KH Masjkur, Menteri Agama dan panglima Laskar Sabilillah asal Malang

Add Comment
KH Masjkur, Menteri Agama dan panglima Laskar Sabilillah asal Malang - KH Masjkur merupakan arek Malang yang setia menjadi pembela bagi agama Islam dan negara Republik Indonesia.

Sebagai salah satu kota yang identik dengan pemberontakan dan melahirkan banyak pejuang, di era revolusi fisik, Malang juga memiliki seorang pahlawan nasional yang patut dikenang. Tidak hanya membantu Indonesia lepas dari cengkeraman asing, tokoh yang satu ini juga pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Tokoh yang dimaksud ini adalah KH Masjkur yang lahir di Singosari Malang dan turut mendirikan pesantren di daerah itu.

Pada masa kecilnya, Maskjur muda sudah diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci pada umur 9 tahun. Kembalinya dari tanah suci, Maskjur kemudian disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH Thohir. Selanjutnya dia melanjutkan pendidikan di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo.



Di masa mudanya, KH Masjkur telah berkelana ke berbagai pesantren dan ulama pada masa itu seperti berguru ilmu hadist dan tafsir dari KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng Jombang, serta pada kiai Kholil di Bangkalan Madura. Selain itu dia juga sempat belajar di Madrasah Mamba'ul Ulum, Jamsaren, Solo, Pesantren Siwalan Panci, dan Pesantren Ngamplang, Garut.

Selepas menimba ilmu di berbagai pesantren, KH Masjkur kembali ke Singosari dan membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Wathan pada tahun 1923. Pada tahun yang sama pula, KH Masjkur menikah dengan cucu dari gurunya, KH Thohir di pesantren Bungkuk. KH Masjkur juga turut aktif pada pendirian Nahdlatul Ulama dan menjadi ketua cabang NU kota Malang pada tahun 1932.

Pada masa-masa awal saat aktif di NU ini KH Masjkur atas saran dari KH Wahab Chasbullah dia mengubah nama pesantrennya menjadi Nahdlatul Wathan yang berarti kebangkitan tanah air. Pada tahun 1938, KH Masjkur diangkat sebagai salah satu Pengurus Besar NU yang berpusat di Surabaya.

Karier militer KH Masjkur bermula ketika pada zaman Jepang dia ditunjuk menjadi utusan Karesidenan Malang untuk mengikuti latihan kemiliteran di Bogor yang kemudian disusul dengan latihan khusus bagi ulama. Pada saat itu, KH Masjkur menjado komando Laskar Sabilillah yang merupakan jaringan pejuang pesantren untuk merebut kemerdekaan.

Pada masa itu, laskar Sabilillah berkoordinasi dengan laskar Hizbullah yang memiliki tujuan yang sama untuk merebut kemerdekaan. Peranan dari kedua laskar ini sangat penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan terutama ketika meletus perlawanan di Surabaya pada november 1945. Dalam pertempuran tersebut, KH Masjkur dengan gigih berjuang dan menjadi komandan dari berbagai laskar untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Selain sebagai panglima laskar, KH Masjkur juga sempat menyandang sebuah jabatan yang cukup tinggi di pemerintahan. Dia sempat empat kali menjadi Menteri Agama secara berturut-turut pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidenssil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI.

Sempat mundur dari posisi Menteri Agama akibat sakit yang dideritanya saat gerilya, namun pada masa kabinet Ali (1953-1955), KH Masjkur kembali ke jabatan tersebut. Uniknya, walau ketika itu menjabat sebagai menteri namun KH Masjkur juga beberapa kali tetap ikut membantu dan ikut bergerilya bersama pejuang lainnya.

Selain sebagai panglima Laskar Sabilillah dan Menteri Agama, KH Maskjur pernah menduduki berbagai posisi penting lainnya yaitu Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, anggota Syou Sangkai (DPRD) pada masa pendudukan Jepang, anggota PPKI dan konstituate yang merumuskan dasar negara. Pada periode 1978-1983, KH Masjkur juga sempat menjadi Wakil Ketua DPD RI.

Pada tahun 1992, KH Masjkur menghembuskan napas terakhir. Beliau dimakamkan di kompleks pemakanan yang terletak di Masjid Bungkuk, Singosari Malang. Sepanjang hidupnya, KH Masjkur telah menjadi teladan bagi banyak arek Malang untuk menjadi pejuang agama sekaligus pelindung dari negara Indonesia ini.
(Hanya di Indonesia)

Selecta, Tempat Liburan Para Tuan dan Nyonya Belanda

Add Comment
Selecta, Tempat Liburan Para Tuan dan Nyonya Belanda - Sejak awal didirikan, Malang sebenarnya telah diplot sebagai sebuah kota peristirahatan yang nyaman pada Hindia Belanda. Namun rupanya karena pertumbuhan perkebunan dan pertanian yang ada di wilayah sekitarnya, kota Malang semakin tumbuh cepat pada sekitar dekade 1910 dan 1920-an. Kota yang pada mulanya direncanakan sebagai peristirahatan ternyata berubah semakin besar dan padat penduduk.

Pada saat itu, kota peristirahatan yang sebelumnya di Malang mulai bergeser ke arah barat tepatnya di kota Batu saat ini. Udaranya yang cukup dingin serta bentang alamnya yang unik dan dikepung oleh gunung-gunung membuat Batu mendapat julukan sebagai De kleine Switzerland atau Swiss kecil.



Di Batu sendiri, tempat wisata yang sudah cukup berumur dan dibangun oleh dan pada masa pendudukan Belanda adalah taman rekreasi Selecta yang terletak di desa Tulungrejo, kecamatan Bumiaji. Lokasinya yang indah dan sejuk menjadikan tempat rekreasi yang sudah memiliki usia puluhan tahun ini sudah menjadi idola sejak zaman dahulu.

Selecta sendiri didirikan oleh seorang warga Belanda bernama De reyter De Wild pada tahun 1928. Bangunan lama di Selecta ini saat ini masih terlihat di beberapa bagian di kolam renang serta pada beberapa wisma peristirahatan serta kantor yang terletak di wilayah tersebut.

Pada awal didirikan, tempat ini sesungguhnya merupakan hotel yang dilengkapi oleh kolam renang dan taman. Awalnya nama yang digunakan adalah Selectie yang memiliki arti pilihan. Lambat laun, nama Selectie ini kemudian berubah menjadi Selecta seperti yang kita kenal saat ini.

Bangunan di Selecta ini sempat berpindah kepemilikikan selama beberapa kali. Pada masa pendudukan Jepang, hotel Selecta sempat dikelola oleh warga negara Jepang bernama Hashiguchi. Selanjutnya tempat ini juga sempat dihancurkan pada masa revolusi fisik karena dianggap sebagai milik Belanda. Namun pada sekitar 1950, Selecta mulai dibangun kembali oleh masyarakat sekitar dan tetap terjaga hingga saat ini.

Setelah dibangun ulang, pada tahun 1954, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah berkunjung dan menginap di Selecta. Waktu itu Bung Karno menginap di salah satu villa yang berada di sana yang bernama Villa De Brandarice yang kemudian berganti nama menjadi Villa Bima Sakti.

Udara yang segar serta suhu air yang membuat tubuh menggigil merupakan daya tarik yang dimiliki Selecta. Tidak heran jika sejak masa lalu hingga kini setiap liburan tiba tempat ini seakan tidak pernah sepi dan absen dari pengunjung. Baik yang menginap, bermain, ataupun berfoto di taman bunganya yang tak kalah terkenalnya.

Menuju Selecta juga dapat dikatakan cukup mudah karena akses jalan yang bagus serta adanya angkutan umum. Dari alun-alun kota Batu sendiri, Selecta hanya berjarak enam kilometer di sebelah utara. Di sepanjang jalan di Selecta kita juga akan disambut jajaran bungan yang indah serta hawa yang sejuk.(Hanya di Indonesia)

Cerita Ilmu Kebal Mantan Wakapolri, Bapak Jusuf Manggabarani

Add Comment
Cerita Ilmu Kebal Mantan Wakapolri, Bapak Jusuf Manggabarani- "Biar Jusuf Manggabarani saja ke Palopo dari pada Kapolwiltabes Bandung. Enak benar dia di Bandung itu." Kata-kata itu dikeluarkan oleh seorang petinggi Polri yang mengatur penempatan personel.


Situasi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, tengah memanas. Jusuf digeser karena memiliki pengalaman di daerah konflik. Dia juga merupakan pria asli Makassar, kurang lebih mengetahui lokasi dan tabiat warga di kawasan tersebut.

Satu pekerjaan rumah harus diselesaikan, yakni menghadapi begundal bernama Sukri. Sudah 16 tahun Sukri berkuasa. Tak ada satu pun polisi berani menerima tantangannya untuk baku tembak dari jarak dekat.

Bukan Jusuf namanya jika ciut menghadapi yang model begini. Saat itu dia berpangkat komisaris besar (Kombes). Dengan naik trail dan pakaian Brimob, Jusuf selempangkan senjatanya. Dia tancap gas membelah jalan raya menuju Mangkutana.

Sampai di lapangan Sukri sudah menunggu dengan senjata rakitan Pa'Poro. Jarak tembak maksimum 45 meter. Keduanya pun bersiap melepaskan timah panas. Hidup atau mati tergantung nasib.

Anak buah Jusuf diam-diam ikut. Sukri juga ditemani para loyalisnya. Lalu Jusuf membuka kancing bajunya. Ditunjuk dadanya sebagai sasaran tembak.

"Terserah kamu mau tembak bagian mana yang enak-enak," tantangnya dikutip merdeka.com dari buku 'Jusuf Manggabarani Cahaya Bhayangkara' karya Nur Iskandar.

Ajudan Jusuf gamang. Ada juga yang teriak, 'jangan komandan'. Yusuf membalas, "ah kau nonton saja," kata polisi yang pernah tugas di Aceh, Kalimantan dan Timor Timur ini.

"Isi pelurumu sebanyak-banyaknya! Pilih yang besar-besar agar mantap nembaknya," kata Jusuf sesumbar.

Setelah semua siap suasana hening. Situasi berubah setelah terdengar letusan tembakan, dor, dor, dor. Ternyata Sukri lebih awal menembak. Tewaskah Jusuf?

Ternyata timah panas itu berguguran di depan Jusuf. Semakin banyak peluru dimuntahkan, makin berjatuhan peluru itu. Para anggota pun bersorak melihat kejadian ajaib itu. Mereka terheran-heran dengan kemampuan sang komandan.

"Pelurunya jatuh tuh. Sekarang giliran saya ya," kata Jusuf membuat lutut Sukri gemetar. Dor! Sukri tak berdaya, lengannya ditembus timah panas.

Jusuf mendekati Sukri. Selongsong pelurunya dibuka lalu serbuk timahnya dibubuhi ke lubang tembakan. Dia menyuruh anak buahnya untuk membawa sang jagoan kampung ke rumah sakit.

Sesuai komitmen, jika kalah Sukri yang dikenal sebagai beking preman di kawasan perkebunan kakao berserta anak buahnya menyerah. Ada puluhan yang bertekuk lutut, tetapi lima saja yang diperiksa. Kepala desa juga diciduk karena terlibat kejahatan Sukri.

Sejak kejadian itu menyebar dengan cepat jika Jusuf punya ilmu kebal. Banyak yang datang 'menyembah-nyembah' Jusuf agar diturunkan ilmu tirai. Menurutnya, untuk menguasai ilmu itu harus memiliki nyali. "Kalau pelurunya nyampai betul wah tewas kita," ujarnya sambil tertawa.

Kapolda Sulawesi Selatan saat itu rupanya penasaran juga dengan kemampuan Jusuf. Dia bertanya langsung ketika Jusuf melaporkan kejadian tersebut. "Sebentar saja ditangani komandan. Diskresi di lapangan," kata Jusuf.

"Saya dengar kamu ada ilmu tirai?" tanya sang Kapolda.

"Ah itu ilmu naksir jarak saja komandan. Kalau mata kurang jelas itu sudah 60 meter. Saya suruh dia berdiri di jarak 60 meter. Saya mundur sedikit, maka aman," jawab Jusuf.

Sang Kapolda pun tertawa mendengar itu. Jusuf memang dikenal agak nyeleneh, gimana tidak seorang Wakapolda meladeni tantangan Sukri si preman kampung.

Setelah itu kariernya terus melesat. Jusuf sempat menjadi Dansat Brimob, lalu Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sulsel. Lalu, dia menjabat sebagai Kadiv Propam dan Irwasum.

Jusuf merupakan jebolan Akademi Kepolisian 1975. Dia pensiun dengan pangkat komisaris jenderal (Komjen). Jabatan terakhirnya adalah Wakapolri.(Hanya di Indonesia)