Tinggali Rumah Separuh Indonesia dan Malaysia

Tinggali Rumah Separuh Indonesia dan Malaysia - Pulau Sebatik adalah pulau terdepan dari Kalimantan Utara, wilayah utaranya milik Malaysia sedangkan selatannya milik Indonesia. Salah satu rumah di perbatasan Indonesia - Malaysia terletak di Pulau Sebatik sangat unik. Uniknya rumah itu karena ruang utamanya di wilayah Indonesia, dan dapurnya di Malaysia.



"Iya rumah saya ini sudah lama dari tahun 1977, saya warga Indonesia. Sebenarnya tanah belakang rumah saya ini punya tetangga Malaysia, sudah kenal dekat. Bagian dapur dibolehkan sama tetangga untuk dibangun, dia baik tapi sekarang sudah meninggal," kata pemilik rumah bernama Mangapara, di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, Rabu (17/2/2016).



Rumah Mangapara terletak persis di tugu patok 3 yang menandakan tepatnya perbatasan Indonesia - Malaysia. Perbatasan itu dibatasi dengan tiang bendera merah putih kecil yang bertuliskan P3 (patok 3). Rumah Mangapara ini dicat bewarna Merah Putih sebagai tanda perbatasan Indonesia oleh salah satu provider seluler yang beroperasi di Indonesia.

Di samping tiang pendek itu ada tiang bendera merah putih yang lebih tinggi yang bertuliskan 'Kokohkan Merah Putih di Tapal Batas'. Di sebelah tiang itu ada pos TNI AD yang menjaga perbatasan.



Mangapara lahir sejak 1961, pria asal Sulawesi Selatan ini mengaku lebih sering membeli kebutuhan pokoknya ke Malaysia daripada dari Indonesia karena alasan jarak yang lebih dekat. Ia tinggal menyewa speedboat yang ada di belakang rumah, tetapi karena paspor miliknya telah lama mati kalau mau membeli keperluannya ia titip ke tetangganya yang punya dokumen lengkap.

"Alasan saya suka belanja ke Malaysia itu karena dekatnya. Jauhnya perjalanan kalau harus ke Nunukan atau ke Tarakan. Kalau soal mahal, mahalnya enggak beda jauh dengan Indonesia, tapi kalau ke Malaysia setengah jam juga sampai, sedangkan kalau ke Nunukan dan Tarakan pakai speedboat lebih mahal, jaraknya bisa berjam-jam," ungkap Mangapara.

Ia mengaku kalau ke Malaysia dapat ditempuh sekitar 15-30 menit dari belakang rumahnya yang telah tersedia penyewaan speedboat. Sedangkan kalau ke Nunukan dan Tarakan harus menempuh perjalanan darat sepanjang 30 menit untuk sampai pelabuhan dan menempuh 30 menit lagi menyeberang ke Nunukan. Kemudian kalau dari Nunukan ke Tarakan bisa menempuh waktu 2,5 jam menggunakan speedboat sehingga hal itu kurang efisien menurut Mangapara.

Untuk ke Malaysia tepatnya kota Tawau, WNI yang mau masuk ke sana harus menggunakan paspor. Paspor milik Mangapara sudah lama mati, ia mengaku menitip ke tetangganya yang hendak ke Tawau untuk membeli keperluannya, misal minyak goreng, tapi kalau barang dengan jumlah sedikit ia hanya mencari di pasar.

"Sekarang pemerintahnya ketat, harus ada dokumen-dokumen kalau mau masuk Malaysia. Kalau mau lengkap lagi kami harus mengeluarkan uang satu juta rupiah baru sampai di Tawau (Program Poros Sentra Pelatihan dan Pemberdayaan Daerah Perbatasan di Kabupaten Nunukan). Itu pun harus ke Nunukan dulu, padahal kalau dari sini naik speedboat saja Rp 150 ribu sudah sampai Malaysia, lebih dekat lagi," paparnya.

"Iya sudah tahu kalau mau masuk secara resmi ke Nunukan dulu. Kalau dulu sudah bisa secara resmi berangkat dari sini ke Malaysia, tapi sekarang dihapuskan. Kalau dulu boleh sekarang enggak boleh artinya menyengsarakan masyarakat. Mudah-mudahan pemerintah yang akan datang membantu masyarakat memudahkan masyarakat mengurus dokumen ke seberang. Boleh mengurus masyarakat, memudahkan masyarakat menyeberang," tuturnya.

Ia berharap kalau di Pulau Sebatik ada toko Indonesia yang menjual kebutuhan pokok dengan harga tidak jauh dari Malaysia. Ia sangat berharap kalau pemerintah membantu rakyat di perbatasan ini untuk dapat berbelanja kebutuhan pokok dengan harga yang murah dan dekat.

Di Pulau Sebatik ini masyarakarnya menggunakan dua mata uang, mereka bisa memakai Ringgit dan Rupiah sekaligus. Penggunaan Ringgit diberlakukan karena untuk digunakan para pedagang untuk ke Malaysia sebagai modal berbelanja lagi.

Dukanya tinggal di perbatasan selain keperluan bahan pokok ada juga kebutuhan air bersih. Mangapara sering membeli air bersih seharga 70 ribu satu tangkinya untuk digunakan mandi dan mencuci.

Sementara aliran listrik di Sebatik menurutnya sudah lebih baik daripada dulu karena sudah jarang mati lampu. "Paling hanya beberapa jam," imbuhnya.

Saluran tv dan sinyal handphone pun menurutnya bisa menangkap sinyal dari Indonesia dan Malaysia. Untuk acara televisi, ia mengaku lebih suka siaran tv Indonesia karena lebih bervariasi berita dan hiburannya. (Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »