Fitriani, Anak Buruh Cuci dengan Prestasi Dunia

Fitriani, Anak Buruh Cuci dengan Prestasi Dunia - MUDA dan punya prestasi kelas dunia. Itulah Fitriani (17), pebulutangkis muda Indonesia. Batapa tidak, gadis kelahiran Garut, Jawa Barat itu sudah menorehkan berbagai prestasi yang gemilang di kancah internasional.



Namanya digadang-gadang sebagai penerus srikandi bulutangkis dunia asal Tasikmalaya, Susi Susanti. PBSI sudah melihat bakat Fitriani sebagai atlet andal, ia telah dipercaya PBSI untuk menghuni pelatnas sejak tahun 2015 atau ketika masih berumur 16 tahun!

Atlet kelahiran 27 Desember 1998 ini merupakan pemain tunggal putri muda yang berasal dari grup PB Exist. Prestasinya berkibar saat mengikuti turnamen Singapore International Challenge kala usianya belum genap 15 tahun. Ketika itu Fitriani bergabung dengan pemain lainnya yang lebih dulu meniti karier di grup U-17 dan mampu meraih babak final pada kelas tersebut.



Harusnya  saat itu Fitri masuk ke dalam kelas U-15. Namun kuota itu sudah penuh. Ia terus melaju sampai ke kancah Internasional Junior, seperti Kejuaraan Junior Asia di Malaysia, Internasional Challenge di Bahrain, dan Kejuaraan Sirnas di Jakarta, Balikpapan dan Bandung. Ia sering menjadi juara di olimpiade mengalahkan pemain muda asing, maupun pemain senior  berpengalaman.

“Cita-cita saya dari dulu ingin masuk pelatnas. Dan, jika Allah mengizinkan saya ingin menjadi juara dunia, kalau target tahunnya belum bisa pastikan karena poin saya sampai sekarang juga masih sedikit. Makanya paling memungkinkan, perbanyak turnamen yang diikuti,” terang penggemar berat Susi Susanti ini.

Dukungan Keluarga
Fitriani  tidak dibesarkan di lingkungan keluarga yang kaya raya. Ayahnya Dede Abdul Rohman dan ibunya yang bernama Eti Sukmiati, merupakan tenaga pencuci baju di klub Exist, klub Fitri dan kakaknya bernaung. Sebelumnya kedua orangtuanya itu berprofesi sebagai pedagang asongan.

Fitriani tak pernah malu dengan background keluarganya. Sebaliknya, ia merasa sangat bangga. “Ngapain malu, aku juga bisa seperti sekarang berkat jasa mereka juga. Bapak ibu kerjanya pedagang kaki lima, itu waktu aku masih kecil. Nah, pas saya pindah dari klub Genesha ke Exist, baru ayah ibu juga ikut pindah. Kami menginap di asrama bersama-sama. Bapak ibu di sana juga kerjanya bantu-bantu cuci baju atlet di sana,” papar Fitri yang selalu tampil bersahaja ini.

Lanjut Fitri, ia juga membenarkan tertarik menekuni bulutangkis juga karena keluarga. Sang kakak, Rohmat Abdul, lebih dulu terjun ke dunia bulutangkis. Malah, sang kakak pula yang selalu memberikan masukan-masukan positif.

“Pertamanya sering lihat kakak berlatih di klub Exist, lama-lama aku tertarik. Aku juga sering dapat teguran dari kakak lewat telepon,” urai Fitriani.

Fitriani sukses memutarbalikkan fakta. Untuk punya prestasi internasional, tak harus dari keluarga kaya raya. Hanya bermodalkan semangat dan talenta yang luar biasa, ia bisa mendulang prestasi yang menduni. (Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »