coba anak-anak itu dipintarin bikin fi lm, ya bisa. Kalau tentara dan sarjana disekolahkan kan? Orang fi lm juga disekolahin dong supaya kita juga menjadi pemenang audiovisual di negeri sendiri, ya kan? Tuan rumah karena banyaknya saja. Jadi apa artinya tuan rumah itu? Saya tidak anti fi lm impor, tidak. Kalau kita anti namanya kita bangsa dungu. Entar nanti kita jadi enggak punya bandingan. Tetapi, perbandingannya dipikirin dong.

Kenapa kira-kira fi lm Hollywood itu diminati?
Hollywood itu menurut saya luar biasa. Tidak boleh dikesampingkan bahwa mereka itu juga berusaha. Bagaimana usia fi lm di Hollywood? Bagaimana kebijakan pemerintah, coba Anda bisa ganggu fi lm Hollywood kalau enggak dipenalti sama pemerintah, karena apa? Itu politik kebudayaan. Bukan hanya sekadar politik ekonomi, bagaimana menguasai dunia? Ubah saja otaknya semua. Sekarang apa sih arti Indonesia? Nyiur melambai? Padi mengu ning? Bukan, tapi way of thinking. Bagaimana sebuah masyarakat itu menyelesaikan masalahnya. Karena tiap hari diberikan cara menyelesaikan masalah dari fi lm lain, maka ikutikut dong dengan itu. Hamil di luar nikah misalnya, kalau dulu sambar gledek deh.

Anda merasa sudah mencapai mimpi seorang seniman?
Belum, belum juga tidur. Impian saya itu sangat sederhana. Aku ingin bangga jadi orang Indonesia tapi sampai hari ini belum. Masih malu tuh lihat peristiwa Century. Lihat teman-teman legislatif yang di sana. Katanya bergilir tempat duduknya supaya kelihatan di depan kamera itu. Katanya sih begitu. Kan itu memprihatinkan.

Anda masih mengasuh acara bincang di TVRI?
Nah itu forum belajar saya. Bayangin saya menghadapi jenderal, Prof, Doktor dan saya sendiri manusia tanpa diploma, tapi karena saya tadi bilang saya tuan rumah saya enggak boleh malu. Nah itu artinya tuan rumah itu enggak boleh malu.

Dari kalangan seniman yang bergabung di TVRI itu, siapa saja?
Ada Arswendo, Mas Putu (Putu Wijaya), Romo Muji, Marseli Sumarno, mungkin akan ada Ikra Negara, tapi saya belum tahu.

Rencana ada konsep acara baru lagi?
Ada yang bagus, itu Suku-Suku. Ratingnya mulai bagus. Itu tentang suku di Indonesia terus juga Gebyar Keroncong juga. Bahwa Indonesia kan bukan Jakarta tapi seluruh pulau. Jadi ada empat atau lima yang naik ra tingnya itu, mas Arswendo yang paling tahu.
Seniman yang Anda kagumi?

Saya pengidola mulai dari seniman yang hebat hingga seniman yang buruk. Karena kenapa ada seniman yang hebat? Karena ada seniman yang buruk. Tapi kalau saya enggak baca yang buruk dan hebat, maka saya enggak menerti mana yang bagus dan buruk jadi kalau kita terbuka maka kita akan mengetahuinya.

Anda pernah bilang tidak mau main fi lm yang ditonton sembarangan, harus seserius apa sih menonton Anda itu?
Saya ambil contoh, kalau bikin anak misalnya. Padahal awalnya main-main aja, kamu tiba-tiba hamil dan punya anak. Kalau ada yang berani ganggu anakmu, marah tidak? Pasti marah kan? Padahal kamu bikinnya tidak serius. Nah, tidak serius aja marah, apalagi kalau bikinnya serius? Iya kan? Begitu juga fi lm, gue udah buat bagus-bagus, ditontonnya sambil setrika. Makanya aku gak mau maen sinetron, masa ditonton sambil lalu.Bukan berarti FTV/sinetron jelek. Itu kayak makanan tertentu, tapi saya enggak doyan, nah jadi begitu. _

BIODATA
Nama:
Slamet Rahardjo
Tempat/Tanggal Lahir:
Serang, Banten, 21 Januari 1949
Filmografi :
◗ Wadjah Seorang Laki-Laki (1971)
◗ Ranjang Pengantin (1974)
◗ Badai Pasti Berlalu (1977)
◗ November 1828 (1978)
◗ Rembulan dan Matahari (1980)
◗ Badai Pasti Berlalu (2007)
◗ Namaku Dick (2008)
◗ Laskar Pelangi (2008)
◗ Cinta Setaman (2008)
◗ Lastri (2008)
◗ Ketika Cinta Bertasbih (2009)
Penghargaan:
◗ Piala Citra dalam kategori Aktor Utama
pada fi lm Ranjang Pengantin (1974)
◗ Piala Citra dalam kategori Aktor Utama
pada fi lm Badai Pasti Berlalu (1977)
◗ Piala Citra pada Festival Film Indonesia
1980 di Semarang, Jawa Tengah, sebagai
fi lm terbaik dalam judul Rembulan dan
Matahari (1980)
◗ Penghargaan Anugrah Federasi Teater
Indonesia ( FTI ) 2009

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »