Dua Sahabat Kembangkan SLiMS

Dua Sahabat Kembangkan SLiMS - Berawal untuk memenuhi kebutuhan sendiri bagi Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, dua sahabat lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) membuat program Senayan Library Management System (SLiMS). Program open source katalogisasi buku digital ini menjadi framework teknologi informasi (TI) bagi solusi manajemen perpustakaan.

Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha, dua sahabat itu, mulai mengembangkan SLiMS pada Februari 2007 dan dirilis ke publik pada Desember 2007. Dengan desain berbasis web, kompatibel dengan standar kepustakawanan dan standar terbuka di dunia TI, sekarang SLiMS sudah digunakan di berbagai perpustakaan di dalam dan luar negeri. “Per April 2009 saja yang menggunakan SLiMS sudah 500 ribu lebih,” ujar Hendro.



Pengguna SLiMS antara lain Fakultas Ekonomi UI, Fakultas Kedokteran UI, Universitas Syah Kuala Aceh, Universitas Andalas, Universitas Riau, Universitas Sriwijaya, Universitas Lampung, dan Universitas Islam Negeri Padangsidimpuan. Sementara di Jawa Timur semua perguruan tinggi Islam sudah menggunakan SLiMS. Bahkan, software ini sudah dipakai di berbagai perpustakaan di luar negeri seperti di Banglasdeh, Thailand dan Italia. “Itu yang terdeteksi oleh kami,” kata Hendro, pustakawan di Perpustakaan Kemendikbud dan dosen di Universitas Islam Negeri Jakarta.

Pertama kali SLiMS dibuat untuk mengatalogisasi buku-buku hibah British Council ke Perpustakaan Kemendikbud. Software yang digunakan saat itu diperoleh dari British Council dengan sistem sewa karena software tersebut tidak open source. Jadi, kalau tidak membayar sewa yang lumayan mahal, pengguna tidak bisa mendapat serial number baru untuk bisa menggunakannya.

“Kalau di Indonesia orang berjualan software dengan harga tinggi, mungkin hanya kalangan tertentu yang bisa membeli dan menggunakan,” ujar Arie. Namun kalau open source, proses pengembangannya bisa diserahkan kepada komunitas, seperti SLiMS yang sudah memiliki komunitas sendiri. “Yang penting, mereka tidak mengubah copy right-nya. Dan, kami pun sering diundang pelatihan, kustomisasi software, serta menambahkan fitur,” kata dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan UI ini. Arie kerap dipanggil ke luar negeri untuk memberikan konsultasi atau seminar tentang SLiM di beberapa lembaga di luar negeri. Artinya, berkat SLiMS, para pengembang software yang kini membentuk sebuah tim beranggotakan 10 orang ini kerap kebanjiran order sebagai tenaga konsultan untuk membangun perpustakaan digital di dalam negeri dan luar negeri.

Keduanya belum mendirikan perusahaan (PT) khusus untuk SLiMS, tetapi masih sebatas menjadi konsultan. Dan, dari situlah pundi-pundi uang mengalir. “Saat ini kami masih dalam bentuk tim, belum perusahaan. Ada rencana mengembangkan ke perusahaan, tetapi yang terpenting kami memperoleh user dulu. Ketika user-nya sudah banyak, yang mengenal kami juga akan lebih banyak lagi,” ujar Hendro. Namun dari sisi hitungan personal dan tim developer kalau menangani proyek dari user, saat ni pihaknya sudah kewalahan. Meski demikian, ia belum terlalu yakin apakah dengan jumlah user yang ada sekarang sudah cukup mampu menghidupkan satu perusahaan.

Saat ini pemasarannya masih dari mulut ke mulut atau lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter yang digunakan untuk berpromosi ketika meliris versi terbaru SLiMS. Atau, misalnya komunitas SLiMS Yogyakarta sedang kumpul untuk mengadakan pelatihan bersama, maka SLiMS versi terbaru bisa dipromosikan. “Komunitas SLiMS saat ini sudah banyak seperti di Yogyakarta, Makassar, Lampung, Semarang, Surabaya. Yang paling banyak, di Yogyakarta,” kata Hendro.

Dwi Fajar Saputra, pustakawan dari Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, mengatakan, pihaknya sudah menggunakan SLiMS sejak 2010. Alasannya, karena memang pada saat itu yang sedang happening adalah SLiMS. “Yang saya lihat, SLiMS mempunyai keunggulan tersendiri; mempunyai tim developer yang cukup solid. Dan, mereka semua memang passion-nya di situ, sehingga tim developer-nya memiliki komitmen yang tinggi,” ucap Dwi memuji.

Karena aplikasi ini sifatnya open source, tidak ada biaya yang dikenakan untuk menggunakannya. “Selain itu, saya juga menginstalnya sendiri dan saya memang suka mengutak-atik sendiri. Kalaupun ada masalah, biasanya saya suka tanya-tanya ke komunitas SLiMS. Kan ada grup WhatsApp- nya. Jadi, kami bisa saling sharing bersama,” ungkapnya menceritakan.

Ke depan, SLiMS akan terus dikembangkan. “Setiap tahun kami berharap selalu ada rilis, ada versi terbaru. Kami terus melihat tren di internasional dan standarnya seperti apa untuk perpustakaan dan kami coba aplikasikan,” kata Ari yang juga berharap SLiMS dapat terus berkembang dengan fitur yang lebih lengkap dan dapat dgunakan di banyak tempat.(Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »