Mengenal Pahlawan dari Lembaran Uang Kertas

Mengenal Pahlawan dari Lembaran Uang Kertas - Seringkali kita semua memiliki banyak uang, namun kita tidak pernah melirik gambar-gambar yang ada di lembaran uang kertas rupiah. Dan ternyata di dalam gambar mata uang kita ada nama pahlawan RI yang patut kita kenang sepanjang masa dan kita kenal dari mana asalnya.

Pattimura (Uang Seibu Rupiah)

Lebih dikenal dengan nama Thomas Matulessy lahir di Haria pulau Saparua Maluku tahun 1783. Didalam masa hidupnya sempat mengalami pergantian masa pemerintahan dari Belanda ke tangan Inggris ditahun 1798. Lalu pada masa pemerintahan Inggris, Patimura ikut milite dan memperoleh pangkat sersan.

Thomas Matulessy diangkat menjadi pemimpin guna melawan Belanda dengan gelar Kapitan Pattimura. Dengan kepemimpinannya maka berhasil merebut benteng Duurstede pada tahun 1817. Semua pasukan Belanda yang berada didalam benteng itu termasuk Residen Van den Berg, tewas. Namun Belanda mengirim pasukan yang lebih besar lagi dengan persenjataan yang lengkap dan benteng Duurstede berhasil di ambil alih lagi oleh Belanda. Dan Belanda kembali menyerang balik dengan secara besar-besaran. Dikarenakan perlawanan tidak seimbang maka Kapitan Pattimura tertangkap pada saat berada disebuah rumah rekannya berikut beberapa temannya. Lalu Kapitan Pattimura dibawa ke Ambon dan Belanda membujuk untuk bekerjasama, namun bujukan itu ditolak.

Akhirnya kolonial Belanda memutuskan untuk menjatuhi hukuman gantung kepada Pattimura. Sebelum digantung Belanda kembali membujuk Pattimura untuk bergabung bekerjasama, tapi ditolak lagi. Dan pada hari Selasa 16 Desember 1817 Pattiura dihukum gantung didepan benteng Victoria di Ambon.

Betama gigihnya semangat dan tekad Kapitan Pattimura terdahap demi membela daerahnya dan bangsanya.

Pangeran Antasari  (Uang Dua Ribu Rupiah)

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK NO. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan Julukan dari Kalamantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan Pangeran Antasari kepada masyarakat nasional. Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam kertas nominal Rp. 2.000

Tuanku Imam Bonjol (Uang Lima Ribu Rupiah)

Nama aslinya adalah Muhammad Sahab yang dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Ia lahir di Tanjug Bunga Sumatera Barat di tahun 1772.

Ia banyak belajar soal agama dari orang-orang ulama di Sumatera Barat dan akhirnya ia menjadi seorang guru agama di Bonjol. Sebagai tokoh ia cukup disegani. Disini ia menyebarkan paham Paderi.

Di tahun 1821 Belanda dengan bala bantuanyannya menyerang kaum Paderi untuk menguasa daerah Sumatera Barat. Tuanku Imam Bonjol memimpin pertarungan ini dan akhirnya Belanda kewalahan dan terpaksa mengadakan perjanjian Masang tahun 1824 yanng mengakui bahwa Tuanku Imam Bonjol sebagai penguasa daerah Alahan Panjang. Namun perjanjian ini dilanggar oleh Belanda dan peperangan kembali berkorbar.

Kurang lebih tiga tahun kemudian Belanda mengepung dan Bonjol kembali direbut tangan Belanda. Tgl 16 Agusutus 1837. Tuanku Imam Bonjol berhasil meloloskan diri dan berjuan ditempat lain.

Tahun 1837 Tuanku Imam Bonjol diundang untuk perundingan, namun taktik licik Belanda ini berhasil menangkap Tuanku Imam Bonjol dan dibuang ke Cianjur Jawa Barat, lalu ke Ambon dan berakhir di Lotan dekat Manado. Ditempat inilah Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tgl 8 Nopember 1864 dan dimakamkan disana.

Sultan Badarudin (Uang Dua Puluh Ribu Rupiah)

Sultan Mahmud Badaruddin II (l: Palembang, 1767, w: Ternate, 26 November 1862) adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin.

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Britania dan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Mata uang rupiah pecahan 10.000-an yang dikeluarkan pada 20 Oktober 2005 menggunakan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai gambar hiasannya. Penggunaan gambar ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, karena gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya.

Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. Berdalih menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa ini berniat menguasai Palembang. Awal bercokolnya penjajahan bangsa Eropa biasanya ditandai dengan penempatan loji (kantor dagang). Di Palembang, loji pertama Belanda dibangun pada tahun 1742 di tepi Sungai Aur (10 Ulu).

Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini. Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto, tanggal 15 Desember 1810:

Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan pengadaan sumber yang besar tersebut.

I Gusti Ngurah Rai (Uang Lima Puluh Ribu Rupiah)

Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai (Desa Carangsari, Kabupaten Badung, 30 Januari 1917 meninggal di Margarana, 20 November 1946) beliau adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali.

Beliau memiliki pasukan yang bernama “Ciung Wenara” melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali berarti “habis-habisan”, sedangkan Margarana adalah daerah terjadinya perang besar tersebut)

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Einlanden, Candi Marga, Tabanan. Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai” (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih “Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993″, buku “Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 Nopember 1946″ yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Bali, Bandara Ngurah Rai.

Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta (Uang Seratus Ribu Rupiah)



Ir. Soekarno1 (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – wafat di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.(Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »