Bakrie (Bakal) Semakin Kaya

Hanya di Indonesia -Terlepas dari kontroversi yang selalu mengiringi aksi korporasinya, Grup Bakrie tetaplah konglomerasi yang fenomenal. Gurita bisnisnya diyakini bakal makin membesar.

Di antara konglomerasi yang ada di negeri ini, sosok Grup Bakrie, memang, selalu tampil beda. Penuh energi dan kaya strategi. Tak mengherankan jika berbagai aksi korporasi yang dilakukannya sering menggegerkan jagat bisnis nasional.


Anda tentu masih ingat transaksi pembelian PT Kaltim Prima Coal (KPC) oleh Bumi Resources Tbk tahun 2002 silam? Kala itu, mayoritas pelaku usaha tak percaya BUMI bisa mendapatkan perusahaan tambang batu bara itu dengan harga murah.

Sebab, harga divestasi yang disepakati dengan Pemerintah Indonesia mencapai USD822 juta. Terbukti, untuk 100 persen saham milik Rio Tinto dan BP, BUMI membelinya dengan harga USD500 juta.

Itu menujukan tangan dingin dan kecerdikan Bakrie berhasil membalikkan semua logika. Kendati menuai protes dan kontroversi, KPC akhirnya menjadi milik BUMI. Nah, berkat pembelian KPC itulah, Bumi Resources menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi besar di bursa. Akhir tahun 2007 silam, nilai kapitalisasi BUMI mencapai USD11 miliar. Namun, seiring penurunan harga saham BUMI di pasar saat ini, kapitalisasi pasarnya juga ikut melorot.

Sungguh pun begitu, berkat BUMI pula kekayaan Grup Bakrie melonjak luar biasa. Maklum, sebelum akuisisi KPC, harga saham emiten ini sempat dihargai rendah. Pada tahun 2001 banderolnya sempat berada di kisaran Rp45 per saham. Seiring dengan akuisisi tadi, harga BUMI pun melambung hingga sempat menembus level Rp8.000-an. Konon, berkat kenaikan yang spektakuler ini, pemiliknya meraih fulus ratusan miliar rupiah.

Kini, cerita Grup Bakrie tak hanya tentang Bumi Resources yang fenomenal itu. Gurita bisnisnya terbentang makin luas. Mulai dari agrobisnis (Bakrie Sumatera Plantation), telekomunikasi (Bakrie Telecom), minyak dan gas (Energi Mega Persada), properti (Bakrie Development), metal (Bakrie Metal Industries) hingga infrastruktur (Bakrie Indo Infrastruktur).

Kecuali dua perusahaan yang disebut terakhir, semua aset Bakrie sudah go public di bursa, kendati keluarga pendiri masih menjadi pemegang saham mayoritas. Di akhir 2007 silam, kapitalisasi pasar Bakrie & Brothers, holding usaha Grup Bakrie, mencapai USD3,3 miliar. Meski kekayaannya kian membengkak, perjalanan grup usaha pribumi ini tak selalu mulus.

Keuntungan Aburizal Terendam Lumpur Lapindo
Kasus yang tak mungkin dihapus dari buku sejarah adalah semburan lumpur Lapindo. Gara-gara pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas--anak usaha Energi Mega Persada--gagal, lumpur menyembur dan menenggelamkan ribuan rumah warga. Sejumlah infrastruktur milik pemerintah pun ikut hancur.

Akibat masalah Lapindo, Bakrie terpaksa mengeluarkan biaya triliunan rupiah untuk membayar ganti rugi. Itu pun belum semuanya tuntas hingga kini. Pekan lalu, sekitar 2.500 warga korban lumpur baru mendapat ganti rugi setelah tinggal dalam pengungsian selama 2,5 tahun.

Gara-gara lumpur itu pula nasib ENRG tak kunjung membaik. Padahal di tengah lonjakan harga minyak dan gas saat ini, mestinya ENRG bisa meraih fulus besar.

Sampai Juni lalu, laba bersih perseroan terpangkas 40 persen menjadi Rp77,02 miliar. Penyebabnya, beban lain-lain yang harus dibayar ENRG membengkak 63 persen menjadi Rp163,5. Kabarnya, duit besar itu dipakai ENRG untuk membayar ganti rugi korban Lapindo.

Andai saja kasus lumpur tak muncul, boleh jadi kekayaan Bakrie akan kian membesar. Sebab, secara fundamental, kinerja ENRG amat meyakinkan. Christian V. Bonto, Direktur Utama ENRG, menjelaskan, penjualan bersih perseroan naik 100 persen menjadi Rp889 miliar. Lonjakan itu dipicu oleh kenaikan harga jual minyak hingga 65 persen menjadi USD104 per barel. Selain itu, produksi minyak dan gas perseroan juga naik secara signifikan.

Nasib yang dialami BUMI hari-hari ini juga tak jauh berbeda. Kendati harga batu bara naik, laba bersihnya malah turun 58,10 persen menjadi USD301,799 juta. Penurunan itu disebabkan tahun ini perseroan tidak mendapatkan hasil penjualan investasinya. Tahun lalu pos ini menyumbang USD547,157 juta.

Di semester I-2008, BUMI justru harus rela kehilangan USD21,6 juta dari pos yang sama. Asal tahu saja, di kuartal I lalu, BUMI telah melepas 30 persen sahamnya di KPC, Arutmin, Indokaltim, Indo Kalsel, dan IRCL kepada Tata Power, India. Nilai transaksinya mencapai USD1,1 miliar.

Sampai akhir tahun, kinerja BUMI belum tentu membaik. Sebab, pembelian saham Herald berpotensi membuat pendapatan mereka berkurang. Maklum, saham yang dibeli di kisaran AUSD2,8 per saham itu, kini harganya jatuh ke level AUSD1,9. Di tengah tren harga komoditi yang terus melorot (harga minyak sudah berada di level USD107 per barel) agaknya sulit bagi BUMI untuk mendapatkan fulus besar. Sebab, kini banderol batu bara juga terus menurun. Untuk batu bara kualitas terbaik, memiliki kalori di atas 7.000, harganya berkisar USD120 per ton. Padahal, sebelumnya sempat nangkring hingga kisaran USD130 per ton.


Bakrie & Brothers Berminat Beli Indosat

Jum'at, 22 Agustus 2008 - 13:16 wib
JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan minat untuk membeli sebagian saham PT Indosat Tbk (ISAT).

Hal tersebut seperti dikutip dalam Buletin Ciptadana, di Jakarta, Jumat (22/8/2008).

Menurut buletin tersebut, keinginan BNBR membeli Indosat terungkap pada acara Corporate Day yang digelar CIMB-GK di Bali pada 14-15 Agustus 2008 lalu.

Terdapat spekulasi yang berkembang di pasar bahwa BNBR bisa menggunakan hasil repo saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk membeli Indosat

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »