Kisah Sekolah yang Siswanya 100 Persen Tak Lulus UN

Hanya di Indonesia - “Saya masih berduka....” Sambil terus mengisap rokok filter di tangan kanan, Abdul Haris mengucapkan kalimat bernada putus asa itu. Kepalanya tertunduk.Pria itu pun tak kuasa singgah di ruang kepala sekolah. Ia memilih mojok di salah satu ruang kecil di kompleks SMA Triwibawa di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pakaian yang ia kenakan seperti mewakili suasana hatinya, kemeja lengan panjang dipadu pantalon hitam.

Abdul dan kolega guru-guru lainnya tengah berduka karena, dari 36 anak didiknya, tak satu pun lulus dalam ujian nasional yang hasilnya diumumkan pada Senin lalu, 26 April 2010. Tahun lalu tingkat kelulusan siswa lumayan, yakni 86 persen. "Saya di SMA ini sejak 1985, dan baru kali ini 100 persen anak didik saya enggak lulus ujian nasional,” katanya. Nafsu makannya mendadak hilang, dan matanya tak bisa terpejam setelah "Senin kelabu" itu.

Ia lantas menceritakan keseriusan para guru dalam menggenjot prestasi siswa. Pendalaman materi ujian terus diberikan. Jam pelajaran ditambah, plus beberapa kali tryout.

Abdul yakin para siswa gagal ujian karena tak serius. Mereka sering membolos. “ Apakah ada hubungannya dengan tingkat ekonomi keluarga mereka yang mayoritas tak mampu?” dia bertanya kepada Tempo kemarin.

Kesulitan mendidik para siswa juga dialami Syafi'i, Kepala SMA Yayasan Perguruan Dwisaka, di Jalan Tambak Nomor 32, Pegangsaan, Jakarta Pusat. Para siswanya bekas pemakai narkoba, pemulung, hingga anak yatim-piatu.

Mayoritas mereka juga murid "buangan" dari sekolah negeri. Namun para guru dituntut mampu mendidik mereka dengan kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah negeri. Alhasil, 25 siswa dan 16 siswi kelas XII yang diajar oleh 16 guru tak lulus ujian nasional. Padahal tahun lalu hanya lima orang yang gagal.

Menurut Syafi'i, 48 tahun, metode mengajar tak jauh berbeda dengan di sekolah lain. Di sekolahnya, yang berdiri sejak 1954, jam belajar pukul 12.00-17.00 WIB. Tapi, selama tiga bulan menjelang ujian, mereka masuk pagi hingga sore. "Sayang yang datang segelintir," lulusan Universitas Jakarta ini mengeluh.

Sarana pendidikan di SMA Dwisaka juga tak memadai. Kelas-kelas beratap seng sangat panas di kala siang. "Kalau hujan, kelas bocor," kata Syafi'i.

Dia yakin penyebab utama kegagalan dalam ujian adalah ketekunan para siswa yang memprihatinkan. (http://klepeut.blogspot.com/)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »