Sebelum Menonton Film Ketika Mas Gagah Pergi, Baca ini Dulu ya.

Sebelum Menonton Film Ketika Mas Gagah Pergi, Baca ini Dulu ya. - Dunia perfilman Indonesia saat ini sedang diramaikan dengan film religi berkualitas berjudul Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) yang diputar sejak kamis 21 Januari 2016. Film ini diadopsi dari Cerita Pendek karya Helvy Tiana Rosa dengan judul yang sama Ketika Mas Gagah Pergi pada tahun 1992.



Bagi yang belum menonton, ada baiknya untuk membaca terlebih dahulu cerpen KMGP secara lengkap agar dapat semakin merasakan adegan demi adegan.  Berikut adalah novellet KMGP (versi tahun 2011) yang ternyata sudah disebarluaskan pula entah oleh siapa di internet. Semoga bermanfaat.

KETIKA MAS GAGAH PERGI

I

Mas Gagah berubah! Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Mas,

sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar

berubah.

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah tingkat akhir di Teknik

Sipil UI. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan

tentu saja ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai

kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat matematika untuk

anak-anak SMP dan SMA, menjadi model majalah, hingga menjadi

senpai di sebuah klub karate.

“Hai cewek tomboi!” sapanya suatu kali. “Waktunya kamu belajar

bela diri! Percuma kan punya Mas karateka sabuk hitam, kalau

kamu nggak bisa karate?”

Hari-hari kami pun bertambah dengan berlatih karate bersama.

“Nggak usah kursus. Kursus sama Mas aja. Habis ini latihan

modeling ya, biar jalanmu nggak lebih gagah dari Mas!” sindirnya

sambil senyum.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di

antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang

menolong saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk

di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan

mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal

yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja

sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama.

Jalan-jalan, nonton film, konser musik atau sekadar bercanda

bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat

lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa

terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar

teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami

mampir dan makan dulu di Kemang atau tempat-tempat yang sedang

happening.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau

tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku

menyukai sosoknya!

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong

nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang

serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas

Gagah lho! Gila, berabe kan?”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke

kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar.

Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau

Mas pacaran, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati!

Hehehe,” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Kombinasi yang

unik dari banyak talenta. Ia punya rancangan masa depan, tapi

tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah

meninggalkan shalat! He’s a very easy going person. Almost

perfect!

Huaa, itulah Mas Gagah. Mas Gagah-ku yang dulu!

Namun seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan

belakangan ini ia berubah. Drastis! Dan kalau aku tak salah, itu

seusai ia pulang dari Madura.

“Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!”

“Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk

perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian

penelitian skripsi Mas….”

Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah

bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu

itu.

“Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias.

“Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja,

santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas

untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih

benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke

sana ya, Git.

Huh.

Dan begitulah. Mas Gagah pun berubah menjadi lebay dalam hal

agama seperti sekarang, hingga aku seolah tak mengenal dirinya

lagi.

Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang dulu, yang selalu

kubanggakan kini entah ke mana….

“Mas Gagah! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk

pintu kamar Mas Gagah keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata Mama Mas Gagah ada di kamarnya.

Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan

berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca

artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikuuum!” seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita?

Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin CD-nya!” kataku sewot.

“Lho memang kenapa?”

“Gita kesel bin sebel dengerin CD Mas Gagah! Memangnya kita

orang Arab, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.

“Ini nasyid. Bukan sekadar nyanyian Arab tapi zikir, Gita!”

“Bodo!”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas

melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar

sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di

ruang tamu, Gita ngambek, Mama bingung. Jadinya ya, dipasang di

kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin Lady Gaga

eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”

“Mas kan pasangnya pelan-pelan.”

“Pokoknya kedengaran!”

“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa

Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho! Ada koleksi Cat

Steven alias Yusuf Islam yang Mas baru download nih”

“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngeloyor pergi

sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas

Gagah jadi begitu. Kemana CD para rocker yang selama ini

dikoleksinya?

“Wah, ini nggak seperti itu, Gita! Dengerin Lady Gaga dan

teman-temannya itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi

pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau

denger? Ambil aja dari laptop. Mas punya banyak kok!” begitu

kata Mas Gagah.

Oalaa!

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu

banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua

SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu, walau

bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu,

berjama’ah di masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku

iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca

buku Islam. Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang

hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah

menceramahiku. Ujung-ujungnya, “Ayo dong Gita, lebih feminin.

Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh kasih

voucher belanja yang Mas punya buat beliin kamu rok atau baju

panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih

rambut ditrondolin gitu!”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku

yang tomboi. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam

sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau

aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering

memanggilku Gito, bukan Gita! Eh, sekarang pakai manggil Dik

Manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering

juga Mama menegurnya.

“Penampilanmu kok sekarang lain, Gah?”

“Lain gimana, Ma?”

“Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang

paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu.”

Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski

sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”

Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja

lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang

longgar. “Jadi mirip Pak Gino,” komentarku menyamakannya dengan

sopir kami. “Untung saja masih lebih ganteng.”

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu.

Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas

Gagah nggak lucu seperti dulu. Kayaknya dia juga malas banget

ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku

bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan.

Dan yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan!

Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?

“Sok keren banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye?

Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu

hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”

“Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu,” dalihnya,

lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat kan orang Sunda

salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu sangat baik!”

Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu, sekarang bawa-

bawa orang Sunda. Apa hubungannya?

Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. “Nih,

baca, Dik!”

Kubaca keras-keras. “Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah,

demi Allah. Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan

wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!”

Si Mas tersenyum.

“Tapi Kiai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto,

Ustadz Ali,” kataku.

“Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?” kata Mas

Gagah sambil mengusap kepalaku. “Biar saja mereka begitu, tetapi

Mas tidak, nggak apa kan? Coba untuk mengerti dan menghargai ya,

Dik Manis?”

Dik Manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku

ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah sekarang terlalu fanatik! Aku jadi khawatir.

Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis

tapi ngawur. Namun, akhirnya aku nggak berani menduga demikian.

Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru 20

tahun tapi sudah skripsi di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya

jernih dan tajam. Hanya, yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu

saja. Kutarik napas dalam-dalam.



“Mau kemana, Git!?”

“Nonton sama teman-teman.” Kataku sambil mengenakan sepatu.

“Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan

nolaknya!”

“Ikut Mas aja, yuk!”

“Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang

bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah

mengajakku pengajian di rumah temannya. Terus pernah juga aku

diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat. Bayangin,

berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan

berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan

pendek, jins belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol

yang tak bisa kusembunyikan, meski sudah memakai topi.

Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan

kerudung yang biasa Mama pakai mengaji. Aku nolak sambil

mengancam tak mau ikut.

“Assalaamu’alaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan

teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman

si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, senyum sedikit, nggak

ngelirik aku, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?” tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang nggak akrab denganku.

Tapi sekarang, Mas Gagah jarang memperkenalkan mereka padaku.

Padahal teman-temannya lumayan ganteng.

Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt !”

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin

soal-soal keIslaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa

Arab, yaaa begitu deh!

“Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!” seru Tika

setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang

sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memuseumkan semua baju you can

see-nya.

“Ikhwan?” ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau

tekwan?” suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin

sekolah melirik kami.

“Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya

saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita,” ujar

Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau

Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di

sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas

Gagah.

“Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam.

Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang din kita.

Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-

orang yang error atau ke arah teroris. Nggak-lah. Mereka hanya

berusaha mengamalkan Islam dengan baik. Kitanya saja yang

mungkin belum mengerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat

dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku

menjelma begitu dewasa.

“Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita

tetap dekat, Gita,” ujar Tika tiba-tiba.

“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah,”

kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku

sedih.”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.

“Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di

rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan

pada Mbak Nadia.”

“Mbak Nadia?”

“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik

malah pakai jilbab! Itulah hidayah!”

“Hidayah?”

“Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Nadia!”

“Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!” tegurku ramah.

“Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya

langsung pulang!” kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab

salamku.

“Dari rumah Tika, teman sekolah,” jawabku pendek. “Lagi ngapain,

Mas?” tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa

poster kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina. Puisi-puisi

Muhammad Iqbal tentang pemuda Islam yang tertempel rapi di

dinding kamar. Lalu empat rak koleksi buku ke-Islaman….

“Cuma lagi baca, Git,” katanya.

“Buku apa?”

“Tumben kamu pengin tahu?”

“Tunjukin dong, Mas. Buku apa sih?” desakku.

“Eit, Eiiit!” Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.

Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. “Nih!” serunya

memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah

memerah.

“Nah yaaaa!” aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami

bersama-sama membaca buku Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang

dalam Islam itu….

“Maaaas….”

“Apa, Dik manis?”

“Gita akhwat bukan sih?”

“Memangnya kenapa?”

“Gita akhwat apa bukan? Ayo jawab,” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia

berbicara kepadaku. Tentang Allah, tentang Rasulullah. Tentang

ajaran Islam yang indah namun diabaikan dan tak dipahami

ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang sering jadi

sasaran fitnah dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk pertama

kalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas

Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia

tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak

pernah kulihat sebelumnya!

“Mas, kok nangis?”

“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap

remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan

Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-

senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara kita di

negeri sendiri banyak yang mengais-ngais makanan di jalan, dan

tidur beratap langit, sementara di belahan bumi lainnya sedang

diperangi….”

Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata

sangat perasa. Sangat peduli.

“Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” tanya Mas Gagah

tiba-tiba.

“Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya.

“Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”

“Tenang aja, Gita nyambung kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Nadia

juga pernah menerangkan hal demikian. Aku mengerti meski tak

mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas

Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi, meski

aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu.

Sebenarnya banyak hal yang belum bisa kupahami, belum bisa

kuterima dari keberadaan Mas Gagah, tetapi sungguh aku tak mau

kehilangan sosoknya. Aku ingin bisa menjaga kedekatan kami

selama ini.

Kini tiap hari Minggu kami ke berbagai masjid, mendengarkan

ceramah umum, atau ke tempat-tempat tabligh akbar digelar.

Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit

kupaksa Mama Papa juga ikut.

“Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin

relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.

Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh,

iya!”

Pernah Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku

sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi

terpisah! Tempat acaranya juga begitu: dipisah antara lelaki dan

perempuan. Terus bersama suvenir, para tamu dibagikan risalah

nikah juga.

Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana

hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh

menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Ia juga wanti-wanti

agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat

cewek!

Aku nyengir kuda.

“Mungkin kamu, mungkin kita nggak setuju, Sayang, Tapi coba

untuk menghargai ya?” katanya sambil mengusap kepalaku.

Kini tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya

aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang,

ketawa nggak cekakaan.

“Coba pakai jilbab, Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika.

“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh

jreng!”

Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan

insya Allah lebih dicintai Allah. Kayak Mama”.

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab. Gara-garanya

dinasehati terus sama si Mas, dibeliin buku-buku tentang wanita,

juga dikompori sama teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau, tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan

bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depan,

calon suami nanti, dan semacamnya.

“Itu bukan halangan,” ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan

pikiranku.

Aku menggelengkan kepala. Heran. Mama yang wanita karier itu kok

cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah!

“Ini hidayah, Gita!” kata Mama. Papa yang duduk di samping

beliau senyum-senyum.

“Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama!

Gita pakai rok aja udah hidayah!”

“Lho?” Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah.

Bagaimana tak bangga? Dalam acara seminar umum tentang generasi

muda Islam yang diadakan di UI, Mas Gagah menjadi salah satu

pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini

rasa-rasanya ingin berteriak, “Hei, itu kan Mas Gagah-ku!”

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang

dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening

mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan

ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Rasul. Menjawab semua pertanyaan

dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah

bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus

daripada yang dibawakan oleh kiai-kiai kondang atau ustadz tenar

yang biasa kudengar!

Pembicara yang lain Mbak Nadia Hayuningtyas. Diam-diam aku makin

kagum pada kakaknya Tika ini. Lembut, cantik. Cocok kali ya sama

Mas Gagah! Hihi, aku jadi nyengir sendiri. Tika yang duduk di

sebelahku juga tampaknya punya pikiran yang sama. Jadi kami

sering lirik-lirikan dan senyum-senyum sendiri.

Ketika sesi pertanyaan dibuka lagi, aku mengacungkan tangan

tinggi-tinggi. Ada beberapa yang ingin bertanya. Yup

alhamdulillah moderator memilihku!

“Yes!” kata Tika.

Kulihat Mas Gagah tersenyum dari jauh.

“Assalaamu’alaikum, saya Gita, masih SMA. Mau nanya nih, gimana

sih hukumnya jilbab? Kan sunnah ya?” tanyaku sambil sok menjawab

sendiri.

Hadirin kasak kusuk.

“Ih, kok tanya itu lagi. Kan udah aku kasih tahu itu wajib,”sela

Tika setengah berbisik.

Aku tak peduli. “Ya, setahu saya sih gitu. Ada banyak teman saya

masuk pesantren. Di sana mereka pakai jilbab, tapi pas keluar ya

mereka lepas-lah, malah ada yang jadi rocker.”

Gerrrrr, hadirin tertawa. Tika menatapku sambil geleng-geleng

kepala.

Aku bingung, tapi tetap semangat. “Kayak saya nih.. Saya mau

pakai jilbab, tapi ya ntar, nunggu udah nikah, udah tua atau

pensiun. Lagian yang penting kan kita bisa jilbabin hati, ya ga?

Buat apa pakai jilbab kalau nggak bisa jilbabin hati. Mendingan

nggak dong!”

Hadirin riuh rendah, bertepuk tangan.

Moderator garuk-garuk kepala, persis Tika, di sampingku. “Oke,

pertanyaan ditampung.”

Saat moderator meminta para pembicara menanggapi, Mbak Nadia

tersenyum, “Sahabat sekalian, sebagai seorang muslimah,

sedikitnya saya punya 8 alasan mengapa saya memakai jilbab.”

Aku menatap Mbak Nadia yang tampak lebih cantik dengan jilbab

ungunya.

“Mengapa saya mengenakan jilbab?. Alasan pertama karena

berjilbab adalah perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan

An Nur ayat 31. Kedua, karena jilbab merupakan identitas utama

untuk dikenali sebagai seorang muslimah. Astri Ivo, seorang

artis, justru mulai menggunakan jilbab saat kuliah di jerman.

Saya Alhamdulillah mulai mengenakannya saat kuliah di Amerika.”

“Wuuuuiiiiih,” hadirin berdecak kagum.

Alasan ketiga saya mengenakan jilbab, karena dengan berjilbab

saya merasa lebih aman dari gangguan. Dengan berjilbab, orang

akan menyapa saya “Assalamu’alaikum”, atau memanggil saya “Bu

Haji” yang juga merupakan do’a. Jadi selain merasa aman,

bonusnya adalah mendapatkan do’a. Hal ini akan berbeda bila

muslimah mengenakan pakaian yang ‘you can see everything’.

Hadirin tertawa. Hmmm.

“ Alasan keempat, dengan berjilbab, seorang muslimah akan merasa

lebih merdeka dalam artian yang sebenarnya. Perempuan yang

memakai rok mini di dalam angkot misalnya akan resah menutupi

bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan tas tangan. Nah, kalau

saya naik angkot dengan berbusana muslimah saya bisa duduk

seenak saya. Ayo, lebih merdeka yang mana?”

Hadirin tertawa lagi.

“Alasan kelima, dengan berjilbab, seorang muslimah tidak dinilai

dari ukuran fisiknya. Kita tidak akan dilihat dari kurus,

gemuknya kita. Tidak dilihat bagaimana hidung atau betis kita….

melainkan dari kecerdasan, karya dan kebaikan hati kita.”

Aku menunduk. Benar juga.

“Keenam, dengan berjilbab kontrol ada di tangan perempuan, bukan

lelaki. Perempuan itu yang berhak menentukan pria mana yang

berhak dan tidak berhak melihatnya”.

Hadirin manggut-manggut. Yes!

“Ke tujuh. Dengan berjilbab pada dasarnya wanita telah melakukan

seleksi terhadap calon suaminya. Orang yang tidak memiliki dasar

agama yang kuat, akan enggan untuk melamar gadis berjilbab,

bukan?”

Aku menunduk lebih dalam.

“Terakhir, berjilbab tak pernah menghalangi muslimah untuk maju

dalam kebaikan,” ujar Mbak Nadia. “O ya berjilbab memang

bukanlah satu-satunya indikator ketakwaan, namu berjilbab

merupakan sebuah realisasi amaliyah dari keimanan seorang

muslimah. Jadi lakukanlah semampunya. Tak perlu ada pernyataan-

pernyataan negatif seperti “Kalau aku hati dulu yang

dijilbabin”. Hati kan urusan Allah, tugas kita beramal saja

dengan ikhlas.”

“Setujuuuu,” koor hadirin.

“Nah, sebagai bagian dari ummat yang besar ini, masalah jilbab

bukanlah masalah yang harus membuat kita bertengkar. Pakailah

dengan kesadaran dan jangan mengejek atau memaksa muslimah yang

belum memakainya, malah kita harus merangkul mereka. Tunjukkan

ahlak kita yang indah sebagai muslimah.”

Kini semua orang bertepuk tangan.

Aku berdiri memberi applaus pada Mbak Nadia. Keren banget

alasannya berjilbab. “Alasan ini Mbak, yang bisa saya terima!”

teriakku. “Biasanya yang saya dengar: kita, perempuan pakai

jilbab untuk membantu lelaki menjaga pandangannya. Huh parah!

Sebel dengarnya! Kenapa harus kita yang repot menjaga pandangan

mereka? Nggak banget deh!” teriakku.

Gerrrrrrr, para hadirin tertawa lagi. Sebagian menunjuk-nunjuk

ke arahku. Tika menarik-narik ujung baju menyuruhku kembali

duduk.

Tiba-tiba, kudengar suara Mas Gagah, “Moderator dan hadirin,

perkenalkan, penanya tentang jilbab ini adalah adik saya Gita

Ayu Pertiwi.”

Semua orang menoleh kepadaku yang masih berdiri. Aku salah

tingkah. Mas Gagah tersenyum. Mbak Nadia juga. Tika nyengir. Aku

makin salah tingkah.

“Insya Allah sebagaimana kita semua, Gita sedang berproses

menjadi pribadi yang lebih baik. Ishlah dalam setiap desah

napas. Kita doakan ya agar Allah memberi semua kebaikan,

hidayahnya kepada Gita… dan kita semua di sini.”

“Aaamiiiiiin,” seru hadirin. Suara Tika terdengar paling keras.

Mas Gagah tersenyum dari jauh. Alhamdulillah sepertinya ia tak

marah padaku..

“Masih mau ikut Mas nggak?” tanya Mas Gagah saat kami berdua

dalam perjalanan pulang.

“Mau. Ke mana, Mas? Ke tempat Mbak Nadia?” godaku. “Kirain belum

kenal sama kakaknya Tika, ternyata….Uuu, Gita mau tuh jadi adik

iparnya Mbak Nadia nanti!”

“Hus!” Mas Gagah tersipu, menggandengku.

Mobil kami terus berjalan, jauh sekali, melintasi entah daerah

yang asing bagiku. Mas Gagah berhenti sekali di sebuah

supermarket kecil. Aku mengerutkan kening melihatnya membeli

makanan kering, mie instan beberapa kardus, buku dan alat-alat

tulis. Mau ke mana?

Hujan turun rintik-rintik, lalu makin deras. Mobil kami susah

payah masuk di jalan kecil yang hanya pas untuk satu mobil.

Jalan kumuh dengan rumah-rumah triplek dan kardus berjejalan, di

sebuah kolong jembatan di daerah Jakarta Utara.

Ketika hujan benar-benar reda, aku mencium aroma sampah yang

kuat. Kami turun dan segera kakiku disambut cipratan air sisa

hujan yang menghitam. Beberapa anak berlarian menghampiri kami,

di antaranya bertelanjang dada. Wajah mereka sumringah.

“Mas Gagah! Mas Gagah datang! Horeeeeee!”

Mas Gagah menatapku sambil tersenyum. “Kenalkan, ini adik-adik

kita, Gita!”

Aku ternganga.

Mataku basah saat mereka berebutan mencium tangan kami dan tak

berhenti bercerita. Mas Gagah memeluk, bertanya ini itu,

mengajarkan beberapa hal, juga sempat bermain bersama mereka.

Belum hilang kagetku, tiga orang berbadan besar, sebagian

bertato, tiba-tiba menghampiri kami. Ah tempat seperti ini

memang banyak premannya. Aku sudah bersiap pasang kuda-kuda

ketika kemudian….

“Gagah!”

What? Mas Gagah dan ketiga orang itu berjabat tangan lalu

berangkulan sambil mengucapkan salam.

“Git, kenalin: ini Bang Urip, Bang Ucok dan Kang Asep.”

Aku mengangguk sambil mengernyitkan kening.

“Mereka yang jaga tempat ini dan melindungi anak-anak dari

orang-orang jahat. Kami berkenalan enam bulan lalu dan membuka

rumah baca bagi anak-anak di sini….”

Aku melongo. Rumah baca? Preman?

“Ya, kami preman insyap hahaha,” kata salah satu di antara

mereka.

Aku masih tak mengerti.

“Dulu kite pernah palakin Gagah, trus kite babak belur. Nah

senpai kite palak! Hehehe,” tukas Bang Urip padaku.

Lalu kulihat mereka bercerita macam-macam pada Mas Gagah.

“Sudah banyak perbaikan. Yang jadi copet sudah tak ada. Yg jadi

garong apalagi. Piss, Piiis, Gagah. Terimakasih bimbinganmu

selama ini. Eh, yang mau ikut ngaji bertambah lagi. Itu,

pimpinan preman RW sebelah,” kata Bang Ucok.

“Alhamdulillah. Seru itu Bang!” kata Mas Gagah akrab.

“Terus, anak-anak di sini jadi tambah senang baca euy. Baca

melulu. Jadi kepintaran kadang-kadang! Kami teh bisa kalah atuh

sama mereka,” selak Kang Asep sambil nyengir.

Mas Gagah tertawa.

“Nyok kite sholat dulu, Gah. Noh mushola kite nyang bulan lalu

belum kelar, sekarang ude bagus gara-gara elo dan temen-temen

lo,” ujar Bang Urip.

“Alhamdulillah,” senyum Mas Gagah lagi, sambil memberi isyarat

tangan padaku untuk melihat jauh ke depan, arah pojok kanan dari

tempat kami berdiri. Sebuah mushala kecil dengan bata merah yang

baru disemen.

“Eh, setiap ketemu kan kite yel dulu!” kata Bang Urip.

Lalu seperti diaba-aba, kulihat mereka semua berdiri: “Preman

insaaaaap!” teriak Bang Urip.

Lalu kulihat Mas Gagah, Bang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep

melompat-lompat sambil mengepalkan tangan ke atas, berseru penuh

semangat ala militer: “Huh huh huh huh: istiqomah!” Mereka

berangkulan. Kemudian setengah berlari sambil tertawa, menuju

mushala.

Di belakang mereka, anak-anak kecil mengikuti sambil melambai-

lambai mengajakku ke mushala pula. Ah, Mas Gagah…, apa lagi yang

telah ia lakukan? Mengapa akhir-akhir ini ia semakin sering

membuatku menangis, lalu menorehkan pelangi di dada yang sesak?

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke

rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak

sempat histeris juga. Mbak Nadia senang dan berulang kali

mengucap hamdalah.

“Salam nggak, Mbak, sama Mas Gagah?” usilku.

Mbak Nadia geleng-geleng kepala, mencubit pipi ini. “Aw!”

jeritku.

Dan sekarang saatnya memberi kejutan pada Mas Gagah! Mama bisa

dikompakin. Nanti sore aku akan mengagetkan Mas Gagah. Aku akan

datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya

jalan-jalan untuk persiapan syukuran ultah ketujuh belasku.

Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku

ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara syukuran yang

insya Allah mengundang teman-teman, anak-anak panti yatim piatu

dekat rumah kami, serta anak-anak rumah baca dan para preman

insyaf di sana. Hihi, aku tersenyum membayangkan betapa serunya

nanti.

“Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!”

kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang.

“Mas Gagah belum pulang,” kata Mama.

“Yaaaaa, kemana sih, Ma?!” keluhku.

“Kan diundang ceramah ke Bogor. Katanya langsung berangkat dari

kampus.”

“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep

di rumah temannya, atau di Masjid.”

“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari

ini,” hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen

sekali dengan Mas Gagah.

“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.

Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada

Mama.

Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga.

“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh,” hibur Mama

lagi.

Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam

sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

“Nginap barangkali, Ma?” duga Papa.

Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!”

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu

belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan

melihatku memakainya.

“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !” Telpon berdering.

Papa mengangkat telepon. “Halo, ya betul. Apa? Gagah?”

“Ada apa, Pa?” tanya Mama cemas.

“Gagah…, kritis, Rumah Sakit Mitra,” suara Papa lemah.

“Mas Gagaaaaaahhh!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.

Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku dan

Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah.

Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Dua orang polisi hilir

mudik di sekitar kami. Salah satunya sibuk menelpon. Tampak juga

beberapa sahabat Mas Gagah.

Beberapa suster melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.

“Tapi saya Gita, adiknya, Suster! Mas Gagah pasti mau lihat saya

pakai jilbab iniii!” kataku emosi pada suster di depanku.

Mama merangkulku, “Sabar, Sayang, sabar.”

Di ujung ruangan Papa tampak serius berbicara dengan dokter yang

khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, Suster? Dokter? Ma?”

tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?”

air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding

putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa

gagah enerjik itu bahkan tak bergerak!

“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…, Mas Gagah…, Gita udah jadi adik Mas

yang manis. Mas Gagah…,” bisikku.

“Terjadi kerusuhan di Bogor. Ada ratusan orang yang ingin

merusak sebuah rumah ibadah. Gagah melintasi daerah itu. Ia

turun dari mobil dan berusaha menenangkan massa,” suara seorang

polisi bicara pada Papa. “Ia bahkan berdiri di depan rumah

ibadah itu, melindungi mereka bersama dua orang temannya.”

“Sebenarnya massa sudah tenang, mendengar apa yang disampaikan

Gagah. Bahwa Islam itu mengajarkan kedamaian dan membawa pada

keselamatan. Gagah bahkan bilang saatnya kita bergandeng tangan

dan berjabat hati untuk membangun negeri….Mereka secara

bergerombolan pun beranjak pergi,” tambah salah satu teman Mas

Gagah.

“Lalu kenapa jadinya begini?” tanya Mama berlinang airmata.

“Entahlah, ketika massa pergi, tiba-tiba kami lihat hujan batu,

entah dari mana. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, Gagah

sudah jatuh berlumuran darah!” kata teman Mas Gagah lagi. “Kami

tidak lihat siapa yang melukainya!”

“Lalu massa bubar,” kata salah satu polisi. “Beberapa

diantaranya melepas jubah yang mereka kenakan di jalan. Katanya

mereka bukan warga desa itu. Mereka entah datang darimana.”

“Orang yang menyakiti Mas Gagah pasti orang jahat! Jahaaaaaaat!

Gilaaa!” teriakku terisak.

“Mama memelukku lagi. “Pasti, Gita. Dan Mas Gagah….Mas-mu orang

baik, Gita. Ia sedang berbuat baik saat terluka…,” tapi airmata

Mama tak kalah deras.

Aku masih menangis dan memukuli dinding. Mama dan Papa berusaha

menenangkanku. Seorang teman Mas Gagah mengingatkan bahwa ini

jalan yang harus dilalui Mas Gagah.

“Jalan yang dipilih Gagah adalah jalan mulia, Gita,” tuturnya.

Jalan yang sungguh mulia. Kami bersaksi!”

“Mana tersangkanya, Pak? Mana? Biar ia rasakan juga apa yang

dirasakan Gagah sekarang! Manaaaa?” Suara seseorang, parau!

Aku menoleh. Bang Ucok dari pemukiman kumuh itu!

Seorang polisi menghampirinya, “Tenang, maaf…kami belum

mendapatkan tersangkanya. Kami berjanji akan mengusut tuntas

kasus ini.”

Tiba-tiba kulihat di belakang Bang Ucok, Bang Urip dan Kang Asep

tergopoh-gopoh. Mata mereka basah dan merah. Wajah mereka kaku,

penuh bias kehilangan yang dalam.

“Harusnya kite bertige ade di sono! Harusnya kite bertige ade di

sono, ya Allaaah!” suara Bang Urip. “Gagah orang nyang paling

baek, Bapak, Ibu. Dia nyang paling peduli ama kami yang dianggap

sampah masyarakat. Dia deketin kami terus lagi suseh apalagi

seneng. Kagak pernah ade unsur politiknye kayak orang-orang

laen,” ujar Bang Urip menghampiri Mama dan Papa.

“Gagah mah udah membuat kami jadi lebih pede, lebih berarti,

ngerti habluminallah habluminannaas,” tambah Kang Asep.

Mama Papa memandang mereka haru.

Aku masih terisak di sudut ruangan. Geram. Marah. Pedih.

Gelisah. Sampai kulihat Tika dan Mbak Nadia datang. Setelah

mengucapkan simpati pada Mama dan Papa, mereka menghampiri,

berusaha menenangkan dan menghiburku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar

ruang ICU mulai sepi. Tinggal kami, seorang bapak paruh baya

yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis, Tika,

Mbak Nadia, serta beberapa sahabat Mas Gagah, Bang Ucok, Bang

Urip dan Kang Asep. Aku sudah lebih tenang, berzikir dan terus

berdoa, dibimbing Mbak Nadia. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah,

Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah, ummat juga.”

Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami.

“Ia sudah sadar dan memanggil nama Ibu, bapak, dan Gi….”

“Gita…,” suaraku serak menahan tangis.

“Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti

permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya,

lukanya terlalu parah,” perkataan terakhir Dokter Joko

mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!

“Mas…, ini Gita, Mas…,” sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin

mengucapkan sesuatu.

Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai… jilbab,”

lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

“Zikir, Mas,” suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas

Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang.

“Gi…ta….”

Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!

“Gita di sini, Mas. Semua ada di sini. Mama, Papa, Bang Ucok,

Bang Urip, Kang Asep, Mbak Nadia, Tika, yang lain juga….

Perlahan kelopak matanya terbuka. Aku tersenyum.

“Gita udah pakai jilbab,” kutahan isakku.

Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah

mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.

“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas,” ujarku pelan ketika kulihat

ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang

tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya

Allah…, sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!

Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas

Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi

sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih

bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa

membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. “Sebut nama Allah

banyak-banyak, Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku

sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus

hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti yang dikatakan Mbak

Nadia, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu lebih tahu

apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

“Laa…ilaaha…illa…llah…, Muham…mad…Ra…sul…Al…lah…,” suara Mas

Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.

Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum

menghiasi wajahnya.

Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat.

Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia

pergi.

Selamat jalan, Mas Gagah!



Buat adikku manis Gita Ayu Pratiwi,

Semoga memperoleh umur yang berkah,

Dan jadilah muslimah sejati

yang selalu mengedepankan nurani

Agar Allah selalu besertamu.



Ingat Islam itu indah…

Islam itu cinta…

Kalau kau tak setuju pada suatu kebaikan,

yang mungkin belum kau pahami,

kau selalu bisa menghargainya…

Sun Sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!



Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi

rongga-rongga dadaku.

Rok dan blus panjang, serta jilbab hijau muda, manis sekali. Ah,

ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang

tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu

panggilan Dik Manis, Aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-

diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan

kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya gambar-

gambar kaligrafi di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi

Iqbal tentang pemuda yang seolah bergema di ruang ini.

Lalu wajah adik-adik di kolong jembatan berlintasan, wajah Bang

Ucok, Bang Urip, kang Asep…, Mbak Nadia, doa-doa buat negeri dan

ummat yang selalu ia panjatkan….

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”

“Ya, Insya Allah akhwat!”

“Yang bener?”

“Iya, dik manis!”

“Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!”

“Kok nanya gitu?”

“Lha, Mas Gagah ada jenggotnya dikit!”

“Ganteng kan?”

“Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?”

“Ya always dong! Jihad itu kamu sungguh-sungguh berbuat baik…”

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.

Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.

Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan, Mas Gagah…







II



Setahun kemudian…

Pagi itu aku kembali berlari-lari mengejar bus jurusan Pulo

Gadung-Depok dengan seragam putih abu-abu.

Ya, sejak kami sekeluarga pindah dari Pasar Minggu ke

Rawamangun, perjalananku menuju SMA Cendana jadi lebih lama.

Bukan itu saja, aku yang terbiasa berjalan kaki ke sekolah kini

harus berdesak-desakan dalam bus, menahan sabar saat macet,

mendengarkan sumpah serapah kondektur bus pada beberapa

mahasiswa yang selalu dikiranya karyawan, dan tiba di sekolah

dengan perut mual serta kepala pening akibat supir yang ugal-

ugalan dan suka mengerem mobilnya secara mendadak.

“Kamu nggak mau diantar saja, Gita? Capek loh di jalan. Apalagi

kamu sudah kelas III,” tanya Mama.

Aku menggeleng. Sejak Mas Gagah meninggal, entah mengapa aku tak

pernah mau naik sedan itu lagi. Hal yang akan semakin

mengingatkanku pada masa-masa bersamanya….Lagi pula macet yang

dahsyat selalu membuatku merasa lebih baik naik kendaraan umum.

Jadi begitulah, aku selalu berangkat lebih pagi. Jam setengah

enam aku sudah berada dalam bus dan semua jadi lebih

menyenangkan. Udara yang segar, jalanan lengang, Sopir dan

kondektur yang belum stress, serta bangku-bangku yang belum

seluruhnya terisi.

“Asalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! Salam sejahtera!”

Aku melihat ke depan. Para penumpang lain juga melakukan hal

yang sama tanpa menjawab salamnya. Pengamen atau mau minta

sumbangan nih?

Kulihat lelaki dengan kemeja kotak-kotak cokelat dan celana

panjang krim. Ia menyandang tas hitam. Tak ada gitar atau kotak

amal di tangannya. So, mau ngapain nih orang?

Aku melengos.

“Maaf bila kehadiran saya mengganggu kenyamanan bapak Ibu dan

saudara-saudara. Tetapi ijinkanlah saya menunaikan kewajiban

sebagai hamba yang telah diberikan setitik ilmu oleh Allah SWT,

yang tentunya harus disampaikan setelah diamalkan.”

Lalu tiba-tiba saja ia mengucapkan basmallah, hamdalah…, serta

syahadat. Lalu dilanjutkannya dengan ayat Al-Qur’an dan hadis.

Kayak orang yang mau ceramah saja! Tetapi … aku tergetar.

Suaranya merdu.

“Saudara-saudaraku, Bapak-bapak dan Ibu-Ibu…, sudahkah anda

membaca koran pagi ini?” sapanya.

Tak ada yang menjawab. Lelaki itu tersenyum. Aku jengah. Tak

habis pikir…, mau ngapain sih orang ini? Kutatap wajah dan

sosoknya. Hampir tak berbeda dengan para mahasiswa pada umumnya.

Tinggi, kurus, hitam berambut agak ikal dan berkacamata minus.

Yaa lumayan manis deh….

“Mengapa banyak orang di negeri kita menjadi koruptor? Apa yang

sebenarnya terjadi? Tidakkah kita malu, sebagai bangsa muslim

terbesar di dunia, kita malah mendapat ranking tertinggi dalam

korupsi? Bagaimana cara mencegahnya?”

Aku mulai terperangah. Orang-orang di dalam bus mulai mengatur

duduk mereka lagi, mencari posisi yang lebih nyaman untuk…ini

dia… mendengarkan lelaki aneh itu! Apalagi yang mau dia katakan?

Lelaki itu terus bicara. Dan lama-lama para penghuni bus,

termasuk aku larut mendengar omongannya. Seorang bapak yang

sebelumnya duduk terkantuk-kantuk di sampingku, kini duduk tegak

dengan kening berkerut. Seorang mahasiswi yang duduk tak jauh di

hadapanku terlihat memiringkan kepala dan memicingkan matanya.

Dua pemuda berambut gondrong yang baru saja bermaksud mengamen

segera mengurungkan niatnya, bahkan kondektur sesaat lupa

menagih ongkos!

Wah, lelaki ini membuat semua terkesima!

“Berapa banyak orang miskin kian miskin karena perilaku korupsi

skala kecil maupun besar. Bermula dari diri kita, keluarga dan

sekitar, mari kita berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih

jujur, dan berahlak mulia. Jadi kesimpulannya, Islam itu indah,

tetapi kita sebagai umat Islam, seringkali membuatnya tampak

buruk. Kalau kita orang Islam, wajib malu dengan stigma korupsi

yang melekat di negeri ini. Kebenaran itu mutlak milik Allah,

dan bila ada kesalahan maka itu semata karena kekhilafan saya.

Billahi fisabililhaq. Wassalamu’alaikum warohmatullahi

wabarokatuh.”

“Wa’alaikum salaaaaaaammm!”

Kudengar hampir seluruh penumpang bus menjawab salamnya diiringi

dengan tepukan tangan.

“Minggu! Minggu! Minggu!” teriak kondektur.

Aku bergegas turun. Di depanku, lelaki orator itu telah melompat

lebih dulu dan segera hilang ditelan keramaian.

“Tadinya saya kira dia mahasiswa gila. Nggak tahunya anak cerdas

berbudi! Hebat dia!” seru seorang bapak yang sempat kudengar.

Jam 06.00. Aku baru saja membuka buku sosiologiku sambil

menikmati semilir angin pagi ketika sebuah salam menyapa seluruh

penumpang bus yang masih tampak terkantuk-kantuk….

Lelaki itu lagi! Kali ini ia mengenakan kemeja kotak-kotak hijau

dan menyandang ransel.

“Maaf, saya mengganggu perjalanan Anda semua,” katanya

tersenyum. “Sesungguhnya orang yang ‘laisa minal khoisirin’ atau

bukan termasuk orang-orang yang merugi adalah mereka yang

senantiasa nasehat-menasehati dalam keadaan apa pun.”

Kututup buku sosiologiku. Penasaran.

“Ibnu Umar pernah berkata: “Aku datang kepada Nabi SAW, maka

bertanyalah seorang pria Anshor: Ya Rasulullah, siapakah orang

yang paling bijaksana dan paling mulia?” Maka Nabi Saw menjawab:

“Orang-orang yang paling banyak mengingat mati dan gigih

berusaha untuk persiapan menghadapi mati, merekalah orang-orang

yang bijaksana sehingga mereka itu nantinya pergi dengan membawa

kemuliaan dunia dan keutamaan akhirat,” demikian hadist riwayat

Ibnu Majah. Maka kembali pada diri kita, sudahkah kita siap

menghadapi kematian yang pasti datang? Dalam Al-Qur’an dikatakan

kita tak akan bisa lari daripadanya. Bahkan saudaraku, bisakah

kita menjamin bahwa esok kelak kala matahari terbit kita masih

hidup?”

Hening. Yang terdengar cuma deru mobil dan suara teriakan

kondektur bus. Aku tergetar. Ah, mati. Mengapa lelaki ini bicara

soal mati? Hal yang sudah lama tak lagi kupikirkan sejak Mas

Gagah pergi….

Lelaki itu terus bicara. Suaranya yang keras bersaing dengan

deru bus dan hingar bingar jalan raya. Tapi ia seolah tak

peduli. Kini kutangkap ketulusan, juga semangat yang menyala-

nyala dalam dirinya.

“Minggu! Minggu!”

Setelah berpamitan pada semua penumpang, seperti biasa ia turun.

Sebelumnya kudengar suara seorang Ibu. “Saya kira anak tadi

ceramah terus minta duit…, nyatanya kok enggak ya, padahal saya

sudah siapin!” katanya tak mengerti sambil memasukkan kembali

selembar ribuan ke dalam tasnya. Beberapa kepala yang lain

manggut-manggut.

Upss! Mestinya aku turun juga di Pasar Minggu. Yaaa, kelewatan

deh! Habis, lelaki itu hari ini membuatku harus mengusap

airmata. Mati. Kata-kata itu terngiang terus setelah aku sampai

di sekolah!

“Memangnya orang itu ngapain? Iseng banget?” tanya Tri teman

sekelasku, di kantin sekolah.

“Ya ceramah!” kataku sewot. Dari tadi aku sudah ramai

cerita….eee Tri malah telmi!

“Orang kan ceramah di masjid, di mushala. Masak di bus!? Terus

penumpang dimintain duit berapa?” tanyanya sambil meminum teh

botolku.

“Kan tadi udah aku ceritain, dia nggak pernah minta duiiit!”

bibirku maju beberapa senti, dan tanganku merebut kembali teh

botolku tepat sebelum Tri menghabiskannya.

“Jangan marah dong, Non. Kayaknya kamu kesengsem sama cowok tak

bernama itu ya?” Tri cengar-cengir. “Memangnya dia keren?

Seperti siapa? Seperti Nicholas Saputra, Dude Herlino? Atau

seganteng almarhum Mas Gagah?”

Aku menarik napas panjang. Tri…Tri….

“Maaf Gita, maaf…aku nggak bermaksud mengingatkanmu pada

almarhum…,” tukas Tri seperti mengerti pikiranku.

“Assalaamu’alaikum!”

Aku menoleh. Tika!

“Kalian berdua tidak ikut rapat rohis? Hari ini ada beberapa

program yang akan kita bicarakan lho,” kata Tika sambil duduk di

sampingku.

“Oh iya, Tik! Aku malah ada usulan yel untuk rohis baru kita!”

seruku seperti ingat sesuatu. Wajah Bang Ucok, Bang Urip, Kang

Asep dan Mas Gagah melintas di hadapanku.

“Oh ya?” wajah Tika berseri. “Seperti apa yel-nya? Teman kita

yang laki-laki juga belum dapat tuh yel rohis.”

Tri pun menatapku ingin tahu.

Aku melihat sekeliling. Sudah lumayan sepi. Saatnya beraksi.

“Nih, kayak gini nih yel -nya!” Aku berdiri tegak menghadap

mereka, lalu berteriak keras , “Rohis Cendana!” Setelah itu aku

melompat lompat sambil mengepalkan tangan ke atas: Huh huh huh

huh: Istiqomah!”

Tika dan Tri memandangku aneh.

“Itu tadi apaan, Git?” Tanya Tika.

Ah, mereka memang tak tahu yel keren. Sangat tidak apresiatif.

Mereka malah geleng-geleng kepala.

“Dasar kelakuan! Dah pakai jilbab, masih aja preman!” seru Tri

padaku.

Tika tergelak.

O…o!

Hari itu, pulang sekolah, Tri mengajakku dan Tika mampir ke

rumahnya di Depok I. Sambil menyelesaikan paper Sosiologi, kami

melanjutkan obrolan tentang “makhluk aneh dalam bus itu”. Tapi

sepertinya Tri lebih tertarik membicarakan Bob, anak basket

idola cewek-cewek Cendana.

Akhirnya tak lama aku pulang. Kali ini naik kereta Jabotabek.

Aku biasa turun di Cikini dan dengan menyambung sekali kendaraan

sudah bisa sampai di rumah.

Kereta melaju dan bergoyang-goyang. Aku menyelusuri gerbong demi

gerbong, mencari tempat yang agak nyaman. Seperti biasa angkutan

rakyat ini benar-benar berjubel. Semua jenis manusia dengan

beragam profesi ada di sini. Mahasiswa, pedagang asongan, dosen,

karyawan, karyawati, pengangguran, pencopet, dan tentu saja…

para pengemis yang selalu ‘memeriahkan suasana’!

Bau keringat, bau sampah. Suara makian, batuk. Lalu ludah dan

dahak yang dibuang sembarangan, tangisan bayi, kerincingan para

pengamen….

Sampai di gerbong ke empat…ya ampun! Aku terkejut sekali! Si Mas

Kotak-kotak (kemejanya selalu kotak-kotak) itu ada di situ! Dan

seperti biasa, ia sedang ceramah!

Suaranya di ujung gerbong tak begitu terdengar dari tempatku

berdiri kini. Aku maju mendekat. Kebetulan ada bangku kosong tak

jauh di depan Si Kotak-kotak. Dan dengan cueknya aku duduk.

Sungguh, aku ingin mendengar apa yang dikatakannya.

“Jadi untuk apa kita hidup? Sebagai muslim, kita harus punya

jawaban pasti untuk pertanyaan tadi,” katanya.

“Hidup ya untuk makan, menikah dan bayarin sekolah anak-anak!”

kata seorang bapak tua bergigi ompong, pedagang jambu yang duduk

di dekat pintu, disambut gerrr yang lain dan gemuruh suara

kereta.

Si Kotak-kotak Merah Hati tersenyum.

“Hidup itu ya untuk berusaha…,” kataku tiba-tiba dengan suara

keras.

“Ya, adik betul! Berusaha untuk senantiasa mengabdi kepadaNya.

Di surat Adz-Dzariyat ayat 56 Allah bersabda: Tidaklah Aku

ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah, mengabdi

kepadaKu!”

Aku menunduk. Kena lagi gua!

Entah apa namanya. Kebetulan barangkali. Tetapi hari terus

berlalu dan hampir setiap hari aku bertemu dengan lelaki tak

bernama yang selalu memakai kemeja kotak-kotak itu. Di bus,

dalam kereta… bahkan yang bikin aku heran bukan kepalang, aku

pernah bertemu dengannya kala tak sengaja menyusuri rumah-rumah

triplek di sepanjang kali Ciliwung! Pernah juga di Tanah Abang,

lalu di Pekan Raya Jakarta saat aku, Mama, dan Papa ke sana!

Kebayang nggak sih? Di PRJ dia ceramah ini sambil menggelar

buku-buku agama.

“Buku ini berapa, Nak?” tanya seorang bapak tua berbaju lusuh

bersandal jepit sambil memegang buku tentang sholat tersebut.

“Mengapa Bapak memilih buku itu?”

Si Bapak tersenyum malu. “Saya ingin menjaga shalat saya. Selama

ini belum benar.”

“Ambillah, Pak. Semoga bermanfaat. Saya berikan untuk Bapak.”

Si Bapak terpana. Langsung mendekap buku tebal karangan Al-

Ghazali itu dengan haru.

“Sekarang boleh saya meminta buku tentang warisan ini?” tanya

seorang Ibu berpakaian bagus. Wow, silau juga aku memandang

perhiasannya.

“Silakan Ibu letakkan uang infaqnya di kaleng ini seikhlas Ibu.

Insya Allah untuk disalurkan pada orang yang berhak

menerimanya,” seru Si Kotak-kotak.

Begitulah. Di mana ia berada di sana selalu banyak yang

memperhatikannya. Wajar. Habis yang diangkat menjadi bahan

pembicaraan selalu yang menarik, seru, aktual dan hebat. Belum

lagi manuvernya.

Lelaki berkemeja kotak-kotak itu juga sangat unpredictable dan

berani. Pernah kami sama-sama di dalam miniarta yang padat.

Hampir tak ada celah, sesak sekali. Ia bahkan tak menyampaikan

tausiyahnya seperti biasa. Tiba-tiba saja terjadi keributan.

Dalam gerak cepat kulihat lelaki itu mencengkeram tangan seorang

pemuda berbaju rapi.

“Kembalikan handphone ibu itu!” katanya tegas, pada pemuda

tersebut, sambil memegang tangan si pemuda yang mencoba

menyembunyikan sebuah ponsel.

Para penumpang langsung ribut dan berteriak-teriak, “Copeeet!

Copeet! Gebukin aja, Bang! Habisin! Habisin!” beberapa pemuda

mencoba merangsek maju seakan ingin membantu Si Kotak-kotak!

“Tahan!” teriak Si Kotak-kotak. “Bu, ini hape ibu. Lain kali

hati-hati,” ujarnya.

Si Ibu yang diajak ngomong bengong. “Lah kapan diambilnya?”

gerutunya sambil menerima benda itu kembali. “Nah iya ini hape

saya! Dasar copet!”

Beberapa orang mendekati si pencopet, sepertinya ingin

menghakimi. Lalu tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di wajah

pencopet itu!

“Tahan, Bang! Tahan!” teriak si Kotak-kotak lagi. “Pak Sopir,

berhenti, Pak!”

Saat miniarta berhenti Lelaki itu menarik si pencopet turun.

“Kamu harus bertanggungjawab,” katanya.

Beberapa lelaki ikut turun.

Miniarta lalu melaju. Dari kaca belakang miniarta kulihat Si

Kemeja kotak-kota berusaha mencegah amuk beberapa pemuda. Ia

merangkul pencopet itu dan mengajaknya entah kemana.

Semoga insyaf tuh orang, pikirku. Syukur saja tak jadi bulan-

bulanan.

Soal Si Kotak-kotak, terus terang aku makin penasaran pada

pribadinya. Siapa dia? Siapa orangtuanya? Kuliahkah,

pengangguran atau sudah bekerja? Di mana rumahnya? Dan mengapa

ia seakan sangat mirip dengan seseorang yang dekat denganku?

Pertanyaan itu belum juga terjawab hingga aku diterima di

Fakultas Ilmu Budaya UI!

“Palestina masih terus berjuang untuk kemerdekaan mereka. Di

negeri itu, semua yang menentang penjajahan disebut teroris,

bahkan bocah-bocah yang membawa batu melempari tentara Israel.

Dan dunia diam. Mengapa? Karena korbannya muslim? Jadi berapa

pun yang tewas tak ada yang peduli? PBB cuma mengaku bersimpati.

Amerika cuma jago menghimbau, sementara negeri-negeri Islam

berpecah belah. Wahai kaum muslimin Indonesia, dimanakah kalian?

Tidakkah kita sempat untuk sekadar mendoakan mereka?”

Ramadhan, jelang berbuka puasa. Di dalam kereta api Jabotabek

dari kampus menuju Cikini, kulihat airmata mengambang di pelupuk

mata lelaki tak bernama itu. Ia masih seperti dulu. Aneh, tapi

kharismatik. Dengan semangat yang tak surut sedikit pun. Bahkan

pada saat puasa begini ia membuatku ingin menangis.

“Ramadhan seperti apakah yang dilalui saudara-saudara kita di

Palestina? Tahukah Anda, pada Ramadhan mulia ini kebiadaban dan

kekejian terus digelar di sana? Apa yang terjadi melebihi

tragedi Nazi. Para bocah kehilangan tangan dan kaki, para pemuda

dan wanita juga dibantai, rumah-rumah mereka dirobohkan dan

tanah mereka dirampas, sementara kita di sini masih tertawa-tawa

tak percaya.”

“Darimana kamu tahu tentara Israel lebih kejam dari Nazi?” kejar

seorang bapak—sepertinya dosen—dingin.

Si Kotak-kotak mengeluarkan berbagai kliping surat kabar dan

majalah, lengkap dengan foto-foto yang telah diperbesar.

“Lihatlah sendiri. Saya mengumpulkannya dari berbagai majalah

internasional. Silakan anda lihat! Pertanyaan saya cuma satu.

Adakah ukhuwah Islamiyah yang masih tersisa di dada kita? Bahkan

kita kalah reaktif dengan rakyat Amerika Serikat yang bila ada

satu saja warga negaranya tewas di Irak atau hilang di

Indonesia, pemberitaan begitu gencar dan simpati dunia segera

mengalir. Tapi ribuan saudara kita dibantai kita bahkan tak

mengetahuinya….”

“Kenapa kita harus memikirkan Palestina? Jauh amat. Pikirin yang

dekat-dekat saja dulu. Nih negeri kita yang semakin miskin dan

kacau…,”nada sinis seorang pemuda gondrong. “Palestina

dipikirin. Kayak nggak ada kerjaan….”

Lelaki berkemeja kota-kotak itu menghampiri si Pemuda. “Abang

betul,” katanya. “Prioritas kita adalah saudara-saudara kita

satu bangsa, satu tanah air. Satu daerah, satu RT, pera tetangga

kita! Kita tak boleh mengabaikan mereka. Apa yang bisa kita

lakukan untuk meringankan beban saudara-saudara kita di sini,

harus disegerakan, karena ada hak-hak atas mereka dalam diri

kita yang harus ditunaikan.”

Si Gondrong menatapnya tajam.

“Tetapi Islam mengajarkan kita, untuk berbuat maksimal. Di mana

pun kita berada, itu adalah bumi Allah, termasuk Palestina. Di

sana sedang terjadi penjajahan biadab puluhan tahun. Kita tak

usah bicara Islam, bicara nilai-nilai kemanusiaan yang Abang

anggap lebih universal. Apakah kita akan menjadi bangsa yang

bungkam atas nasib bangsa lainnya? Bukankah Indonesia adalah

negeri yang tak pernah mentolerir penjajahan? Lagi pula, secara

historis, ada warisan Islam, Masjid Al Quds, tempat Nabi

Muhammad SAW Isra-mi”raj yang sedang terancam hancur. Siapa yang

akan peduli? Lalu karena alasan Indonesia belum makmur, kita tak

boleh menengok nasib mereka? Sekadar mendoakan dari jauh pun tak

mau? Lihat, dalam kesengsaraan mereka warga Palestina masih

setia membantu kita setiap kali negeri kita dilanda bencana. Dan

itu mereka lakukan sejak sebelum kita merdeka dulu!”

Si Gondrong diam, mengusap-usap pipinya.

“Ya, adik benar,” suara orang yang tadi kuduga dosen.

Aku mengusap mataku yang mulai berembun. Kulihat beberapa orang

di sekitarku juga tampak seperti disentakkan dan terenyuh.

“Saya ingin menyumbang…,” kata seseorang. “Bisa lewat adik?”

“Tidak. Tapi pergilah ke yayasan-yayasan Islam atau Bulan Sabit

Merah Indonesia. Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati Bapak.”

Kereta terus melaju. Berguncang-guncang. Melonjak keras. Seperti

hatiku, setiap kali mendengar kata-kata lelaki tak bernama itu.

“Oh ya, ini memang tak seberapa, tetapi lumayan untuk berbuka

puasa,” sekitar lima menit sebelum adzan lelaki itu membagi-

bagikan kurma pada para penghuni gerbong yang mulai resah

mencari-cari makanan.

“Silakan, Dik,” ujarnya ramah padaku yang terbengong-bengong.

Ada sih orang kayak gini?!

Aku sering bertemu Si Kotak-kotak itu hingga aku lulus SMA dan

diterima di Fakultas Ilmu Budaya UI. Beberapa kali kutemukan ia

tengah berada di UI. Apa ia juga kuliah di sini? Aku tak bisa

memastikannya. UI terlalu luas. Bahkan fakultas satu dengan yang

lain berjarak cukup jauh dan biasanya di tempuh dengan bis

kuning, meski masih satu lingkungan. Dan mahasiswanya…, banyak

sekali. Aku sendiri memasuki tingkat dua memutuskan untuk kos.

Capek juga pulang balik naik bus atau kereta tiap hari.

Akhir semester lalu, aku masih ingat. Hari itu aku baru pulang

ujian dan berniat mampir di Kantin Kukusan, dekat tempat kos –

untuk membeli nasi bungkus. Tiba-tiba kudengar suara seseorang.

Suara yang keras, tegas, berwibawa dan enak didengar. Begitu

kukenal. Ah, kutepiskan pikiranku dan masuk ke dalam kantin. Di

depan pintu aku terpaku.

Belasan orang duduk tak teratur menghadap seseorang yang berdiri

di sudut ruangan. Si Mas Kotak-kotak tak bernama itu! Dan di

sekitarnya… ya ampun, cowok semua! Kecuali pelayan rumah makan

yang juga sedang terbengong-bengong! Kutarik napas panjang,

dasar nasib, udah tahu markas cowok teknik, nekat juga. Ya,

cueklah! Namanya juga orang lapar!

“Namanya Dr. Alexis Carrel. Ia peraih Nobel dalam bidang

kedokteran tahun 1912, dan direktur riset Rockfeller Foundation.

Hasil penelitiannya membuktikan bahwa berdoa bisa menjadi sumber

aktivitas terbesar bagi anggota tubuh kita. Sebagai dokter, ia

melihat kebiasaan berdoa bagaikan tambang radium yang

menyalurkan sinar dan melahirkan kekuatan diri.”

“O ya? Begitu ya, Bang?” tanya seorang cowok sambil menggeleng-

gelengkan kepalanya diiringi decak kagum.

Aku masih terpaku di pintu.

“Eh, nasinya keburu dingin nanti! Ayo kita makan. Rasulullah

saja tak pernah membiarkan makanan menunggu lho!” ujar si

kotak-kotak memecahkan suasana yang sesaat hening.

“Eh iya, Bang…memang sudah lapar kali ni,” ujar seseorang yang

tepat berada di depan si kotak-kotak dalam dialek Sumatera

Utara.

“Tapi jangan lupa, setiap kali kita bisa menjumpai makanan,

selain bersyukur, kita juga harus ingat saudara-saudara kita

yang dhuafa di negeri ini…”

“Waaaah tak bisa makan aku nanti, Bang,” seru si logat Sumatera

Utara tadi.

“Para tetangga terdekat kita…,” Si Kotak-kotak tersenyum.

“Jangan sampai kita makan, mereka tak makan….”

“Makin tak bisa makanlah, Bang…,” lelaki di depan si Kotak-kotak

itu kebingungan sendiri. Cengengesan.

Si Kotak-kotak tertawa. Dipegangnya pundak orang itu akrab,

“Kita juga harus makan, Dik. Sebab Allah lebih menyukai muslim

yang kuat daripada yang lemah,” kata lelaki tak bernama itu

bijak. Dengan tubuh yang sehat, kemungkinan kita menolong mereka

lebih besar bukan?”

Hening. Aku tercengang lagi. Wong cowok-cowok kantin di sini

biasa senengnya godain kita-kita sambil main gitar, terus

sekarang memasang mimik sedih?

“Mbak, nasi sama semur dagingnya!” teriakku dari depan pintu.

Maklum, perut sudah melilit… ee si mbaknya asyik senyam-senyum

sambil memandang Si Mas Kotak-kotak.

“Mbaaaaak!” teriakku. “Nasi sama semur daging!”

Kontan semua memandangku, termasuk Si Kotak-kotak.

Aku tergagap. Masuk pelan-pelan. Segera mengambil nasi bungkusku

dan berlari. Salah sendiri masuk ke kandang macan, weeeeee!

“Apaan, Mbak?” ulang si pelayan kantin Kukusan dengan suara

keras.

“Ssssssst, jangan teriak gitu dong! Saya cuma mau nanya. Mas

yang kemarin makan di sini, yang pakai baju kotak-kotak ungu

muda itu namanya siapa?”

“Yang ceramah? Yang bikin kantin saya laris?”

Aku mengangguk cepat.

“Wah, saya juga ndak tahu tuh, Mbak. Dia jarang kok makan di

sini? Memangnya kenapa sih? Situ naksir, ya?” berondongnya.

Aku menghela napas dan segera berlalu.

“Sama dong, Mbak! Kita juga naksir!” teriak si pelayan itu.

“Saingan ni yeee!”

Aku cemberut. Ember tuh orang! Siapa yang naksir? Emangnya kita

cewek apaan. Sewot betul aku! Aku kan cuma penasaran! Bayangkan!

Sudah lama aku melihat Si kotak-kotak itu berkeliaran…bahkan

namanya saja aku tidak tahu! Wajar dong penasaran!

Sekian lama aku tak bertemu Si Mas Kotak-kotak. Kebetulan aku

juga sibuk di kampus, apalagi teman-teman di Forum Amal dan

Studi Islam (FORMASI) benar-benar melibatkanku dalam banyak

kegiatan. Aku sendiri baru ikut kegiatan itu setahun lalu. Apa

ya, motivasinya? Yaaa, pengen jadi orang yang lebih baik aja…

sekaligus ingin lebih dalam lagi mengenal Islam dan umatnya di

bumi ini seperti… Mas Gagah dan…lelaki tak bernama itu. Ah,

jujur. Secara tak langsung, setelah Mas Gagah tiada, semangat

untuk belajar Islam memang kembali kudapat dari dia. Orang yang

tak kukenal sama sekali!

“Gita, jangan lupa lho…, total uang yang kuberikan padamu tiga

juta rupiah. Lalu dua puluh kardus mie instan, lima kardus baju

bekas dan tiga karung beras!” suara Tutut , sahabatku di

jurusan, mengagetkanku.

“Iya, aman!” Seruku sekenanya.

“Sip!” Tutut tersenyum dan berlari meninggalkanku.

Lelaki kotak-kotak tak bernama itu sekarang ada di mana ya?

Semoga Allah selalu memberi kekuatan padanya. Aku jadi ingat

Tutut pernah cerita ada seorang teman kakaknya yang sejak SMP

dan SMA menjuarai berbagai lomba pidato sampai lomba debat

tingkat nasional. Sekarang dia sering memberikan ceramah

dimana-mana bahkan tanpa dibayar dan dipinta.

“Tempatnya juga nggak lazim. Di bus, kereta, restoran, panti-

panti, nggak jelas deh. Tapi orangnya tulus dan rendah hati

sekali.”

“Namanya, Tut? Terus kuliahnya di mana? Dia suka pakai baju

kotak-kotak ya?”

Tutut mengernyitkan dahi. “Ada apa nih?” tanyanya nyengir. “Ayo,

berhati-hatilah dengan hatimu…,” katanya waktu itu sambil

melirik penuh arti dan menghentikan informasi.

Yaaa, penonton kan kecewa. Tapi Tutut benar. Kenapa sih aku

terlalu ingin tahu dengan sosok misterius itu? Apakah karena

sosok itu mengingatkanku pada…Mas Gagah?

“Gita, ayo berangkat! Panggilin teman-teman yang lain!” teriak

Eki dan beberapa kawan membuyarkan lamunanku.

Yap. Aku mengangguk dan segera berkemas.

Tak lama aku dan anak-anak FORMASI sudah menuju daerah Tanah

Tinggi untuk memberikan bantuan bagi korban kebakaran besar di

sana.

Setelah sampai, kami semua dengan mengenakan jaket kuning segera

mengeluarkan barang bantuan dan disambut oleh beberapa pemuka

warga dengan haru. Tangisku hampir pecah melihat bayi dan balita

tidur beralaskan tikar di atas reruntuhan rumah mereka yang

terbakar.

“Warga yang lain kemana, Pak?” tanya Eki heran.

Aku melihat sekeliling. Kok sepi ya….

“Iya nih, lagi pada ngaji di bedeng. Ayo deh Bapak antar ke

sana,” kata seorang bapak ramah.

Kami semua berjalan menuju sebuah bedeng triplek yang terkesan

dibangun asal jadi.

“Ayo, masuk, Nak!”

Di dalam bedeng sekitar seratus orang lebih sedang mendengarkan

ceramah. Aku duduk perlahan, menatap ke depan dengan pandangan

tak percaya.

“Jadi musibah bisa jadi adalah ujian dari Allah atas keimanan

kita. Di dalam hadis dikatakan bahwa bila ada seseorang yang

kena musibah, walau hanya tertusuk oleh duri, niscaya dosanya

akan dikurangi oleh Allah.”

Lelaki dengan kemeja kotak-kotak itu terus bicara. Wajahnya

teduh. Ya Allah, kenapa orang ini senantiasa bersegera dalam

kebajikan? Kenapa ia selalu hadir lebih dulu? Kenapa ia begitu

mirip? Wajahnya tak seganteng Mas Gagah. Bukan wajah yang

mirip…mungkin perangai…atau….

“Rasulullah Saw berkata bahwa kefakiran itu dekat dengan

kekufuran. Karena itu meski kita miskin harta, hendaknya tetap

kaya iman. Jangan sampai sudah kita miskin di dunia, banyak

berbuat maksiat pula, hingga kelak melarat di akhirat.

Na’udzubillahi min dzalik.”

Kulihat para warga serius mendengar. Sesekali mereka

mengangguk-angguk.

“Demikian dulu dari saya. Saya mohon maaf bila ada kata yang

salah. Sesungguhnya kebenaran itu dari dan milik Allah semata.

Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati dan persaudaraan kita.

Marilah kita saling mendoakan.”

Usai mengucap doa dan salam lelaki itu bangkit.

“Tunggu! Siapakah nama anak? Saya juga ingin mendoakan anak…,”

kata seorang Ibu tua tiba-tiba.

Aku tersentak. Ya, siapakah namamu?

Lelaki itu tersenyum. “Nama saya Abdullah, Bu. Saya bukan

siapa-siapa dan saya pun akan mendoakan semua yang ada di sini.

Assalamu’alaikum.”

Pemuda itu pun bergegas pergi setelah bersalaman dengan beberapa

pemuka warga.

“Baiklah, sekarang kita kedatangan adik-adik dari UI,” kata

seorang bapak berpeci. Tepuk tangan kembali bergema mengiringi

kehadiran Eki dan kawan-kawan FORMASI di hadapan warga.

Tetapi mataku tertuju keluar. Memandang lelaki itu hingga ia

menjelma titik kecil dan menghilang di kejauhan.

Abdullah? Betulkah itu namanya? Mas Gagah-ku yang muncul

kembali?

Senja ini, aku memang berniat pulang ke rumah. Kangen sama Mama

Papa. Di stasiun UI aku bersungut-sungut. Kereta api Jabotabek

yang sejak tadi kutunggu, tak muncul juga. Eeeh, setelah satu

jam menunggu akhirnya terdengar pengumuman: KRL tak dapat

beroperasi karena listrik mati! Geregetan. Kontan aja aku putar

arah. Jalan kaki ke Kober lalu menyambung naik bus.

Baru saja aku menginjakkan kaki ke atas bus, kulihat Si Mas

Kotak-kotak duduk tepat di paling depan. Kuedarkan pandangan ke

sekeliling mencari bangku kosong. Sia-sia. Penuh semua!

“Silakan, Dik!” suara Si Kotak-kotak!

“Makasih, Mas Abdullah.” Ups, aku kelepasan! Sok akrab banget.

Sepintas kulihat dia mengerutkan kening.

O…o!

Aku menunggu-nunggu lelaki ini bicara seperti biasa. Tetapi ia

tampak tenang-tenang. Hanya sesekali badannya limbung karena Pak

Sopir kerap mengerem mendadak. Sampai di Lenteng Agung, kulihat

lelaki itu pindah ke depan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” sapanya. Dan

kemudian seperti hari-hari kemarin kudengar dan kucermati kata-

katanya.

“Fii ahsani taqwim. Artinya Allah menciptakan kita dengan

sebaik-baik bentuk. Anda merasa pesek, jereng, tonggos,

jerawatan, hitam legam? Merasa jelek? Tak perlu demikian.

Percayalah anda harus tetap bersyukur karena itu sebaik-baik

bentuk Anda. Amalan anda yang akan membuat Anda lebih ganteng

dan cantik, terutama di hadapanNya. Dan sebaik baik manusia di

sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Jadi sudahkah kita

bersyukur atas keberadaan kita hari ini?”

Orang-orang di bus memandang lelaki ini serius sambil manggut-

manggut, beberapa cengengesan. Aku juga. Lelaki itu terus bicara

diiringi deru kendaraan.

“Mari sama-sama arif memandang apapun,” ujar lelaki itu lagi.

Cobalah memandang sesuatu tidak hanya dari sudut pandang Anda,

tetapi dari sudut pandang orang lain dan Tuhan.”

“Sudut pandang Tuhan seperti apa itu?” celutuk seorang Bapak.

“Apa yang tertulis di kitab suci, diriwayatkan hadis dan dicatat

oleh nurani kita, insya Allah,” katanya sambil tersenyum.

Tanpa terasa bus yang kami naiki sudah memasuki Pasar Minggu.

Tiba-tiba jalan bus terhenti, di hadang kerumunan pelajar putih

abu-abu! Mereka berteriak-teriak Ada yang mengacung-acungkan

pisau, golok, rantai, clurit juga… samurai! Tubuhku langsung

lemas.

Aku dan para penumpang lain serba salah. Turun atau bertahan di

bus? Bisa-bisa kami kena batu nyasar!

Jantungku berdebar cepat! Ya ampun, mana nih pak polisi! Aksi

para pelajar itu brutal sekali! Mereka saling lempar dan saling

baku hantam!

PRANNNGGG! PRANNNGGG!

Kaca jendela yang berada tepat dibelakangku pecah porak-poranda.

Seorang Ibu mengaduh memegangi pelipisnya yang berdarah!

“Serbuuuuuuuuuu! E… eh…, mau kemana lu! Jangan lari! Bangsattt!”

Ya Allah, seorang pelajar dengan tubuh berdarah naik ke atas bus

ini. Aku bingung harus bagaimana. Pelajar itu mencari-cari

tempat sembunyi.

“Hei! Gila! Kenapa naik ke sini? Bisa-bisa kami yang jadi

sasaran!” teriak seorang bapak panik. Sementara seorang wanita

memeluk bayinya erat-erat.

“Sa… ya bisa… mati… kalau… tu… run…,” kata pelajar itu lemah.

Si Mas Kotak-kotak segera memapah anak itu bersembunyi di antara

bangku.

“Eh, mane die?! Hajarr! Bunuhh!

“Pak, jalanin bisnya!” teriak seorang Ibu panik.

“Nggak bisa, Bu! Mereka bergerombol di depan!” bentak Pak Sopir

tak kalah panik.

DUG! DUG!

PRANGGGG! PRRANNGG!

Segerombolan pelajar naik ke dalam bus membawa berbagai senjata.

Pengecut! Beraninya ramai-ramai! Sungguh aku ingin meludahi

anak-anak tengil ini!

“Mane tuh anak?! Periksa-periksa!” teriak mereka.

Seluruh penumpang bergidik.

“Adik cari siapa?” Suara penuh kesejukan itu bergetar.

“Minggir lu! Jangan ngalangin gue kalo nggak mau mampus!”

Lelaki dengan kemeja kotak-kotak hijau itu beristighfar.

“Nie die, Coy! Gue temuiin! Ni die!”

“Hajarrrr! Tusuk!”

Para pelajar itu maju dan… aku serasa tak berpijak di bumi…

mereka membacoknya! Seluruh penumpang histeris!

“Tahan! Berkacalah, bagaimana kalian bisa membunuh saudara

sendiriii…?”

CRESH….

“Aaaaa!” aku terkejut.

Lelaki berbaju kotak-kotak…, Mas Abdullah jatuh tersungkur

sambil memegangi dadanya. “A…dikku…, bagai…mana…kali…an bisa…

berbuat… begi…ni,” gumamnya pedih.

Aku bangkit dari tempat duduk dan berteriak histeris.

“Polisiiii! Polisiiii! Paaaak, cepat kemariiiii!” teriakku.

Para remaja itu berhamburan keluar bus setelah mereka merampas

tas Mas Abdullah. Salah satunya, yang paling tengil sempat

kutendang dari belakang!

“To…long…, tolong mereka…,” kataku memelas pada para penumpang.

“Tunggu… polisi!” teriak seseorang ketakutan.

“Polisi belum datang! Tadi saya pura-pura!” teriakku panik.

“Cepat keluarkan mereka!” Suara seseorang.

Aku menoleh. Seorang pemuda bergegas ke arahku dan membantu

membopong Mas Abdullah dan anak sekolah yang terluka itu. Aku

seperti mengenalnya….

“Kamu….”

“Saya Manto, Mbak…,”ujar pemuda itu.

Kuhirup napas dalam-dalam. Aku merasa pernah melihatnya. Tapi

itu tak penting. Yang paling penting adalah segera menolong Mas

Abdullah dan pelajar itu. “Saya Gita,” tukasku. Lalu aku, pemuda

itu dan dua lelaki separuh baya turun mencari bantuan.

Jalanan mulai sepi. Hanya batu-batu, ceceran darah dan pecahan

kaca di sekitar. Dari jauh kudengar sirine polisi.

Kuhentikan dua buah taksi.

Ayo, Pak! Masukkan mereka!” teriakku pada yang membopong.

“Saya nggak megang uang, Neng!”

Kukeluarkan dompetku. “Saya yang bayar! Rumah sakit terdekat,

Pak!” aku masuk ke dalam taksi. Sementara si pemuda rapi tadi di

taksi yang lain bersama pelajar yang terluka itu. “Biar mbak,

saya ada uang untuk bayar taksi,” katanya.

Barulah aku menyadari, pemuda rapi itu adalah pria yang waktu

itu tertangkap tangan Mas Abdullah sedang mencopet handphone di

miniarta.

“Ia membantu saya berubah…,” katanya seperti tahu pertanyaanku.

Subhanallah. Tak ada waktu. Kami bergegas.

Taksi melaju. Kudengar lelaki yang entah mengapa kini kuanggap

saudaraku itu berzikir satu-satu.

“Tahan ya, Mas. Insya Allah, kita segera ke rumah sakit!” Tiba-

tiba bayangan Mas Gagah melintas di hadapanku. Apakah nyeri

seperti ini yang ia rasakan dulu? Mengapa orang baik yang selalu

menjadi korban? Aku menggigil.

Sesampainya di RS, kedua korban segera dimasukkan ke UGD. Aku

resah menunggu, juga bingung. Ketika petugas menanyakan nama Si

Mas Kotak-kotak, aku cuma sebut Abdullah.

“Identitasnya ada, Mbak?”

“Saya juga nggak kenal, Bu. Tadi tasnya diambil pelajar-pelajar

brengsek itu!” tegasku. Kasihan Mas Kotak-kotak. Malah dia belum

sadar….

Aku mencari pemuda rapi tadi. Di mana dia?

“Suster lihat pemuda yang bersama saya tadi membawa korban?”

“Iya mbak, tapi ia tadi terburu-buru, katanya sudah terlambat ke

tempat kerja. Ia menitipkan ini pada mbak.

Mbak, maaf saya buru-buru. Sumpah, saya sudah tidak jadi

pencopet lagi. Lewat dia saya dapat hidayah. Semoga Allah

melindungiNya. Besok insya Allah saya ke sini lagi. Manto.

“Adik yang tadi dalam bis?”

Aku terperanjat. Polisi….

Aku mengangguk. “Ya, saya Gita.”

“Ikut ke kantor kami untuk memberi keterangan.”

Dua hari aku bolak-balik kampus-kantor polisi. Diantaranya untuk

menjadi saksi siapa pelaku penusukan. Demi kebenaran, aku

menurut. Pelaku penusukan yang berwajah bengis itu pun sudah

diamankan.

Dan hari ini, ketika aku kembali ke Rumah Sakit untuk menjenguk,

aku terperanjat.

“Sudah meninggal kemarin, Mbak….”

“Apa?”

“Pelajar yang kena tusuk sudah meninggal.”

“Saya nanya yang satu lagi, yang masuknya bareng sama pelajar

itu!”

Sang suster mengangguk-angguk. “Ooo, baru setengah jam yang lalu

dijemput keluarganya dan pemuda yang kemarin bersama mbak

kemari. Lukanya tidak terlalu parah. Ia juga berpesan untuk

menyampaikan terimakasih kepada mbak yang sudah menolongnya.”

Aku mengangguk dan menggigit bibir. Tanpa terasa buliran bening

menetes membasahi pipiku. “Terimakasih, Suster,” ujarku pelan.

“Terimakasih Allah, ia tak pergi secepat Mas Gagah….”

Begitulah ceritanya. Hari, minggu, bulan, tahun berganti. Aku

tak pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Setiap hari, saat

pulang dan pergi dengan bus atau kereta api, entah mengapa aku

berharap bisa bertemu atau sekadar melihat sosoknya seperti

dulu. Tapi ia tak ada. Ia seperti menghilang begitu saja,

meninggalkan aku yang tak tahu kemana harus mencarinya. Dan ini

adalah rasa kehilangan keduaku yang besar, setelah kepergian Mas

Gagah.

Sebenarnya aku bertekad, bila aku bisa bertemu dengannya sekali

lagi, aku akan memberanikan diri menyapanya. Aku akan bercerita

tentang Mas Gagah, tentang kepeduliannya pada sekitar

sebagaimana lelaki tak bernama itu. Aku bahkan berencana

mengenalkan merekapada Bang Ucok, Bang Urip, Kang Asep dan

adik-adik di kolong jembatan yang dulu dibina Mas Gagah.

“Memang orangnya kayak Gagah, Mbak?” Tanya Bang Ucok, saat kami

bersama-sama membenahi buku-buku koleksi taman bacaan.

Bang Urip menatapku ingin tahu. Di depan taman bacaan mungil

ini, adik-adik kecil sibuk membuat layang-layang untuk dijual.

Aku tercenung. “Mungkin wajahnya nggak ya, Bang. Tapi apa yang

dia lakukan, kepeduliannya…entahlah. Gita merasa dekat saja

dengannya. Gita merasa spirit yang sama dalam dirinya seperti

spirit dalam diri Mas Gagah.”

Bang Urip dan Bang Ucok garuk-garuk kepala. “Jadi pengin

kenalan,” kata Bang Ucok. Bang Urip dan Kang Asep mengangguk.

“Suatu saat Gita akan ajak ia kemari, Bang, insya Allah.”

“Iya, tak ada lagi yang mengajar kami mengaji sejak Gagah tidak

ada,” ujar Bang Ucok.

“Ya iye, pada takut dipalak duluan. Lewat sini aje mereka kagak

berani,” tambah Bang Urip. “Ye, emangnye mereka Si Gagah?

Ketahuan die sinpai karate. Kita palak, malah dulu kite nyang

babak belur, trus malah diajak ngaji. Waktu kite ude kagak

mabok, kagak main judi, kagak malak orang, trus jadi orang yang

peduli ame lingkungan kite, Gagah bilang kite itu: preman insap!

Kate Gagah dulu sahabat Nabi juga banyak nyang preman. Pas insap

mereka langsung istiqomah!”

“Ah, emang lo inget artinya istiqomah?” serobot Kang Asep.

“Kayaknya konsisten, persisten, resisten!”

“Apa artinya itu, memang kau ingat? Sok anak kuliah kau kali

kau!”

Bang Urip garuk-garuk kepala, “Ya kagak sih. Gue ingat

belakangnye ten semua. Ah udeh nyang penting teguh maju jalan

lurus terus! Istiqomah ntu gitu kate si Gagah!”

“Preman insaaaap!” seru Bang Ucok.

Bang Urip dan Kang Asep langsung berdiri tegak, menyusul Bang

Ucok: “Huh huh huh huh: istiqomah!” mereka lompat-lompat sambil

mengepalkan tangan ke atas, seperti tentara yang paling

bersemangat. Seperti dulu saat masih bersama Mas Gagah. Tak jauh

di belakang mereka, anak-anak rumah baca juga melompat-lompat

melakukan hal yang sama.

Aku tersenyum. Mereka masih terus mengingat Mas Gagah dan masih

sering bercerita tentangnya, seperti aku berharap setiap kali

masih bisa menemukan sosoknya di rumah sepulang dari kuliah.

“Mbak Gita sekarang tambah ayu ya?”

“Iya, lebih kalem…”

Celutuk beberapa anak tiba-tiba, sambil mencuri-curi pandang ke

arahku.

Sudah senja. Kupeluk mereka dan segera pulang. “Nanti Mbak Gita

bawakan lagi buku yang banyak, insya Allah!” janjiku.



Lama setelah itu aku belum juga kembali bertemu dengan Si Kemeja

Kotak-kotak.

Kini aku sudah lebih rapi dalam berjilbab. Tutut yang paling

girang sampai sujud syukur segala melihat aku bertekad untuk tak

lagi pakai baju ketat atau kerudung terawang. Alhamdulillah.

Tetapi kalau mau jujur, Mas Kotak-kotak itu punya andil dalam

keislamanku, meski aku lebih teguh berjilbab bukan karena dia,

melainkan karena Allah semata.

Dan kini, tak terasa aku sudah tamat kuliah. Aku juga ingin bisa

segera bekerja, seperti teman-temanku yang lain. Bisa bermanfaat

bagi orang banyak, bukan sekadar mencari uang.

“Kenapa sih tidak kerja di perusahaan Papa saja?” tanya Papa.

Aku hanya mencium kening beliau dan berkata, “Gita mau berusaha

mandiri dulu….”

Untunglah Papa mau mengerti dan senang melihat anaknya selalu

berusaha mandiri. “Kamu akan jadi perempuan yang kuat, Gita Ayu

Pratiwi,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bahuku.

Dan hari ini aku cukup deg-degan.

Sebuah perusahaan elektronik membutuhkan tenaga marketing yang

menguasai bahasa Inggris. Aku mencoba melamar. Namanya juga

usaha. Kemarin aku sudah dipanggil untuk wawancara. Ya, siapa

tahu diterima meski kurang pengalaman, kan?

“Mbak Gita?”

Aku mengangguk.

“Mbak diminta langsung menghadap Direktur kami!” ujar

resepsionis di hadapanku.

Aku berdiri, dengan perasaan tak menentu “Direktur?” tanyaku.

“Bukan ke HRD lagi yang mbak?”

“Iya, data mbak sudah dipelajari oleh HRD kami. Wawancara oleh

HRD juga sudah kan kemarin. Ini wawancara berikutnya, Mbak.”

“Wawancara lagi?” aku tak mengerti.

“Pak Yudhistira minta Mbak langsung menghadapnya.”

“Oh,” kutepis rasa heranku.

“Silakan, Mbak,” seorang perempuan lain yang kukira sekretaris

menemaniku menuju ruang direktur.

Penuh rasa optimis aku melangkah. “Selamat pagi,” sapaku biasa,

saat melangkah masuk.

Seorang lelaki dengan kemeja kotak-kotak menjawab salamku.

Aku terperangah!

Dia juga!

Kubaca nama yang terpampang di mejanya: Yudhistira Arifin, Ph.D

-Direktur.

“Gita Ayu Pratiwi?“

Aku mengangguk.

“Saya merasa pernah melihat Anda. Di mana ya?” tanyanya tiba-

tiba.

Suaraku tercekat di kerongkongan. “ Dalam…ng… bus…, Pak….?”

Dia mengangguk. Tersenyum, berdiri, merapikan jas di bahu

bangkunya. “Mungkin di UI karena saya juga lulusan sana…,”

ujarnya simpatik. “Atau dalam bus dan kereta api?” ia tertawa.

“Barangkali malah di rumah sakit?”

Aku tersenyum, namun bingung.

“Anda tahu mengapa Anda saya panggil kemari?”

Aku menggeleng.

“Pertama, karena Anda gadis itu. Gadis yang membawa saya ke

Rumah Sakit…bertahun lalu saat peristiwa tawuran pelajar itu….”

Aku tercengang.

“Gita….subhanallah….”

Aku mengangguk, “Saya, Pak.”

“Keluar dari rumah sakit , saya diberitahu nama orang yang

menolong saya. Gita. Tak mungkin saya lupa…,”katanya lagi.

“Maaf, sesudah pemulihan, saya kesulitan menghubungi anda. Rumah

sakit juga tidak menyimpan data Anda. Saya kemudian mendapat

beasiswa kuliah di Perancis. Jadi…saya belum mengucapkan

terimakasih….”

Hening.

Tiba-tiba sekretaris yang tadi mengantarku, masuk kembali sambil

membawa beberapa map. “Pak, ada undangan mengisi ceramah dari

Departemen Keuangan, beberapa hotel berbintang dan dari

universitas di Jerman serta Australia,”

Departemen Keuangan? Hotel berbintang? Universitas di Jerman dan

Australia? Hebat sekali! Batinku.

“Jadi, kualifikasi Anda cocok dengan yang kami butuhkan.

Selamat, Gita! Anda kami terima!”

“Alhamdulillah,” kataku. “Terimakasih, Pak.”

“Kembali,” katanya ringan. “Oh ya, Gita, sekali lagi saya

ucapkan terimakasih atas pertolongan Anda. Hanya Allah yang

mampu membalasnya. Ah kalau saja Anda tidak membawa saya ke

rumah sakit waktu itu, tentu saya tak akan ada di sini

sekarang….”

“Dan mungkin saja saya tidak akan diterima bekerja di sini…,”

candaku. “ Ya, sama-sama, Pak….”

Ia tertawa.

“Panggil saya Yudi saja. Anda mulai bekerja besok. Silakan

pelajari berkas-berkas ini….”

Aku mengangguk.

“Tolong panggil OB kita ya,” katanya pada sekretarisnya

kemudian.

Aku baru akan beranjak, saat seseorang masuk. Wajah yang pernah

kulihat lagi!

“Ini Manto,” ujarnya. “OB kita yang hebat. Manto yang

mengingatkan saya akan nama Anda.”

Manto mengangguk, “Mbak Gita….”

Aku ternganga: pemuda rapi yang dulu pernah ia tangkap saat

mencopet dulu! Yang juga membantuku menolong pelajar itu!

“Setelah menasehati saya dulu, Pak Yudi mengajak saya ke sanggar

milik temannya. Kami belajar ngaji sambil membuat kerajinan

tangan. Setelah lama tak bertemu, setahun lalu, Pak Yudi

mengajak saya bekerja di sini.”

“Manto rajin dan jujur, jadi Gita bisa minta tolong apa saja

padanya,” Pak Yudi tersenyum. Aku juga.Subhanallah.

Sorenya, setelah makan bakso di sekitar (calon) kantorku, aku

naik ke Trans Jakarta tujuan Rawamangun.

Aku baru saja akan membuka berkas-berkas yang diberikan Mas

Abdul eh…Pak Yudi…, ketika satu sosok yang kukenal naik ke dalam

bus sambil tersenyum.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….”

Aku melongo. Nyaris tak percaya.

“Nak Yudi!” Seru seorang bapak. “Senang bisa mendengar Anda

lagi!”

“Ya, perjalanan panjang seakan tak berarti bersama Dik Yudi!”

seru penumpang lain.

Pak Supir tertawa. Penumpang yang lain tersenyum senang.

Aku ternganga. Dan seperti dulu, dengan gaya khasnya, ia

berbicara dan orang-orang mendengarkan.

“Apakah hakikat sabar itu, Saudaraku? Apa hakikat cinta di

tengah masyarakat kita yang kini sudah semakin tak peduli? Mau

mendengar cerita tentang cinta dan sabar? Tentang bagaimana kita

harus berjabat hati dalam membangun negeri ini?”

Semua mengangguk tanpa sadar. Aku juga.

Dan seperti tahun-tahun lalu pula… kata-katanya begitu menyentuh

dan berpengaruh, mengingatkanku pada sosok yang seperti terus

berada dalam rinduku….

“Ajari saya… Islam. Saya mau… mengaji, Nak,” bisik seorang Ibu

berwajah Chinese yang duduk tepat di sampingku, saat Yudi baru

saja menyudahi ceramahnya.

Aku haru.

Dari balik kacamatanya, kulihat mata lelaki berkemeja kotak-

kotak rapi itu berkaca-kaca. Selalu, seperti dulu, saat pertama

kali aku menatapnya.

Angin tak ada, dibungkam AC bus Trans Jakarta, namun semilirnya

menyelusup dalam batinku. Sejuk. Lelaki itu mengangguk padaku,

tersenyum lama.

Dalam senja yang temaram, dari balik jendela busway, kulihat Mas

Gagah di antara kerumunan orang yang menunggu bus. Wajahnya

cerah.



Dan jadilah muslimah sejati

yang selalu mengedepankan nurani

Agar Allah selalu besertamu.



Ingat Islam itu indah…

Islam itu cinta…



(Jakarta-Depok, 1993-2011)(Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »