Siswa Tuna Rungu, Raih Juara IT Se-Asia Pasifik

Siswa Tuna Rungu, Raih Juara IT Se-Asia Pasifik - Ada wajah berbeda dalam pelaksanaan Unas 2016 di SMK Muhammadiyah 3 Jogja. Secara teknis, sekolah ini menerapkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Hari ketiga pelaksanaan ujian, seluruh siswa berada di laboratorium komputer untuk mata uji Bahasa Inggris.




Tapi, UNBK ini tak berlaku bagi dua siswa SMK Muhammadiyah 3 Jogja, Kurnia Khoirul Candra dan Dhavyn Linggar Jati. Keduanya justru tidak berada di laboratorium komputer untuk mengikuti ujian. Keduanya mengerjakan soal di ruang pengawas ujian.

Bukan tanpa alasan keduanya mengerjakan unas di ruang pengawas. Perlakuan khusus ini diberikan karena keduanya merupakan siswa anak berkebutuhan khusus (ABK). Kurnia Khoirul Candra dan Dhavyn Linggar Jati merupakan siswa dengan tunarungu.

”Mereka pindah ke sini (ruang pengawas) karena materi ujian hari ini (Bahasa Inggris) ada listening-nya. Jadi ini kendala buat mereka, sehingga sesuai kebijakan sekolah, mereka menempuh paper based test (PBT),” kata Koordinator Inklusi SMK Muhammadiyah 3 Jogja Muhaimin SAg MPd, Rabu (6/4).

UNBK memang mengandalkan komputer sebagai perangkat ujian. Salah satu materi dalam mata uji Bahasa Inggris yakni listening. Setiap siswa mengenakan headset untuk mendengarkan percakapan. Tentu ini menjadi kendala bagi keduanya.

Kendati begitu, permasalahan ini tidak menyurutkan semangat keduanya dalam melaksanakan unas. Ujian PBT pun menyesuaikan jadwal pada hari itu, yaitu pada pagi hari khususnya di sesi pertama. Sedangkan, untuk mata uji Bahasa Inggris dalam UNBK baru dilaksanakan pada sesi kedua.

”Jadi kami menyesuaikan dengan jadwal mata uji PBT. Sebab, dalam amplop yang kami terima jadwalnya pukul 07.30 WIB. Sehingga kami majukan untuk ujian di sesi pertama,” jelas Muhaimin.

Ujian di ruang pengawas ternyata tidak menyiutkan nyali mereka. Keduanya terlihat enjoy dalam mengerjakan soal Bahasa Inggris tersebut. Sebanyak 50 soal dapat mereka selesaikan tepat waktu. Meski tidak sama dengan UNBK, tapi mereka tak mengalami kendala berarti.

Ditemui di sekolahnya usai melaksanakan ujian, Kurnia Khoirul Candra menuturkan, tidak ada masalah selama mengerjakan PBT. Meski diakui olehnya mengerjakan dengan PBT memerlukan waktu ekstra. Ini karena dia harus lebih teliti dalam membundari jawaban.

”Tetap enak pakai komputer karena lebih cepat dan tidak repot. Kalau pakai kertas makan waktu untuk membundari setiap jawaban yang dipilih. Kalau komputer kan tinggal klik saja,” kata Candra, sapaannya, dengan bahasa isyarat.

Dalam UNBK, soal listening bahasa Inggris terdiri dari 15 pertanyaan. Khusus untuk keduanya soal ini dihadirkan secara visual. Sayangnya, visual yang dihadirkan kurang begitu jelas. Sehingga beberapa susah untuk mereka terjemahkan.

”Secara materi sebenarnya juga tidak sulit, hanya ada dua soal bergambar yang tidak jelas. Jadi  saya menjawab asal saja,” ucapnya lantas tertawa.

Untuk komunikasi keseharian Candra tidak mengalami kendala berarti. Bahkan komunikasi dengan teman-temannya juga sangat lancar. Ini karena Candra memiliki kemampuan membaca gerak bibir. Sehingga tanpa mendengar visual, dia bisa menangkap perbincangan.
Candra memiliki impian bisa melanjutkan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Dia pun telah mendaftarkan diri melalui SNMPTN untuk kuliah di UGM atau UIN Sunan Kalijaga. Sama halnya dengan jurusan yang dia pilih di SMK,Candra ingin melanjutkan di jurusan Teknologi Informatika (TI).

”Saya punya cita-cita ingin jadi insinyur yang bisa membuat teknologi bidang informasi khusus untuk orang tunarungu. Agar bisa membantu teman-teman yang seperti saya bisa berkomunikasi dengan lancar,” ungkapnya.

Prestasi siswa kelahiran Temanggung, 7 Oktober 1995 ini segudang. Saat masih duduk di bangku kelas X tepatnya 2014, dia mengikuti Olimpiade Siswa Nasional bidang TI khusus ABK hingga ke tingkat nasional. Tahun 2015, saat kelas XI, Candra menjadi juara umum ajang Global IT Challenge tingkat nasional. Prestasi ini mengantarkannya mewakili Indonesia ke ajang yang sama di tingkat Asia Pasific. Di tingkat Asia Pasific, Candra mampu berprestasi dengan membawa pulang satu medali perak dan satu medali perunggu.

Sama dengan temannya, Dhavyn Linggar Jati juga tak menemui kendala berarti. Bahkan siswa kelahiran Kulonprogo, 5 Januari 1995 ini bisa selesai sebelum batas waktu. Toleransi waktu yang diberikan bagi siswa ABK juga tak digunakan.

”Tidak ada kendala, cuma penyesuaian mengerjakan dengan kertas. Sama seperti Candra ada beberapa gambar yang tidak jelas. Jadi jawabnya juga asal saja,” ungkapnya.
SMK Muhammadiyah 3 Jogja sendiri merupakan sekolah inklusi. Sejak 2009 sudah diterapkan. Tahun ini untuk UNBK sekolah ini memiliki dua siswa inklusi. Jumlah ini akan bertambah di tahun depan, sebab SMK Muhammadiyah 3 Jogja memiliki lima siswa inklusi yang masih duduk di kelas dua.(Hanya di Indonesia)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »