Ternyata Andi Soraya Dibayar Mahal untuk Berbugil Ria

Hanya di Indonesia -

Artis Andi Soraya kembali beradegan panas di film terbarunya, Hantu Puncak Datang Bulan. Untuk bisa melakoni adegan itu, dia mengaku memang butuh keberanian.

“Memang di sini (film tersebut) banyak adegan syur, tapi saya kan pilih karena melihat jalan ceritanya juga yang sangat berbeda. Butuh keberanian,” ucap Andi Soraya saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta, Kamis (28/1/2010)


Artis yang pernah berseteru dengan Catherine Wilson itu mengaku merasakan ada sesuatu yang berbeda di film ini ketimbang film-film yang dibintangi sebelumnya. “Bisa dibilang, ini film pertama saya yang beda, yang cukup kontroversial.”


Maksudnya? “Sebelumnya saya enggak pernah buka baju, tapi itulah totalitas yang saya berikan dalam berakting,” katanya. “Apa yang telah saya lakukan itu sebenarnya hal yang biasa sehari-hari, tapi saya ingin penonton melihat dari segi aktingnya,” lanjut perempuan yang akrab disapa Aya ini.
Hmm…. Apa tak khawatir aksi beraninya itu akan mendapatkan teguran dari MUI? “Mudah-mudahan artisnya enggak dicekal. Ini filmnya untuk orang dewasa, 17 tahun ke atas. Ada badan sensor yang sangat teliti, jadi enggak perlu ada yang dikhawatirkan,” terangnya.

Omong-omong, berapa sih bayaran sampai rela memperlihatkan lekuk tubuh indahmu? “Ya memang harus dibayar mahal, Andi Soraya!” jawab Aya sambil menyebut namanya dengan bangga, tanpa mau menyebut nilai nominal bayarannya.
MUI Cekal “Hantu Puncak Datang Bulan”
Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas menyatakan keberatan atas rencana dirilisnya film “Hantu Puncak Datang Bulan” di bioskop Indonesia pada 4 Februari mendatang.

“Film ini mengandung pornografi yang dapat mengumbar syahwat dan kami sudah melakukan penelitian. Di dalamnya juga memperlihatkan kekerasan,” ucap Amirsyah Tambunan Sekretaris Jendral Pengkajian dan Pengembangan MUI Pusat, dihubungi di Jakarta, Selasa (2/1/2010).
Menurutnya, pihak MUI telah memperingati Lembaga Sensor Film (LSF) untuk tidak meluluskan film yang dibintangi Andi Soraya itu, untuk diputar di bioskop. “Kami mendesak ketegasan kepada LSF agar film ini dihentikan karena dapat merusak moral bangsa. Sejauh ini, kita belum tahu apa film itu lolos (sensor) atau tidak, tapi yang jelas itu melanggar norma-norma pornografi . Boleh saja bebas berekspresi tapi tidak melanggar norma,” paparnya.
Sebagai lembaga yang ada di masyarakat, pihak MUI hanya butuh dukungan untuk melakukan kontrol mengatur film yang akan tayang. “Kita sudah sering berdialog dengan LSF mereka sudah bekerja sesuai dengan kinerjanya kita hanya berikan dukungan moral,” tandasnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, pihak rumah produksi K2K, yang memproduksi film tersebut, menanggapi adanya keberatan dan larangan tersebut. “Mengenai hal itu kita sudah mendengar dan pihak K2K production sudah menerima surat pencekalan dari pihak MUI. Padahal film “Hantu Puncak Datang Bulan” akan tayang dua hari lagi di bioskop-bioskop tetapi apakah tetap boleh ditayangkan atau tidak kita masih menunggu kepastian,” kata KK Deeraj ketika dihubungi melalui telepon genggamnya.

Namun pihak K2K tidak akan menyerah begitu saja, karena pihaknya sudah mendapatkan surat lulus sensor dari LSF. “Saya akan membicarakan secara ulang dengan pihak Lembaga Sensor Film sebab film ini kan sudah lulus sensor lalu kenapa harus dicekal. Kalau dicekal, saya sedih dan saya pusing apalagi sudah mengeluarkan bujet besar untuk film tersebut,” tegasnya.

Sudah Buka-bukaan, Eh Andi Soraya Baru Dibayar Setengah

Penundaan penayangan film Hantu Puncak Datang Bulan di bioskop ternyata menyisakan masalah. Andi Soraya, salah satu bintangnya, mengaku belum mendapatkan pembayaran secara penuh. Andi pun mulai kesal.

“Di dalam kontrak aku itu, begitu premiere, bayarannya dilunasin. Saya sudah menunaikan kewajiban saya, tapi kenapa dari pihak PH tidak seperti saya yang akting secara all out,” ungkap Andi saat ditemui seusai menonton aksi Babyface di Jakarta International Java Jazz Festival, JIEXPO Kemayoran, Jakarta Utara, Minggu (7/3/2010).
“Mereka sih beralasan, setelah film tayang, baru dilunasin. Tapi sampai kapan? Filmnya kan enggak tahu tayangnya kapan, belum tahu,” aku Aya, begitu dia biasa disapa, dengan nada kesal.
Merasa tidak ada kejelasan kapan honornya dibayar penuh, Aya mencoba melakukan pendekatan lain dengan harapan bisa mendapat jawaban pasti. “Sudah aku telepon manajer, aku juga coba menghubungi, tapi jawabannya tar sok tar sok (entar besok),” terangnya.

Acap kali kurang direspons, Aya coba ambil inisiatif untuk mendatangi kantor rumah produksi K2K Production yang menggarap film yang sempat didemo ratusan anggota kelompok massa Islam itu. “Terakhir minggu kemarin aku datang ke sana (K2K Production). Mereka bilang mohon pengertiannya karena ada masalah, karena filmnya enggak bisa tayang, karena kalau enggak tayang mereka rugi,” ungkap Aya.
Setelah melakukan dialog, pihak K2K akhirnya hanya mau membayar setengah dari honor yang semestinya ia peroleh. “Tinggal 50 persen yang belum. Tapi pemain yang lain itu sudah dilunasin semua. Tinggal aku doang yang belum. Alasannya, honor aku yang paling tinggi,” imbuhnya.
Oleh karena itu pula, Aya menilai bahwa masalah pelunasan honor tersebut harus segera diselesaikan pihak K2K Production. “Karena dari kemarin aku coba yang lebih baik, tapi tidak ada tanggapan. Mudah-mudahan aku dengan ngadain jumpa pers ada jalan keluar. Mereka bisa ketemu sama aku, kita temukan jalan keluar. Jadi, biar cepat selesai apa yang jadi hak aku,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebelum dirilis ke publik, Hantu Puncak Datang Bulan sempat mendapatkan reaksi dari sejumlah kelompok masyarakat yang menilai bahwa film ini terlalu mengumbar aurat. Dalam film tersebut, Andi Soraya dinilai terlalu berani, bahkan terkesan menjual syahwat. Karena aksi beraninya tersebut, Andi bahkan sempat dijuluki sebagai Miyabi-nya Indonesia.

Andi Soraya: Saya Cuma Buka Dikit Kok…
Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Pepatah itu diamini betul oleh bintang kontroversial Andi Soraya. Meski hujatan dan cacian dialamatkan kepadanya terkait pemunculannya di sejumlah film yang terbilang berani, Andi mengaku tak mau ambil pusing. Bahkan, ia mengaku tak akan ragu dan kapok untuk memperlihatkan keseksian tubuhnya.
“Kalau film saya dikritik, itu saya anggap sebagai pembangun karena saya ingin melakukan yang terbaik untuk film yang saya perankan. Saya hanya menjunjung profesionalitas kerja. Pro dan kontra itu wajar, jadi enggak ada penyesalan,” ucapnya ketika ditemui di kawasan Mahakam, Jakarta Selatan, Senin (8/3/2010).

Apa pun yang dilakukannya, Andi hanya ingin menunjukkan totalitas agar terlihat berbeda, termasuk dalam hal adegan panas. “Siapa bilang saya buka-bukaan. Saya cuma buka sedikit. Ini layar lebar bukan sinetron, jadi kami sebagai artis harus ada perbedaan akting antara di sinetron dan layar lebar. Kalau mau lihat yang biasa, nonton sinetron saja,” ujar perempuan yang akrab disapa Aya ini.
Aya mengungkapkan bahwa perannya di sebuah film selama ini masih dapat dikatakan wajar. “Jadi, harus beda dengan sinetron. Saya masih secara akting tidak terlalu di luar moral dibanding film lain yang terlalu terbuka dan porno. Bagi saya, film yang saya perankan enggak terlalu over,” lanjutnya.
Jadi, kalau ada adegan love scene, kira-kira bakal ditolak? “Semua itu tergantung jalan cerita. Saya harus yakini, film itu bisa menjadi film yang laris. Kalau buka-bukaan, itu tergantung pemainnya. Kalau di film, saya hanya beli akting. Tetapi di kehidupan nyata, saya elegan dan feminin,” tandasnya.
Ganti Judul Film, Produser Janji Lunasi Honor Andi Soraya
Setelah bintang film Hantu Puncak Datang Bulan, Andi Soraya, ”nyanyi” kepada media bahwa dirinya belum dibayar penuh dari total honor yang semestinya diterima, giliran Keke Dheraj, produser film tersebut, yang angkat bicara perihal kapan hak Andi akan dibayarkan.
”Jawabannya sudah pasti kalau filmnya tayang,” kata Keke saat dihubungi Kompas.com melalui telepon selulernya di Jakarta, Senin (8/3/2010).
Untuk sementara, bos K2K Production itu mengaku belum bisa membayar penuh Andi Soraya lantaran Hantu Puncak Datang Bulan diancam tak boleh tayang oleh salah satu organisasi kemasyarakatan. ”Kemarin sempat ada masalah. Jadi, belum tayang, sementara kami bakal lunasin pembayarannya kalau sudah tayang filmnya,” ungkap Keke.
Enggan merugi dan juga merugikan para artis pedukungnya, sebagai jalan keluar, Keke terpaksa mengubah judul film Hantu Puncak Datang Bulan. ”Ya, kami terpaksa ganti jadi Dendam Pocong Mupeng,” kata Keke. ”Itu jalan terakhir,” ucapnya.
Dengan penggantian nama tersebut, Keke berharap Dendam Pocong Mupeng bisa menjadi solusi. ”Ya, harapannya bisa tayang dan bisa diterima, saya ingin ini (bisa tayang dan membayar lunas honor artis) cepat selesai,” katanya.
Sumber: Kompas Entertainment Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments